jadi bertanya-tanya, knapa cerita2 masa lalu jadi laku ya? apa karena kehidupan masa kini membosankan untuk diceritakan? atau mungkin ada hal-hal yang waktu kecil sering dirasakan namun memudar/hilang ketika beranjak dewasa, sehingga perlu mengenang kembali? :p
2008/10/9 Lusiana M. Hevita <[EMAIL PROTECTED]> > "Laskar Menoreh" > > > > Sebenarnya maksud hati pengin nyaingi Laskar Pelangi, tapi berhubung nanti > dibilang latah terpaksa rencana penulisan novel masa kecil yang nggak cuma > tetralogi tapi saptalogi ini jadi urung dilakukan…hehehe..bo'ong ding :p > > > > Sepertinya, orang terinspirasi mengingat-ingat masa kecilnya gara-gara > novel LP. Terutama mereka yang kebetulan memiliki kenangan yang hampir sama > seperti misalnya: anak kampung, sekolah di SD impres (yaaa..sekolah yang > kurang keren gitu deh), dan punya guru-guru yang menyenangkan. > > > > Saya sendiri waktu kecil menghabiskan waktu di daerah asal kakek, di > wilayah Yogyakarta, tepatnya di kabupaten Kulon Progo. Tapi meski begitu > saya tinggal di kota kabupatennya: Wates. Kota kecil yang dulu saya hapal > banget liku-likunya. Disuruh bikin petanya mungkin bisa. Maklum, siapa sih > anak kampung yang bukan tukang main? Badan sampe keling (sekarang juga > masih…:p) > > > > Kota kecil itu memiliki 'taman bermain' yang lengkap. Ada kali (sungai) > Serang yang berbatu-batu, jernih dan masih banyak ikan dan udang > berjengkelitan di dalamnya (kalau main di kali, pastinya jangan sampe > ketauan nyokap). Ada sawah yang berundak-undak (istilah kerennya > Terasering), ada berhektar-hektar perkebunan tebu dan palawija (setan mana > yang suka memengaruhi anak kecil buat maling ya.. biar dikejar-kejar mandor, > tetep nggak kapok juga maling tebu…:)), ada situs-situs bersejarah seperti > gua-gua yang konon pernah jadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro, ada > laut (pantai Glagah) yang ombaknya bergulung-gulung, tinggi wajarnya aja 3 > meter (soalnya ini laut selatan yang angker dan tempat bersemayamnya Nyi > Roro Kidul ;p), dan yang paling saya suka…ada perpustakaan tempat saya > meminjam buku-buku cerita, dan ada perbukitan Menoreh yang sebenarnya > letaknya cukup jauh, tapi menghiasi pemandangan setiap saya bersepeda > memutar dari sekolah. (Sekarang 'taman bermainnya' nambah dengan dibangunnya > waduk di akhir tahun 80an sampai awal 90an). > > > > Seorang pengarang lokal yang kesohor, SH Mintardja, pernah membuat cerita > (silat) berseri mengenai para jagoan bukit Menoreh. Judulnya: Api di Bukit > Menoreh (cerita ini kemudian menasional). Saya nggak suka bukunya, nggak > keren, gambarnya juga nggak bagus (dibanding Tintin hehehe). Tapi gara-gara > cerita itu dibuat bersambung di koran lokal (Kedaulatan Rakyat – Jogja), dan > kalau nggak salah pernah juga dibuat drama radionya (lagi-lagi di radio > lokal), jadi beberapa ceritanya saya tahu. Gara-gara itu, setiap memandang > perbukitan yang berjajar di arah Barat (Laut?), saya membayangkan banyak > jagoan sedang bertarung di dalamnya. Hihihi…seru sendiri. Tapi di dalam > imajinasi temen-temen SD saya yang cowok, cerita ini populer banget dan > memberikan pengaruh yang dahsyat. Suka pada niru-niru gerakan tarung para > tokohnya. (Sekarang baru kepengen baca, kebetulan nemu 'harta karun' ini. > Terjilid rapi semua serinya. Numpuk di lemari besi kantor milik seorang > Bapak yang sudah pensiun (tiga tahun lalu)…hehe rejeki :D > > > > Guru-guru pengajar waktu itu juga tidak sedikit yang memiliki dedikasi yang > tinggi. Dalam sebuah acara lomba deklamasi antar SD, dan kebetulan lokasi > lombanya beberapa kilometer dari kota Wates, guru saya dengan semangat > mengantar berlomba dengan memboncengi saya di sepeda 'kumbang' miliknya. > Saya masih ingat, kami sempat berhenti sebentar melepas lelah dan panas ke > warung kecil milik pedagang dawet (cendol) beberapa kilometer (lagi) sebelum > sampai ke lokasi. Untungnya juara dua. Saya masih menyimpan foto beliau saat > menunggui kami berlomba (dan piagam penghargaannya tentunya :) > > > Soal lomba cerdas cermat, siapa sih di jaman itu yang nggak ikut hiruk > pikuknya yang emang lagi ngetren. Meski teman saya tidak secerdas Lintang, > dia anak paling cerdas di sekolah. Ahli mencongak, dan hapal sejarah > Indonesia. Tapi anaknya bandelnya minta ampun, waktu itu, meski kami satu > tim dalam cerdas cermat, saya sebel setengah mati..apalagi kalah sama > anak-anak SD dari kota (Propinsi Yogyakarta, yang ini beda sama cerita LP > hehehe…. sekarang teman saya itu jadi 'petinggi' Telkom di wilayah > Kalimantan dan kami masih saling kontak). > > > So guys, punya pengalaman masa kecil yang indah, dan tidak ingin dilupakan? > Apalagi kalau mau dibagi ke anak cucu nanti, ke generasi penerus kemudian, > nggak ada salahnya dibukukan. Nggak mesti sehebat bukunya Andrea, tapi > paling tidak masih enak dibaca oleh kerabat dan teman-teman. Kecuali > sampai ada editor yang bilang, "kayaknya ini bisa dilaku di pasaran…" Yah, > pasrah aja deh…:D > > > > > > Have a nice day! > > > > > > > -- Kurniawan http://www.ptc-vaganza.info
