trus terang gua baru sempet baca negh bagian 2 ...
dan baru punya waktu buat ngomentarin....
hmmm ada yang menggelitik untuk berkomentar terutama kalimat paling bawah dari 
tulisan ini
yaitu tulisan: Ah, alangkah indahnya ada Birokrat yang Jawara dan Santri!

Birokrat yang Jawara buat gw sih bahasa halusnya preman berseragam... ini udah 
pasti banyak... dimana-mana pasti ada...
sedangkan  Birokrat yang santri... buat gw jadi tanda tanya besar... 
soalnya dua-duanya basenya beda... bisa ga yaaah...???

terlepas dari kesemuanya itu entah dia birokrat, atau pengusaha, atau apalah... 
secara mendasar kalo memang karakter orang bekasi mau dibangun 
dan tidak meninggalkan karakter lamanya (Jawara & Santri) 
gw pikir ada paradigma penting yang musti diubah... 
yaitu pola pikir dari masyarakat bekasi sendiri... 
terus terang gw mendarat di bekasi tahun 1984... gara2 proyek jalan tol 
jakarta-cikampek...

temen gw waktu kecil di bekasi... terus terang bejibun... waktu pertama kali 
lulus SD... 
gw nanya ama temen gw yang bejibun itu... elo setelah lulus SD mau kemana??? 
... 
ternyata jawabannya semuanya hampir sama... gw mau mesantren... 
jarang orang yang nge-jawab... gw mau ke SMP trus ke SMA trus Kuliah...
kalopun ada.... jawabnya sedikit berbeda... gw mau trus ke SMP trus STM... trus 
kerja
sedangkan yang jawabanya mau mesantren.. terusannya ga jelas... ada yang mau 
nerusin usaha bapanya lah ... ada yang jadi guru ngaji lah... 
dan ada juga yang luntang-lantung sampe sekarang ga jelas kerjaanya.... dan 
yang terakhir ini jumlahnya ga sedikit ... alias buuuanyak.....
    
gw ga tau persis... paradigma itu sampe sekarang diwariskan ke anak2 mereka 
atau ga...??
yang jelas gw turut prihatin atas hal tersebut.... 

mungkin jadi masukan juga buat ALU...
kalo udah jadi di mekarin BEKUT gimana??? apa rencana... untuk orang2 seperti 
mereka.... gw yakin jumlahnya ga sedikit....
kalo dibiarin aja... yang orang asli situ yaaahh... bakalan begitu2 aja... ga 
bakal berkembang... jadi yang berkembang cuma beberapa gelintir aja...
dan bahasa halusnya memerataan korupsi kalee yaaa....dan orang2 pendatang yang 
akan menikmati pemekaran itu... 
karena mereka kemungkinan secara pendidikan mungkin jauh lebih siap ketimbang 
orang asli situ...
so ... please make a plan for those people... a good plan...
dengan tidak menghilangkan karakterisasi mereka yang JAWARA dan SANTRI...
mungkin boleh gw cetus kan ide untuk Me-MODERN-isasi sang JAWARA dan SANTRI... 
dengan SKILL yang ada...
Contohnya ....panjang banget kayanya kalo gw ceritain disini... tapi adalah 
jalannya pasti...
tapi inget yah... MODERN-isasi bukan WESTERNisasi....

gw kalo denger kata BABELAN... gua jadi ingat... BLENDUNG.... tempat yang lebih 
jauh dari BABELAN.... 
jalananya masya allah.... off road bo... terakhir ke sono SMP kelas 2... ga tau 
sekarang mungkin dah di hotmix kali...
disono markanya timun suri ama semangka.... kalo pulang dari sono pasti di 
bekelin dua buah itu.... 
cuma airnya jangan minum disono deh... asli ga enak air tanahnya... ada rasa 
garemnya... hehehe...
gw juga ga tau tuh.... semangka bisa manis... padahal air tanahnya agak 
asin.... subhanallah.... 
emang bukan urusan air ato manuse ... kalo bikin tuh semangka manis... 
tapi Allah...

Gw makan siang dulu bo.... cau dulu... masih banyak sih yang mau gua angkat.... 
tapi keburu laper negh.... met makan siang.....




