Bang Kom kalo emang tahu keberadaan Kang dedy Kasih tahu atuh,

Kita kehilangan jejak nich, lagi nyari keberadaan sang ketua Osis.

Salam,
Irwan ('89.Bio1)
  ----- Original Message ----- 
  From: komarudin ibnu mikam 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, November 21, 2008 1:46 PM
  Subject: Re: [sma1bks] Re: Balasan: Edi Purnama '89



  dedi chusaeri mah urusannya ama lurah di cikarang, lurah kunang...
  doi mah kagak ngarti internet, perlu 20 tahun lage lahhh...
  materi boleh tajjir, urusan it-mah beda...


  2008/11/21 Morry Infra <[EMAIL PROTECTED]>


    Iya sich.....
    Setahu saya Mas Edi abangnya Mas Herli itu '90 lulusan IPB....
    Tapi Mas Edi Purnama kan '89.
    Tapi tempting aja pengen nanya....hee..e.e..

    Salam kenal Mas Edi Purnama.
    Kenal Aris Aprianto dan Novian Chandra?

    Tahu dimana mereka berada sekarang?
    Dedi Chusaeri 'nggak ikutan milist ya?
    Diajakin dong Bang Komar....

    Salam,
    Morry Infra
    +966-533214840


    2008/11/21 Purnama Edi <[EMAIL PROTECTED]>

      Ohh..bukan 

      Hi,Morry

      Salam kenal

      asal saya dari Cibarusah,saya lama tinggal di Teluk angsan itu juga 
ngekost.

      Thank's you

      Morry Infra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

        Mas Edi ini abangnya Herly '91 bukan sich?
        Yang rumahnya di Tugu?

        Wassalam,
        Morry Infra
        +966-533214840


        2008/11/21 Purnama Edi <[EMAIL PROTECTED]>

          Jadi teringat Pengalaman waktu di Jepang
          Bagi kita yang Ber Agama Islam semestinya Kita itu harus lebih baik 
dari Mereka menjaga kebersihan,mencegah kemubajiran karena dah jelas Dalilnya.

          Budaya orang Jepang(ga semua orang jepang sih) membuat saya menarik 
napas panjang,membuat saya malu sendiri,dan tercengang.

          Ini Kebiasaan mereka yang pernah saya lihat:
          1. Mendahulukan sama yang tua (mempersilahkan yang lebih tua untuk 
duduk di kendaraan,bahkan untuk   menaiki kendaraan)
          2. Tertib ngantri(ga ada yang namanya nyodok pengen duluan,pernah 
punya temen(indonesia)nyodok antrian di Bandara anehnya juga mereka ga marah 
kaya di Indo keluar bahasa kebun binatangnya...mereka bilang 
silahkan...(mungkin mereka positive thinking aja kali nich orang kaga nyaho ga 
boleh nyiap)tapi ga tahan diketawaan sama semua orang...wekekekkkkkk
          3. Tidak buang sampah sembarangan
          Bekas bungkus permen atau tissue mereka kantongin,karena disekitar 
situ ga ada tong sampah.
          4. Tidak mau merepotkan Orang lain
          Wanita Tuna Susila(WTS) biasa pasang iklan poster di tembok-tembok 
menjelang sore,pagi pagi udah ga ada lagi tuh poster,rapi seperti sedia kala ga 
ada bekas tempelan.
          5. Menghormati Tamu
          Manggut manggut kalo belum kepentok/kejedot ga berenti berenti.

          Saya setuju mulailah dari diri kita sendiri.....

          Edi Purnama/Bio2




          Taura <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 


                  http://taufikurahman.wordpress.com

                  --- On Thu, 11/20/08, Rhiza S. Sadjad <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:

                    From: Rhiza S. Sadjad <[EMAIL PROTECTED]>
                    Subject: [Asasi] FWD: Peduli
                    To: "'Closed mailing list for ISNET members only.'" <[EMAIL 
PROTECTED]>
                    Cc: [EMAIL PROTECTED]
                    Date: Thursday, November 20, 2008, 7:16 PM


                    Assalamu'alaykom wr.wb.
                    Kalo' dicari-cari, point-point dalam
                    artikel di bawah ini pasti ada dalilnya,
                    baik dalam al-Qur'an mau pun al-Hadits.
                    Untuk yang hari ini jadi Khatib Jum'at,
                    barangkali bisa jadi materi khutbah yang
                    menarik ...... dan mengena !
                    Wassalam, Rhiza
                    [EMAIL PROTECTED] ac.id
                    http://www.unhas. ac.id/~rhiza/

                    -------- Isi Pesan Asli --------
                    Dari: harnyoto buyung <harnyotobuyung@ yahoo.com>
                    Balas-Ke: [EMAIL PROTECTED] .com
                    Untuk: smarp74 <[EMAIL PROTECTED] .com>
                    Judul: [SMARP74] (unknown)
                    Tanggal: Tue, 18 Nov 2008 20:35:58 -0800 (PST)

                    A nice article, good to share with others. 
                    EMPATI
                    By: Andy F Noya

                    Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di 
                    sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. 
                    Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah
                    berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin 
                    melihat wajah saya yang memelas karena lapar, 
                    salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
                    melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.

                    Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para 
                    pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, 
                    mengemas peralatan masak, mengepel lantai 
                    dan ada pula yang membersihkan dan merapikan 
                    meja-meja yang berantakan.

                    Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka 
                    seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal 
                    tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
                    menemani anak-anak makan di restoran cepat saji 
                    seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan 
                    keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan
                    tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan 
                    dan mereka serasa tiada jika saya terlalu 
                    asyik menyantap makanan.

                    Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang 
                    selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat 
                    bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
                    sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan 
                    yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, 
                    mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
                    pemandangan tersebut menjadi istimewa.

                    Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu 
                    meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya 
                    dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja 
                    bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari 
                    sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya 
                    rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
                    perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu 
                    meninggalkan sampah bekas makanan.

                    Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang 
                    ayam berserakan di atas meja. Padahal ada 
                    kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat 
                    sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah 
                    kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. 

                    Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.

                    Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang 
                    belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana 
                    mereka begitu tega meninggalkan sampah
                    berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka 
                    betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu 
                    harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
                    pelayan sekalipun.

                    Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk 
                    membuang sendiri sisa makanan jika bersantap 
                    di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak
                    melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. 
                    Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. 

                    Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan 
                    tertawaan teman-teman. 

                    Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan 
                    pernah keluar negeri. 

                    Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, 
                    sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan 
                    ke tong sampah. 

                    Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.

                    Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa 
                    makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di 
                    tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
                    Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang 
                    melakukannya, artinya akan besar sekali bagi 
                    para pelayan restoran.

                    Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan 
                    kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah 
                    seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
                    membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di 
                    kompleks rumah mereka. Karena setiap hari 
                    warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya
                    membersihkan sampah di situ, lama-lama 
                    mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.

                    Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk 
                    mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya 
                    lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
                    Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. 
                    Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk 
                    atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan.
                    Keteladanan kecil yang berdampak besar.

                    Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan 
                    senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum 
                    kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya
                    hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang 
                    yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia 
                    lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
                    Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas 
                    kepada banyak orang. 

                    Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang 
                    tersenyum.

                    Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku 
                    "Chiken Soup", saya kerap membayar karcis tol 
                    bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa 
                    di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, 
                    orang di belakang saya pasti akan merasa 
                    mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. 
                    Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang 
                    indah akan membuat dia menyebarkan virus
                    kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang 
                    dia temui hari itu. Saya berharap virus itu 
                    dapat menyebar ke banyak orang.

                    Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus 
                    bagi minimal satu orang setiap hari. 

                    Pujian itu akan memberi efek berantai ketika 
                    orang yang Anda puji merasa bahagia 

                    dan menularkan virus kebahagiaan tersebut 
                    kepada orang-orang di sekitarnya.

                    Anak saya yang di SD selalu mengingatkan 
                    jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" 
                    saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang
                    kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" 
                    merupakan "magic words" yang akan membuat
                    orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" 
                    ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya 
                    pembantu rumah tangga kita.

                    Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, 
                    misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot 
                    seenaknya menyerobot mobil saya. 

                    Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa 
                    saya harus berempati pada mereka. 

                    Para supir kendaraan umum itu harus berjuang 
                    untuk mengejar setoran. 

                    "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' 

                    Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah 
                    tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. 

                    Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang 
                    menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat 
                    nasihat istri tersebut.

                    Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita 
                    jika kita dapat membuat orang lain bahagia. 

                    Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati 
                    pada perasaan orang lain. 

                    Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan 
                    membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, 
                    kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.

                    Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol 
                    begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan 
                    beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang 
                    permen karet sembarangan, kita sudah menghindari 
                    orang dari perasaan kesal karena sepatu atau 
                    celananya lengket kena permen karet.

                    Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi 
                    tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika 
                    berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
                    pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang 
                    untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di 
                    belakang kita? Saya pribadi sering melihat 
                    orang yang membuka pintu lalu melepaskannya 
                    begitu saja tanpa perduli orang di
                    belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.

                    Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita 
                    lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita 
                    tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
                    hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. 

                    Mulailah sekarang juga. 

                 





----------------------------------------------------------------------
          Dapatkan alamat Email baru Anda! 
          Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! 






--------------------------------------------------------------------------
      Nama baru untuk Anda! 
      Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan 
@rocketmail. 
      Cepat sebelum diambil orang lain! 













  -- 
  Komarudin Ibnu Mikam
  WTS - Writer Trainer Speaker
  komarmikam.multiply.com
  0818721014
  karya-karya ;
  sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
  prahara buddenovsky (GIP)
  dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
  sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
  nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
  merit yuk! (qultum media)
  rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)



   

Kirim email ke