Wall Street Jatuh Lagi
Nurul Qomariyah- detikFinance



Foto: Reuters New-York - Saham-saham di Wall Street kembali berjatuhan dan 
mencatat kejatuhan terbesar kedua dalam sejarah hingga hampir 8%. Semua dipicu 
oleh kekhawatiran resesi, setelah bailout besar-besaran.

Pada perdagangan Rabu (15/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) 
ditutup merosot 733,08 poin (7,87%) ke level 8.577,91. Ini adalah kejatuhan 
terbesar sejak kemerosotan 777 poin yang dicetak pada bulan lalu dan terdalam 
sejak tahun 1987.

Dalam suasana kejatuhan yang rusuh, indeks Standard & Poor's juga jatuh hingga 
90,17 poin (9,03%) ke level 907,84. Nasdaq juga anjlok 150,69 poin (8,47%) ke 
level 1.628,33.

Perdagangan saham di bursa terbesar di dunia itu kemarin sangat bergejolak. 
Saham-saham dibuka langsung merosot tajam, dengan indeks Dow Jones anjlok 300 
poin. Kejatuhan itu mengikuti kemerosotan yang dicetak bursa-bursa Eropa 
sebelumnya.

Bursa-bursa Eropa sebelumnya telah 'menginspirasi' kemerosotan, dengan indeks 
FTSE 100 London anjlok 7,16%, CAC 40 Paris anjlok 6,82% dan DAF Frankfurt 
melorot 6,49%.

Kemerosotan ini langsung memicu kejatuhan bursa-bursa lain. Pada perdagangan 
Kamis (16/10/2008), indeks S&P/ASX200 di Australia langsung merosot 224,6 poin 
ke level 4.075,4 hanya dalam 10 menit awal perdagangannya.

"Pasar saham terkubur oleh kekhawatiran resesi," ujar Al Goldman, analis dari 
Wachovia Securities seperti dikutip dari AFP, Kamis (16/10/2008).

Reaksi pasar terjadi setelah keluarnya data penjualan ritel AS yang menunjukkan 
penurunan 1,2% selama September, yang kemudian diartikan sebagai meluasnya 
permasalahan ekonomi AS setelah sebelumnya didera masalah kredit macet dan 
badai pasar finansial.

Penurunan angka penjualan ritel itu adalah yang terdalam sejak Agustus 2005, 
dan lebih besar dari ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan penurunan 0,7%.

"Oknum pelaku hari ini adalah kekhawatiran meningkatnya kekhawatiran bahwa 
kemerosotan ekonomi mungkin bergerak ke arah kontraksi yang lebih signifikan 
sebagaimana masalah kredit macet, terlihat dari data yang keluar itu," ujar 
Charles Schwab.

Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke mengatakan bahwa pemulihan dari krisis 
finansial tidak akan terjadi secara cepat, namun perekonomian AS pada akhirnya 
akan muncul dengan kekuatan baru.

Berbicara dalam Economic Club di New York, Bernanke menyatakan bahwa masalah di 
perekonomian dan pasar sangatlah besar dan kompleks.

"Namun dalam penilaian saya, pemerintah kami sekarang sudah memiliki alat yang 
diperlukan untuk menghadapi dan memecahkannya," jelas Berbanke.

"Stabilisasi di pasar finansial adalah langkah kritikal pertama, bahkan jika 
mereka sudah stabil sebagaimana kita harapkan itu akan terjadi, pemulihan 
ekonomi secara luas kemungkinan tidak akan terjadi dengan cepat," imbuh 
Bernanke.(qom/qom) 
 Toby Fittivaldy 
Fis2  '94 


      

Kirim email ke