Mudah-mudahan data ini bisa membantu,
Saat ini sebagian besar data angkatan '89 ada pada saya, jadi jika ada rekan2 
yang ingin bertanya mengenai data tersebut mudah-mudahan saya dapat membantu 
dan jika ada dari rekan2 yang mengetahui keberadaan angkatan '89 yang lain 
dapat menguhubungi saya.

Aries Aprianto
--------------------------------
Hp. 0817 716 533
Hp. 021-886 9912
[EMAIL PROTECTED]
Jl. Jatiraya No. 26 Kayuringin 1 Perumnas 1 Bekasi


Novian Chandra
---------------------------
0816 1367 105
021-884 5449
[EMAIL PROTECTED]
Jl. Delima Raya 102 Kranji Bekasi Barat

Salam,
Irwan WK ('89.Bio1)
-------------------------------
Blog '89 : http://anak89-sman1bks.blogspot.com/

  ----- Original Message ----- 
  From: Morry Infra 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, November 21, 2008 12:10 PM
  Subject: [sma1bks] Re: Balasan: Edi Purnama '89



  Iya sich.....
  Setahu saya Mas Edi abangnya Mas Herli itu '90 lulusan IPB....
  Tapi Mas Edi Purnama kan '89.
  Tapi tempting aja pengen nanya....hee..e.e..

  Salam kenal Mas Edi Purnama.
  Kenal Aris Aprianto dan Novian Chandra?

  Tahu dimana mereka berada sekarang?
  Dedi Chusaeri 'nggak ikutan milist ya?
  Diajakin dong Bang Komar....

  Salam,
  Morry Infra
  +966-533214840


  2008/11/21 Purnama Edi <[EMAIL PROTECTED]>

    Ohh..bukan 

    Hi,Morry

    Salam kenal

    asal saya dari Cibarusah,saya lama tinggal di Teluk angsan itu juga ngekost.

    Thank's you

    Morry Infra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

      Mas Edi ini abangnya Herly '91 bukan sich?
      Yang rumahnya di Tugu?

      Wassalam,
      Morry Infra
      +966-533214840


      2008/11/21 Purnama Edi <[EMAIL PROTECTED]>

        Jadi teringat Pengalaman waktu di Jepang
        Bagi kita yang Ber Agama Islam semestinya Kita itu harus lebih baik 
dari Mereka menjaga kebersihan,mencegah kemubajiran karena dah jelas Dalilnya.

        Budaya orang Jepang(ga semua orang jepang sih) membuat saya menarik 
napas panjang,membuat saya malu sendiri,dan tercengang.

        Ini Kebiasaan mereka yang pernah saya lihat:
        1. Mendahulukan sama yang tua (mempersilahkan yang lebih tua untuk 
duduk di kendaraan,bahkan untuk   menaiki kendaraan)
        2. Tertib ngantri(ga ada yang namanya nyodok pengen duluan,pernah punya 
temen(indonesia)nyodok antrian di Bandara anehnya juga mereka ga marah kaya di 
Indo keluar bahasa kebun binatangnya...mereka bilang silahkan...(mungkin mereka 
positive thinking aja kali nich orang kaga nyaho ga boleh nyiap)tapi ga tahan 
diketawaan sama semua orang...wekekekkkkkk
        3. Tidak buang sampah sembarangan
        Bekas bungkus permen atau tissue mereka kantongin,karena disekitar situ 
ga ada tong sampah.
        4. Tidak mau merepotkan Orang lain
        Wanita Tuna Susila(WTS) biasa pasang iklan poster di tembok-tembok 
menjelang sore,pagi pagi udah ga ada lagi tuh poster,rapi seperti sedia kala ga 
ada bekas tempelan.
        5. Menghormati Tamu
        Manggut manggut kalo belum kepentok/kejedot ga berenti berenti.

        Saya setuju mulailah dari diri kita sendiri.....