Toby Fittivaldy 
Fis2  '94 



----- Original Message ----
From: komarudin ibnu mikam <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, October 16, 2008 10:23:06 AM
Subject: [sma1bks] Arsitektur Pembangunan BEkasi Utara (2) : Karakter Building

ARSITEKTUR PEMBANGUNAN KABUPATEN BEKASI UTARA (2):
CHARACTER  BUILDING

Character building. Pembangunan karakter. Yakni konstruksi psikologis
satu masyarakat yang dimiliki sebagai bagian melekat yang memengaruhi
segala aspek  kehidupan. Karakter ini yang menentukan sikap, visi dan
kinerja masyarakat. Karakter ini bisa jadi tercipta dengan sendirinya.
Tapi, bisa juga karakter ini dibangun secara sengaja, terarah dan
terintegrasi dengan hal yang lain.
Pembangunan karakter akan menjadi pelengkap dari pembangunan fisik dan
ruang. Fisik dan ruang selama ini cukup diperhatikan. Sayangnya, untuk
pembangunan karakter belum tersentuh sama sekali. Di Pemda sudah ada
Dinas Tata Ruang. Sudah ada RUTR (Rencana Umum Tata Ruang). Untuk
karakter belum ada RUTK (Rancangan Umum Tata Karakter).
Sejatinya, konstruksi karakter menjiwai setiap ciri pembangunan fisik
satu wiayah. Sehingga ketika seseorang masuk ke Bekasi, orang langsung
'menyelam nyaman di ruang Bekasi'. Ini kan tidak. Masuk ke Bekasi
tidak ada bedanya dengan masuk Jakarta. Sulit membedakan. Mana Jakarta
mana Bekasi.. Wajar kemudian kalau kita pergi ke Luar Negeri. Kalau
ditanya, Anda darimana? Kita langsung menjawab spontan dari Jakarta.
Jakartanya mana? Kita langsung jawab Jakarta sebelah Timur.  Sonoan
dikiiit…padahal mah tinggalnya di Babelan….(he..he..he..ini mah
pengalaman penulis)
Salah satu contoh wilayah yang pas mengedepankan pembangunan karakter
adalah Bali. Dengan semangat Hinduismenya, Bali bisa tampil dengan
komersialisasi budaya yang semakin memperkuat kehadiran karakter
Bekasi. Bahkan, mereka bersatu mati-matian untuk menolak UU
Pornografi. Saya yakin kalau mereka ke luar negeri dan ditanya
draimana asalnya, dengan gagah perkasa pasti dia jawab, "Saya dari
Bali…."
Contoh lain barangkali Yogyakarta. Walau, beberapa masa terakhir ini
banyak yang mengritik pembangunan yang ada menghapus memori  orang
Yogya, namun tetap saja dibandingkan pembangunan di Bekasi.
Sebagai pemerhati dan berusaha mendalami karakter orang BEkasi, saya
tarik  dengan dua hal yang memengaruhi hitam putihnya Bekasi. Tiga hal
tersebut adalah Kaum Pesantren (santri) dan Jagoan (jawara). Karakter
santri dan jawara ini melekat kuat dalam diri orang Bekasi.
SANTRI
Sifat varian dari santri intelektual dan santun.  Intelektual bermakna
pula orang Bekasi itu memiliki tradisi  ilmu yang kuat. Hobi dengan
ilmu. Senang menimba ilmu. Senang berwacana dan berdiskusi. Tak alergi
dengan kritik, masukan dan perbedaan. Ruang-ruang public diisi dengan
forum-forum terbuka untuk berbicara bebas. Apa saja.
Tak mustahil kemudian ada figure semacam KH Noer Alie. Seorang pecinta
ilmu dan pendiri Pesantren Attaqwa, Ujung Harapan. Ada lagi KH
Muhajirin yang intelektualitasnya menyangkut ilmu falaq mendapat
apresiasi yang tinggi di dunia ilmu perfalakan. Selain itu ada juga KH
Muchtar Tabrani di Kaliabang Nangka dan KH  di CIkarang.
Maka warna santri Bekasi pun unik. Punya kemandirian sikap. Attaqwa
misalnya. Tidak bisa dikatakan mereka itu NU atau Muhammadiyah atau
apa pun. Attaqwa BEkasi ya… Attaqwa. Punya karakter sendiri  beda dari
yang ada.
Kaum santri ini yang mewarnai perjalan sejarah Bekasi. Dengan sebutan
'guru'. Mereka menjadi pemimpin informal yang mengendalikan
masyarakat.  Apa pun kata Bupati, harus sesuai dengan apa kata Kiai.
Orang BEkasi lebih taat ke Kiai dibanding ke aparat. Ketaatan ini
merasuk ke dalam sumsum tulang nurani orang BEkasi sehingga
menciptakan mitos tersendiri. Pernah ada kejadian, Kiai Noer Alie
melarang warga nyetel TV pas malam Ramadhan saat tarawih. Antara jam
19.00 – 20.30 wib. Ternyata ada yang melanggar, eh, TV-nya langsung
meleduk.
Sifat santri ini tidak hanya melekat di kalangan guru, murid, orang
yang mondok. Apa pun profesi mereka, sebagai kata benda, sifatnya
adalah santri. Pedagang rambutan yang santri. Tukang sadoh yang
santri. Guru yang santri. Makelar yang santri. Petani yang santri.
Anggota dewan yang santri. Birokrat yang santri..
"Biar kata cuman tukang rambutan, kalo lo hina agama gue, gue belek
tenggorokan lo," gitu kata pedagang rambutan yang santri.
"Saya guru yang santri, makanya saya mencoba professional menjadi
pendidik," kata guru yang santri.
"Gue PNS, gaji kecil cuman kalo urusan korupsi, NO WAY Bus way!" tekad
birokrat santri. Atau ada Camat yang manggil lurahnya dan berkata, "Lo
jangan kurang ajar jadi Lurah, udah dipilih rkayat tapi gak mikirin
rakyat. Masa desa lo gelap kagak ada listrik. Padahal Lippo kan deket
dari sini."
JAWARA
Jawara ini sifat gentleman dan jantan orang Bekasi. Berani membela
kebenaran. Berani mengakui yang benar. Berani melawan kedzaliman dan
kelaliman. Berani menyatakan TIDAK ketika mayoritas orang mengatakan
YA untuk kelaliman.
Sifat jawara ini terrepresentasi dalam kebiasaan orang Bekasi yang
selalu membekali anak-anaknya dengan ilmu silat.. Maen pukul,
isilahnya. Pokoknya banci dah kalo gak belajar maen pukul. Ini hanya
soal kebiasaan. Karena memang tidak jaminan untuk selalu menang kalau
berkelahi. Paling tidak, punya kebisaan maen silat punya cara untuk
kabur kalau-kalau memang kita gak mampu menang. Modal kari lah,
istilahnya. Biar kata potongan kecil, tapi nyali kan yang penting.
Hercules aza badannya kecil. Tapi bisa jadi preman di Jakarta.
Tradisi kurban setiap lebaran haji merupakan alat didik agama untuk
mempersiapkan instrument jawara dalam diri orang Islam sebagai
mayoritas agama yang dianut orang Bekasi. Berani lihat darah. Biar gak
jadi banci. Berani gorok leher kerbau atau kambing.
Dua sifat ini bila dipadukan akan menjadi kombinasi sempurna. Seorang
birokrat yang santri sekaligus jawara. Seorang guru yang santri
sekaligus jawara. Kiai Noer Alie begit. Ia guru. Santri. Pas perang,
ia terjun sebagai komandan Hizbullah. Memimpin pasukan menggorok leher
Belanda.
  Ah, alangkah indahnya ada Birokrat yang Jawara dan Santri!
[komar]

tulisan ini ada di aliansiutara.multiply.com

------------------------------------

--------------------------------------------------
Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Bekasi, forum untuk 
menambah teman, saudara, sahabat, dan [.....].

Jika ingin berhenti menerima email dari sma1bks, 
kirim email ke [EMAIL PROTECTED]

Ingin menerima email dari sma1bks, kirim email ke
[EMAIL PROTECTED] Groups Links



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke