“Laskar Menoreh”
Sebenarnya maksud hati pengin nyaingi Laskar Pelangi, tapi
berhubung nanti dibilang latah terpaksa rencana penulisan novel masa kecil yang
nggak cuma tetralogi tapi saptalogi ini jadi urung dilakukan…hehehe..bo’ong
ding :p
Sepertinya, orang terinspirasi mengingat-ingat masa kecilnya
gara-gara novel LP. Terutama mereka yang kebetulan memiliki kenangan yang
hampir sama seperti misalnya: anak kampung, sekolah di SD impres (yaaa..sekolah
yang kurang keren gitu deh), dan punya guru-guru yang menyenangkan.
Saya sendiri waktu kecil menghabiskan waktu di daerah asal
kakek, di wilayah Yogyakarta, tepatnya di kabupaten Kulon Progo. Tapi meski
begitu saya tinggal di kota kabupatennya: Wates. Kota kecil yang dulu saya
hapal banget liku-likunya. Disuruh bikin petanya mungkin bisa. Maklum, siapa
sih anak kampung yang bukan tukang main? Badan sampe keling (sekarang juga
masih…:p)
Kota kecil itu memiliki ‘taman bermain’ yang lengkap. Ada
kali (sungai) Serang yang berbatu-batu, jernih dan masih banyak ikan dan udang
berjengkelitan di dalamnya (kalau main di kali, pastinya jangan sampe ketauan
nyokap). Ada sawah yang berundak-undak (istilah kerennya Terasering), ada
berhektar-hektar perkebunan tebu dan palawija (setan mana yang suka memengaruhi
anak kecil buat maling ya.. biar dikejar-kejar mandor, tetep nggak kapok
juga maling tebu…:)), ada situs-situs bersejarah seperti gua-gua yang konon
pernah jadi
tempat persembunyian Pangeran Diponegoro, ada laut (pantai Glagah) yang
ombaknya bergulung-gulung, tinggi wajarnya aja 3 meter (soalnya ini laut
selatan yang angker dan tempat bersemayamnya Nyi Roro Kidul ;p), dan yang
paling saya suka…ada perpustakaan tempat saya meminjam buku-buku cerita, dan
ada perbukitan Menoreh yang sebenarnya letaknya cukup jauh, tapi menghiasi
pemandangan
setiap saya bersepeda memutar dari sekolah. (Sekarang ‘taman bermainnya’ nambah
dengan dibangunnya waduk di akhir tahun 80an sampai awal 90an).
Seorang pengarang lokal yang kesohor, SH Mintardja, pernah
membuat cerita (silat) berseri mengenai para jagoan bukit Menoreh. Judulnya:
Api di Bukit Menoreh (cerita ini kemudian menasional). Saya nggak suka bukunya,
nggak keren, gambarnya juga nggak bagus (dibanding Tintin hehehe). Tapi
gara-gara cerita itu dibuat bersambung di koran lokal (Kedaulatan Rakyat –
Jogja), dan kalau nggak salah pernah juga dibuat drama radionya (lagi-lagi di
radio lokal), jadi beberapa ceritanya saya tahu. Gara-gara itu, setiap memandang
perbukitan yang berjajar di arah Barat (Laut?), saya membayangkan banyak
jagoan sedang bertarung di dalamnya. Hihihi…seru sendiri. Tapi di dalam
imajinasi temen-temen SD saya yang cowok, cerita ini populer banget dan
memberikan pengaruh yang dahsyat. Suka pada
niru-niru gerakan tarung para tokohnya. (Sekarang baru kepengen baca, kebetulan
nemu ‘harta karun’ ini. Terjilid rapi semua serinya. Numpuk di lemari besi
kantor milik seorang Bapak yang sudah pensiun (tiga tahun lalu)…hehe rejeki :D
Guru-guru pengajar waktu itu juga tidak sedikit yang
memiliki dedikasi yang tinggi. Dalam sebuah acara lomba deklamasi antar SD, dan
kebetulan lokasi lombanya beberapa kilometer dari kota Wates, guru saya dengan
semangat mengantar berlomba dengan memboncengi saya di sepeda ‘kumbang’
miliknya. Saya masih ingat, kami sempat berhenti sebentar melepas lelah dan
panas ke warung kecil milik pedagang dawet (cendol) beberapa kilometer (lagi)
sebelum sampai ke lokasi. Untungnya juara dua. Saya masih menyimpan foto beliau
saat menunggui kami berlomba (dan piagam penghargaannya tentunya :)
Soal lomba cerdas cermat, siapa sih di jaman itu yang nggak
ikut hiruk pikuknya yang emang lagi ngetren. Meski teman saya tidak secerdas
Lintang, dia anak paling cerdas di sekolah. Ahli mencongak, dan hapal sejarah
Indonesia. Tapi anaknya bandelnya minta ampun, waktu itu, meski kami satu tim
dalam cerdas cermat, saya sebel setengah mati..apalagi kalah sama anak-anak SD
dari kota (Propinsi Yogyakarta, yang ini beda sama cerita LP hehehe…. sekarang
teman saya itu jadi ‘petinggi’ Telkom di wilayah Kalimantan dan kami masih
saling kontak).
So guys, punya pengalaman masa kecil yang indah, dan tidak
ingin dilupakan? Apalagi kalau mau dibagi ke anak cucu nanti, ke generasi
penerus kemudian, nggak ada salahnya dibukukan. Nggak mesti sehebat bukunya
Andrea, tapi paling tidak masih enak dibaca oleh kerabat dan teman-teman.
Kecuali sampai ada editor yang bilang,
“kayaknya ini bisa dilaku di pasaran…” Yah, pasrah aja deh…:D
Have a nice day!