New-York - Harga minyak mintah dunia kembali anjlok tajam. Minyak Brent bahkan
untuk pertama kalinya kembali melorot di bawah US$ 70 per barel, dipicu oleh
kekhawatiran resesi ekonomi.
Pada perdagangan Rabu (15/10/2008) kontrak utama New York untuk minyak jenis
light pengiriman November melorot 4,09 dolar ke level US$ 74,54 per barel.
Kontrak ini sempat melorot tajam hingga 74,32 per barel, atau berarti turun
hingga 50% dari puncak harga tertinggi di US$ 147 per barel yang dicetak pada
pertengahan Juli lalu.
Sementara minyak jenis Brent sempat melorot hingga US$ 69,97 per barel, sebelum
akhirnya ditutup turun 3,73 dolar ke level US$ 70,80 per barel. Ini adalah
level terendah sejak Agustus 2007.
"Pasar saham terperangkap dalam 4 tsunami: resesi global, pengetatan kredit,
meningkatnya kapasitas kilang dan meningkatnya suplai minyak non OPEC. Semua
hal itu akan menekan permintaan minyak dari OPEC," jelas Lawrence Eagles,
analis dari JPMorgan dalam laporannya seperti dikutip dari AFP, Kamis
(16/10/2008).
OPEC telah memangkas pertumbuhan permintaan tahun ini dan mencukur proyeksi
tahun 2009, dengan alasan menurunnya permintaan di AS yang merupakan negara
konsumen terbesar.
Kemelorotan harga minyak terjadi seiring jatuhnya saham-saham di Wall Street
setelah keluarnya data penjualan ritel yang memicu kekhawatiran bahwa resesi
semakin nyata. Kemarin indeks Dow Jones kembali mencetak rekor terbesar dalam
sejarahnya lagi.
Kejatuhan ekonomi AS sangat berperan penting bagi permintaan minyak dunia.
Apalagi kemerosotan perekonomian AS bisa menular ke berbagai ekonomi negara
berkembang lainnya,
"Kejatuhan kontrak harga minyak merefleksikan pergerakan di pasar saham yang
mencerminkan kekhawatiran tentang resesi yang akan memangkas permintaan minyak
mentah," ujar Joe Possillico, broker dari MF Global seperti dikutip dariReuters.
Toby Fittivaldy
Fis2 '94