        Edi Purnama/Bio2




        Taura <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 


                http://taufikurahman.wordpress.com

                --- On Thu, 11/20/08, Rhiza S. Sadjad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

                  From: Rhiza S. Sadjad <[EMAIL PROTECTED]>
                  Subject: [Asasi] FWD: Peduli
                  To: "'Closed mailing list for ISNET members only.'" <[EMAIL 
PROTECTED]>
                  Cc: [EMAIL PROTECTED]
                  Date: Thursday, November 20, 2008, 7:16 PM


                  Assalamu'alaykom wr.wb.
                  Kalo' dicari-cari, point-point dalam
                  artikel di bawah ini pasti ada dalilnya,
                  baik dalam al-Qur'an mau pun al-Hadits.
                  Untuk yang hari ini jadi Khatib Jum'at,
                  barangkali bisa jadi materi khutbah yang
                  menarik ...... dan mengena !
                  Wassalam, Rhiza
                  [EMAIL PROTECTED] ac.id
                  http://www.unhas. ac.id/~rhiza/

                  -------- Isi Pesan Asli --------
                  Dari: harnyoto buyung <harnyotobuyung@ yahoo.com>
                  Balas-Ke: [EMAIL PROTECTED] .com
                  Untuk: smarp74 <[EMAIL PROTECTED] .com>
                  Judul: [SMARP74] (unknown)
                  Tanggal: Tue, 18 Nov 2008 20:35:58 -0800 (PST)

                  A nice article, good to share with others. 
                  EMPATI
                  By: Andy F Noya

                  Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di 
                  sebuah restoran cepat saji di kawasan Bintaro. 
                  Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan sudah
                  berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin 
                  melihat wajah saya yang memelas karena lapar, 
                  salah seorang dari mereka memberi aba-aba untuk tetap
                  melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.

                  Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para 
                  pelayan restoran. Ada yang menghitung uang, 
                  mengemas peralatan masak, mengepel lantai 
                  dan ada pula yang membersihkan dan merapikan 
                  meja-meja yang berantakan.

                  Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka 
                  seperti itu dari hari ke hari. Selama ini hal 
                  tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja, jika
                  menemani anak-anak makan di restoran cepat saji 
                  seperti ini, saya tidak terlalu hirau akan 
                  keberadaan mereka. Seakan mereka antara ada dan
                  tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan 
                  dan mereka serasa tiada jika saya terlalu 
                  asyik menyantap makanan.

                  Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang 
                  selama ini seakan tak terlihat. Saya melihat 
                  bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
                  sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan 
                  yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tetapi, 
                  mungkin karena malam itu mata hati saya yang melihat,
                  pemandangan tersebut menjadi istimewa.

                  Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu 
                  meja yang sedang dibersihkan, saya bertanya-tanya 
                  dalam hati: siapa sebenarnya yang baru saja 
                  bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari 
                  sisa-sisa makanan yang berserakan, tampaknya 
                  rombongan yang cukup besar. Tetapi yang menarik
                  perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu 
                  meninggalkan sampah bekas makanan.

                  Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang 
                  ayam berserakan di atas meja. Padahal ada 
                  kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat 
                  sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah 
                  kolong meja juga kotor oleh tumpahan remah-remah. 

                  Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.

                  Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang 
                  belulang berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana 
                  mereka begitu tega meninggalkan sampah
                  berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka 
                  betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu 
                  harus dibersihkan oleh seseorang, walau dia seorang
                  pelayan sekalipun.

                  Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk 
                  membuang sendiri sisa makanan jika bersantap 
                  di restoran semacam itu. Saya juga meminta anak-anak
                  melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. 
                  Sebelum ini saya juga pernah melakukannya. 

                  Tetapi perbuatan saya itu justru menjadi bahan 
                  tertawaan teman-teman. 

                  Saya dibilang sok kebarat-baratan. Sok menunjukkan 
                  pernah keluar negeri. 

                  Sebab di banyak negara, terutama di Eropa dan Amerika, 
                  sudah jamak pelanggan membuang sendiri sisa makanan 
                  ke tong sampah. 

                  Pelayan terbatas karena tenaga kerja mahal.

                  Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa 
                  makanan kita. Tinggal meringkas lalu membuangnya di 
                  tempat sampah. Cuma butuh beberapa menit.
                  Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang 
                  melakukannya, artinya akan besar sekali bagi 
                  para pelayan restoran.

                  Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan 
                  kecil yang punya arti besar. Termasuk kisah 
                  seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
                  membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di 
                  kompleks rumah mereka. Karena setiap hari 
                  warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya
                  membersihkan sampah di situ, lama-lama 
                  mereka malu hati untuk membuang sampah disitu.

                  Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk 
                  mengikuti jejak sang bapak itu dan ujung-ujungnya 
                  lingkungan perumahan menjadi bersih dan sehat.
                  Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. 
                  Tidak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk 
                  atau baliho. Dia hanya memberikan keteladanan.
                  Keteladanan kecil yang berdampak besar.

                  Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan 
                  senyum. Jika saja setiap orang memberi senyum 
                  kepada paling sedikit satu orang yang dijumpainya
                  hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang 
                  yang mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia 
                  lalu akan tersenyum pada orang lain yang dijumpainya.
                  Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi meluas 
                  kepada banyak orang. 

                  Padahal asal mulanya hanya dari satu orang yang 
                  tersenyum.

                  Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku 
                  "Chiken Soup", saya kerap membayar karcis tol 
                  bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli siapa 
                  di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, 
                  orang di belakang saya pasti akan merasa 
                  mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan. 
                  Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang 
                  indah akan membuat dia menyebarkan virus
                  kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang 
                  dia temui hari itu. Saya berharap virus itu 
                  dapat menyebar ke banyak orang.

                  Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus 
                  bagi minimal satu orang setiap hari. 

                  Pujian itu akan memberi efek berantai ketika 
                  orang yang Anda puji merasa bahagia 

                  dan menularkan virus kebahagiaan tersebut 
                  kepada orang-orang di sekitarnya.

                  Anak saya yang di SD selalu mengingatkan 
                  jika saya lupa mengucapkan kata "terima kasih" 
                  saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang
                  kembalian. Menurut dia, kata "terima kasih" 
                  merupakan "magic words" yang akan membuat
                  orang lain senang. Begitu juga kata "tolong" 
                  ketika kita meminta bantuan orang lain, misalnya 
                  pembantu rumah tangga kita.

                  Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, 
                  misalnya bus, mikrolet, bajaj, atau angkot 
                  seenaknya menyerobot mobil saya. 

                  Sampai suatu hari istri saya mengingatkan bahwa 
                  saya harus berempati pada mereka. 

                  Para supir kendaraan umum itu harus berjuang 
                  untuk mengejar setoran. 

                  "Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?'' 

                  Nasihat itu diperoleh istri saya dari sebuah 
                  tulisan almarhum Romo Mangunwijaya. 

                  Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang 
                  menyerobot seenak udelnya, saya segera teringat 
                  nasihat istri tersebut.

                  Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita 
                  jika kita dapat membuat orang lain bahagia. 

                  Alangkah menyenangkannya jika kita bisa berempati 
                  pada perasaan orang lain. 

                  Betapa bahagianya jika kita menyadari dengan 
                  membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji, 
                  kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.

                  Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol 
                  begitu saja setelah membayar, kita sudah meringankan 
                  beban petugas kebersihan. Dengan tidak membuang 
                  permen karet sembarangan, kita sudah menghindari 
                  orang dari perasaan kesal karena sepatu atau 
                  celananya lengket kena permen karet.

                  Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi 
                  tetapi berapa banyak di antara kita yang ketika 
                  berada di tempat-tempat publik, ketika membuka
                  pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang 
                  untuk berjaga-jaga apakah ada orang lain di 
                  belakang kita? Saya pribadi sering melihat 
                  orang yang membuka pintu lalu melepaskannya 
                  begitu saja tanpa perduli orang di
                  belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.

                  Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita 
                  lakukan. Hal yang tidak memberatkan kita 
                  tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
                  hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. 

                  Mulailah sekarang juga. 

               





------------------------------------------------------------------------
        Dapatkan alamat Email baru Anda! 
        Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! 






----------------------------------------------------------------------------
    Nama baru untuk Anda! 
    Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan di domain baru @ymail dan 
@rocketmail. 
    Cepat sebelum diambil orang lain! 







   

Kirim email ke