http://taufikurahman.wordpress.com

--- On Wed, 9/24/08, Taura <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Taura <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Asasi] [Fwd: Cinta Laki-Laki Biasa]
To: "Asasi" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, September 24, 2008, 4:50 AM










    
            

http://taufikurahma n.wordpress. com

--- On Wed, 9/24/08, Lukman Aroean <lukaroinjapan@ yahoo.com> wrote:

--- On Wed, 24/9/08, Setyo Soekarsono <[EMAIL PROTECTED] net.id> wrote:

From: Setyo Soekarsono <[EMAIL PROTECTED] net.id>
Subject: [angkatan80itb] Fwd: [iapitb][Fwd: Cinta Laki-Laki Biasa]
To: "M80 itb" <[EMAIL PROTECTED]>, "PM" <[EMAIL PROTECTED] net.id>, 
"Angkatan80itb" <angkatan80itb@ yahoogroups. com>
Cc: "Hilman Fachruddin" <[EMAIL PROTECTED] co.id>, "Hetty Setyo" <[EMAIL 
PROTECTED] net.id>
Date: Wednesday, 24 September, 2008, 12:25 PM




penulis tidak menuliskan hikmahnya karena menurut saya hikmah dari cerita ini 
bisa berbeda2 tergantung pada sisi mana melihatnya.



Begin forwarded message:



From: Agung Wiryawinaka <[EMAIL PROTECTED] com>
Date: September 23, 2008 9:07:04 PM GMT+07:00
To: DKI peradah <[EMAIL PROTECTED] ups.com>, [EMAIL PROTECTED] ps.com, Alumni 
ITB98 <itb98-subscribe@ yahoogroups. com>, alumni PN <[EMAIL PROTECTED]
 com>
Subject: [iapitb] Fw: Trs: [Fwd: Cinta Laki-Laki Biasa]
Reply-To: [EMAIL PROTECTED] com







> ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
> 
> Cinta Laki-Laki Biasa
> 
> MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan
> alasan kenapa dia
> mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke
> belakang,
> hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan
> yang terjadi
> bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak
> orang, Papa dan
> Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka
> ternyata sama
> herannya.
> 
> "Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan
> surat undangan.
> 
> Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin
> menikmati hari-hari
>
 sidang
 yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
> Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.
> 
> Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya
> berpijar bagaikan
> lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai
> kata-kata yang
> barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut
> Nania terbuka.
> Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana.
> Ia hanya
> menarik nafas, mencoba bicara dan menyadari, dia tak punya
> kata-kata!
> 
> Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban,
> alasan detil
> dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu.
> Tapi kejadian
> di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara
> mendadak gagap.
> Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat
 Nania
> menyampaikan keinginan
> Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap
> momen yang tepat
> karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga,
> sebab
> kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut
> mereka.
> 
> "Kamu pasti bercanda!"
> Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah
> kakak tertua,
> disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan
> terakhir dari Papa
> dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika
> mengira Nania
> bercanda.
> 
> Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan
> keponakan-keponakan Nania yang
> balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua
> menatap Nania.
> "Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak,
> apa lucunya
 jika
 Rafli
> memang melamarnya.
> 
> "Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas,
> "Papa hanya tidak
> mengira Rafli
> berani melamar anak Papa yang paling cantik!"
> 
> Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan
> adalah pertanda
> baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah
> itu
> berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti
> tatapan mata penuh
> selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk
> layaknya
> pesakitan.
> 
> "Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama
> mengambil inisiatif
> bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa,
> "Maksud Mama siapa
> saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak
> harus
 iya,
 toh?"
> 
> Nania terkesima.
> "Kenapa?"
> 
> Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling
> berprestasi
> dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba
> beladiri. Kamu
> juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi
> seprovinsi. Suaramu
> bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih
> gelar insinyur.
> Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa
> mendapatkan
> laki-laki manapun yang kamu mau!
> 
> Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi,
> Papa,
> kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan
> panjang uraian
> mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania
> lontarkan.
> 
> "Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan
> airmata mengambang di
> kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak
> suka,
> melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang
> mencapai stadium
> empat. Parah.
> 
> "Tapi kenapa?"
> 
> 
> Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa,
> dengan pendidikan
> biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang
> amat sangat
> biasa.
> 
> Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
> "Tak ada yang
> bisa dilihat pada dia, Nania!"
> 
> Cukup!
 Nania menjadi
 marah. Tidak pada tempatnya
> ukuran-ukuran duniawi
> menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di
> mana iman, di
> mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan
> seseorang dengan
> melihat pencapaiannya hari ini?
> 
> Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela
> Rafli.
> Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus
> membelanya.
> Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa
> membuat Rafli tampak
> 'luar biasa'. Nania cuma punya idealisme
> berdasarkan perasaan yang
> telah
> menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga.
> Dan nalurinya
> menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
> 
> Mereka akhirnya menikah.
> 
> ***
> 
> Setahun pernikahan.
> 
> Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering
> berbisik-bisik
> di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari
> Rafli. Jeleknya,
> Nania masih belum mampu juga menjelaskan
> kelebihan-kelebihan Rafli agar
> tampak di mata mereka.
> 
> Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu
> besar hingga
> Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan
> mata, atau
> cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat
> perempuan itu
> sangat bahagia. "Tidak ada lelaki yang bisa mencintai
> sebesar cinta Rafli
> pada Nania."
> 
> Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga
> saudara Nania hanya
> memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.
> "Nia, siapapun akan
> mudah mencintai gadis secantikmu!" "Kamu adik
> kami yang tak hanya
> cantik,
> tapi juga pintar!" "Betul. Kamu adik kami yang
> cantik, pintar, dan
> punya
> kehidupan sukses!"
> 
> Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan
> kali ini
> dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan
> Rafli. Beberapa
> lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.
> 
> Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak! Betul. Tapi dia juga
> tidak ganteng kan?
> Rafli juga pintar! Tidak sepintarmu, Nania. Rafli juga
> sukses,
>
 pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses.
> Tidak sepertimu.
> 
> Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya,
> bahwa adik
> mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi
> percuma.
> "Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses,
> mapan, kamu bahkan
> tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. "
> 
> Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal
> adik mereka sudah
> menikah dan sebentar lagi punya anak. Ketika lima tahun
> pernikahan
> berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan
> Rafli sudah
> memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan.
> Keduanya
> menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka
> memiliki anak-anak.
> Padahal itu tidak
 perlu
 sebab gaji Nania lebih dari cukup
> untuk hidup
> senang.
> 
> "Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania
> memintanya untuk tidak
> terlalu
> memforsir diri. "Gaji Nania cukup, maksud Nania jika
> digabungkan dengan
> gaji Abang."
> 
> Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia
> tak perlu
> khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa
> menangkap hanya
> maksud baik. "Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk
> jaga-jaga. Ya?"
> 
> Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan
> lembut. Saat itu
> sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan
> membuat pikiran
> Nania cerah.
> 
> Inilah
 hidup
 yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
> 
> Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari
> keluarga biasa,
> dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan
> pekerjaan dan gaji
> yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
> Sebab ketika
> bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.
> 
> Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor
> semakin
> gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar,
> anak-anak pintar
> dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup
> perempuan itu
> berada di puncak!
> 
> Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli
> melintas dan
> bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik
>
 tetangga
 kanan dan
> kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
> 
> Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik dan
> kaya! Tak imbang!
> 
> Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun
> masih, tapi Nania
> belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup
> dengan perasaan
> bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.
> 
> Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum
> bergeser dari puncak.
> Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga.
> Selama kurun waktu
> itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat
> Nania menangis.
> 
> ***
> 
> Bayi
 yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah
> lewat dua minggu
> dari waktunya. "Plasenta kamu sudah berbintik-bintik.
> Sudah tua, Nania.
> Harus segera dikeluarkan! "
> 
> Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan
> sejenis obat ke
> dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi
> hebat hingga
> perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika
> semuanya normal,
> hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si
> kecil.
> 
> Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah
> sakit. Hanya
> waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke
> kamar mandi, dan
> menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara
> kakak-kakak serta
> orangtua Nania belum satu pun yang
 datang.
> 
> Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam
> setelah obat
> pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan.
> Rasa sakit dan
> melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga
> menit. Tapi
> pembukaan berjalan lambat sekali.
> 
> "Baru pembukaan satu."
> "Belum ada perubahan, Bu."
> "Sudah bertambah sedikit," kata seorang suster
> empat jam kemudian
> menyemaikan harapan.
> 
> "Sekarang pembukaan satu lebih sedikit."
> Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster
> terakhir yang
> memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
> 
> Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.
 Ketika
>
 pembukaan pecah,
> didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab
> dulu-dulu
> kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan
> mereka meleset.
> 
> "Masih pembukaan dua, Pak!"
> Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa dihibur karena rasa
> sakit yang
> sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu
> makin payah.
> Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
> 
> "Bang?"
> Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri
> memperjuangkan dua kehidupan.
> 
> "Dokter?"
> "Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali
> pusar."
> 
> Mungkin?
> Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi
 kalau
> begitu?
> Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania
> berusaha mengusir
> kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan
> genggaman tangannya
> hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri
> lebih awal.
> 
> Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih.
> Sebuah sekat
> ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan
> ketrampilan
> dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa
> berada dalam perahu
> yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya
> naik-turun. Terakhir,
> telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di
> sekitarnya,
> dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian
> dia tak sadarkan
> diri.
> 
> Kepanikan ada di
 udara. Bahkan dari luar Rafli bisa
> menciumnya. Bibir
> lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir dan doa.
> 
> Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
> "Pendarahan hebat."
> Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna
> merah. Ada
> varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah
> bagaimana pecah!
> 
> Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. Mama
> Nania yang baru
> tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara
> Nania menyimpan
> isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
> 
> Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki
> itu tercenung
> beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di
> pembuluh-pembuluh
 darahnya
> dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti
> kanker. Setelah
> itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.
> 
> ***
> 
> Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli
> bolak-balik dari
> kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi
> Nania dan juga
> anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si
> kecil. Bayi itu
> sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya
> hisapnya. Tidak
> sampai empat hari, mereka sudah boleh membawanya pulang.
> 
> Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut
> menunggui Nania di
> rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat
> perkembangan si kecil.
> Walau tak banyak, mulai terjadi
 percakapan
 antara pihak
> keluarga Nania
> dengan Rafli.
> 
> Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah
> meninggalkan rumah
> sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya
> pihak
> perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan
> izin penuh. Toh,
> dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.
> 
> Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya
> sebuah Quran
> kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di
> ruang ICU.
> Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk
> sanak famili
> mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu
> bercakap-cakap dan
> bercanda mesra.
> 
> Rafli percaya meskipun tidak
 mendengar,
 Nania bisa
> merasakan kehadirannya.
> "Nania, bangun, Cinta?"
> Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium
> tangan, pipi dan
> kening istrinya yang cantik.
> 
> Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai
> pesimis dan berfikir
> untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke
> rumah sakit,
> mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya
> mesra. Kadang
> lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah
> sakit dan
> membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di
> bagian ini dan itu.
> Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
> "Nania, bangun, Cinta?"
> 
> Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan
> permohonan. Asalkan
> Nania sadar, yang lain tak jadi soal.
 Asalkan dia bisa
> melihat lagi cahaya
> di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang
> menjadi sumber
> semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
> 
> Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak
> merindukan ibunya.
> Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya
> yang lama tak
> bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering
> lupa makan.
> 
> Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan
> itu di mata,
> gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil
> lain di
> wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.
> 
> Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar
> dan wajah
> penat Rafli
 adalah
 yang pertama ditangkap matanya.
> 
> Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam
> tangan Nania dan
> mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur
> berulang-ulang dengan
> airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak
> penting lagi.
> 
> Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali
> dalam doa.
> Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama
> sebelas tahun
> terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar
> anak-anak ke
> sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor,
> lelaki itu
> cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras,
> melihat senja
> datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun
> yang sedang
> jatuh cinta.
> 
> Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum
> tidur.
> Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu,
> memakaikannya gaun tidur.
> Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania
> mengatakan itu
> tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan
> lumpuh?
> 
> Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal
> lelah selalu
> meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa
> dialah perempuan
> paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata
> Rafli.
> 
> Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga
> jalan-jalan keluar.
> Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja,
> makan di restoran,
> nonton bioskop, rekreasi ke
 manapun
 Nania harus ikut.
> Anak-anak, seperti
> juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan
> Nania. Begitu
> bertahun-tahun.
> 
> Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan
> orang-orang di
> sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih
> pada Rafli yang
> berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari.
> Masih dengan senyum
> hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.
> 
> Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang
> ditemuinya di
> jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman
> Nania tak puas
> hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari,
> mengoceh, semua
> berbisik-bisik.
> 
> "Baik banget
 suaminya!"
> "Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
> "Nania beruntung!"
> "Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa
> adanya."
> "Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat
> bagaimana suaminya
> memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka
> masam!"
> 
> Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga
> orang, Papa dan
> Mama. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat
> Nania makin
> frustrasi, merasa tak berani, merasa?
> 
> Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian.
> Orang-orang di
> luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali
> selamanya akan selalu
> begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda
> bunyi?
> 
> Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket
> dengan ayah
> mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak
> permainan.
> 
> Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung
> semua,
> anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka
> tempati, kehidupan
> yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak
> berfungsi
> sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia,
> meski karir telah
> direbut takdir dari tangannya.
> 
> Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari
> laki-laki biasa
> yang tak pernah berubah, untuk Nania. (Asma Nadia).
> 
> 
> 
> 
> Best Regards,
> t o p a n
> P K F ( PUSAT KREATIF FEMINA )
> JL. KEBON KACANG RAYA NO. 1 FLAT IV, JAKARTA
> Ph : 0856 786 6831
> 
> 
> 
> 
> 


        Get your new Email address!  

Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
      


         
        
        


      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke