Benar memang enak sekali jd warga disana, pembangunan rumahnya telah dibiayai oleh hampir seluruh warga dunia, jika krisis sekarang dikarenakan banyak rumah dibangun disana dan tidak sanggup bayar, namun setidaknya aset berupa rumah telah dibangun dan tetap ada disana, nah bagi orang diluar negerinya banyak yg kehilangan uang karena perusahaan investasinya bangkrut. singkat cerita.. dunia diajak bersama untuk tidak menagih uangnya yg telah berubah menjadi rumah2 mewah disana... well...
________________________________ From: Lusiana M. Hevita <[EMAIL PROTECTED]> To: Jip 92 <[EMAIL PROTECTED]>; [email protected]; sma satu <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, November 19, 2008 2:56:02 PM Subject: [sma1bks] NCB : NINJA dan Krisis AS Anda suka shopping? Siapa pun suka shopping, baik pria maupun wanita, cuma toko yang dituju beda aja, hayoo ngaku deh. Kapan anda berbelanja? Saat dapat uang kaget, bonus atau THR? Para wanita, ibu-ibu rumah tangga di Amrik konon punya keunikan sendiri dalam menentukan kapan sebaiknya shopping dilakukan. Bukan saat dapat uang kaget macam menang lotere, dapet bonus apalagi THR (di sana ada THR ga sih?). Tapi saat bursa saham di Wall Street mengalami kenaikkan! Karena jika nilai penjualan saham naik, investor banyak, so…harga-harga menjadi turun, dan itulah shopping time! Mereka punya saham? Nggak. Suami-suaminya punya saham? Nggak juga. Kenapa kok gitu? Itulah yang unik. Para wanita ‘nekad’, wong sahamnya orang yang naik kok dia yang belanja…. Tapi bahwa kenaikan saham ‘berbanding lurus’ dengan turunnya harga barang-barang, jelas sudah melekat di benak para wanita di AS. Dan jangan-jangan itu juga salah satu penyebab resesi yang kini melanda negara Paman Obama. No income, no job, no asset (disingkat dengan NINJA) tapi nekad hidup konsumtif menjadi masalah besar di sana. Permainan pasar uang, dengan hitungan-hitungan ekonomi yang kelihatan rumit, kompleks dan masuk akal membuat segalanya seolah-olah menjadi mungkin dan yang tidak masuk akal menjadi masuk akal . Jadi jangan heran kalau ‘orang kere’ di AS bisa kredit rumah bagus dan Bank begitu sangat akomodatif karena ada banyak lembaga-lembaga penggelontor kredit (non bank, dan bersaing ketat) yang bermain. Kalau biasanya orang yang mengajukan kredit rumah harus dilihat dulu nilai rumahnya dan disesuaikan dengan incomenya oleh Bank (traditional model), hal itu tidak berlaku lagi untuk sistem yang satu ini (sub-prime model). Jadi pihak-pihak yang mendapat julukan NINJA tersebut bisa dapetin rumah idamannya dengan kipas-kipas saja. Weleh… Dan akibat dari anjloknya pasar Wall Street (karena masalah subprime itu), mengakibatkan para wanita puasa belanja, mall dan pertokoan sepi (sector riil) sehingga kondisi keuangan AS semakin terpuruk saja. So guys, ada yang tertarik mengikuti jejak para NINJA nekad di AS? Hehehe… Have a nice day! *Terinspirasi dari presentasi Prof Iwan (Jaya Azis, keynote speech di Research Day, 17 Nov. 2008)) mantan dosen feui yang skrg di Cornell Univ. Presentasinya penuh dengan kurva-kurva dan rumus/model teori-teori ekonomi , tapi… cuma segitu aja yang bisa saya tulis :D *judul presentasinya “From subprime to recession: economics of financial crisis” (available at library)
