PROSIDING $100

“Prosiding ketahan di bea cukai,” cetus teman saya,”Aku sama
Ibu (bos) sampe nggak bisa tidur mikirin gimana cara ngeluarinnya….” secara 
tinggal menghitung hari. 
Sekali lagi masalah menimpa. Luar biasa deh gawean kali ini,
ada saja hal-hal yang bisa bikin sport jantung. Kemarin masalah itu, kemudian
yang satunya lagi, lalu sekarang di hari H minus enam kok ya masih ada aja
masalah serius.
 
Dalam rangka menjadi tuan rumah yang baik, dan memegang
kepercayaan sebagai local arrangements, tentu berusaha bekerja seprofesional
mungkin dong. Para steering committee (SC) kegiatan ini orang-orang hebat, dari
berbagai belahan dunia, dan orang-orang terbaik di bidangnya. Lagi pula demi
menunjukkan bahwa kami, BANGSA INDONESIA, juga memiliki sikap, perilaku dan
kemampuan yang tak kalah dengan orang dari negara maju, segala hal diantisipasi 
dan
diminimalisir semampu dan seserius kami bisa. Tapi, kok ya ndilalah ada saja.
 
Prosiding adalah salah satu barang paling penting bagi
kegiatan konferensi yang akan dibagikan ke para peserta di hari pertama. Sebuah 
penerbit Jerman (yang logonya kepala kuda, kayak
kuda catur – Springer ) telah menjadi rekanan (sponsor) selama bertahun-tahun
untuk menerbitkan prosiding kegiatan ini. Kalau dijual harga per eksemplarnya 
tak
tanggung-tanggung. 100 dolar! Maklum saja, kumpulan paper hasil penelitian
terbaru di bidang komputer, informasi dan perpustakaan. Penulis yang papernya
masuk di situ, langsung punya gengsi Internasional.  Wuiiih….
 
“Tenang saja, Bu. Biar nanti saya yang ngurus…” tiba-tiba
seorang Bapak yang juga bos salah satu penerbitan dan vendor buku di Indonesia
mengajukan diri membantu begitu tahu ada masalah itu, “saya biasa ngadepin 
kayak ginian…
mudah-mudahan sore ini bisa beres…” Wadyuh, serasa bertemu oase setelah 
berhari-hari terlunta di padang pasir, atau ketemu unta pembawa perbekalan 
sebulan yang berhari-hari hilang....  :-D
 
Konon masalahnya adalah, prosiding yang langsung dikirim
dari Jerman itu bobotnya lebih dari 100 kilogram (110 kg). Peraturannya, lebih
dari 100 kg harus dilengkapi dengan surat ijin impor. Nah perusahaan jasa
pengirimannya tidak punya ijin impor (kok bisa sih??). So barang tertahan sejak
beberapa waktu yang lalu. Dan contact person di Bali pun lengah ketika
dikonfirm masalah barang ini. Jadilah tu prosiding terkatung-katung. Yah,
kira-kira begitu lah ceritanya. Ketahuan banget ya panitianya nggak pengalaman,
hehehe… mana tahu kalau bobot tu barang lebih dari 100 kg, dan mana tahu soal
peraturan itu. Kalau tahu gitu kan prosiding dipecah jadi dua bagian,  jadi 
nggak nyampe melebihi 100 kg.
Bahkan kami dengan lugunya bilang, gimana kalau kita ngambil 100 kg aja,
sisanya yang 10 kg ditinggal di bea cukai aja gapapa deh. Eh, ternyata nggak
bisa :-)
 
“Sepertinya, kalian ada masalah dengan prosiding?” tanya SC
Chair, Mr Peng via telpon dari Singapura. Pertanyaannya merupakan teguran
halus, dan diduga Springer mengontak beliau.
“Sedang kami urus, tak perlu kuatir sebentar lagi beres…”
sambil harap-harap cemas tentunya. Soal urusan ngeless orang Indonesia kan
emang jagonya hehehe. Sampai menjelang sore, belum ada juga kabar dari bea
cukai. Tapi ada titik terang setelah dijelaskan barang tersebut untuk keperluan
seminar dan tidak untuk komersial. 

“Akhirnya, tu prosiding bisa keluar dan sekarang udah
dikirim ke Denpasar….” SMS teman saya semalam. Wuah legaaa, akhirnya…. 

Pelajaran yang bisa diambil:
        1. Jangan sampai tidak tahu bobot barang kiriman orang ke kita kalau 
nggak mau kena masalah di bea cukai…*aneh juga ;-p
        2. Perlu tahu peraturan pengiriman dan penerimaan barang di bea cukai 
*cari tau dimana yak?*
        3. Saat-saat genting dan panik biasanya selalu ada orang-orang baik dan 
tulus yang bersedia membantu, yang penting jangan lupa terus berdoa :-)
 
Have a nice day!


      

Kirim email ke