puisi yang menyentuh....
penontooon.....tepuk tangan ah.....

On Mon, Dec 22, 2008 at 8:14 PM, tiarrahman <[email protected]> wrote:

>   Sebuah tugas mulia, sang wanita di atas bumi. Selamat Hari Ibu...
> semoga keikhlasan-mu, mendapatkan ridho-Nya. Amiin.
>
> Puisi Ke Dua Puluh Sembilan (dari Buku Bantu Aku by Tiar Rahman)...
>
> -I-
>
> simfoni sederhana yang kau dendangkan
> mengantarkan aku yang ada dalam buaian
> yang penuh doa dan harapan
> "cepatlah besar anakku sayang
> permata bunda seorang
> jadilah orang berguna, nanda tersayang
> bagi agama, nusa, dan insan"
> ya Tuhanku
> kabulkanlah doanya
> amin.
>
> -II-
>
> bu...
> tahukah kau betapa senangnya
> diri ini kau sebut permata
> sungguh bu…. walau kadang aku malu
> bukan karena apa-apa bu
> sebab diri ini merasa tak pantas, bu
>
> tapi bu...
> katamu adalah doa bagi jiwaku
> terima kasih ibu
>
> -III-
>
> ibu...
> permatamu ini membayangkan
> betapa berat kau menggendongku
> aku enak saja melingkar di rahimmu
> dan kadang sempat pula menendangmu
> selama sembilan bulan sepuluh hari itu
> dan kau pertaruhkan jiwamu sendiri
> untuk kelahiranku ini
>
> dan ibu, aku adalah bayi yang nakal
> yang merengek, sedang engkau sibuk di dapur
> yang menangis, sewaktu kau sedang tidur
> yang mengotori tangan dan bajumu, yang membuatmu kerja lembur
> aku... ibu, aku malu kau sebut permata
> tapi bu... ucapanmu adalah doa
> yang tak dapat ditandingi oleh segenap semesta
>
> -IV-
>
> bu....
> masih terbayang di mata ini
> ketika nanda terjatuh, ibu yang mengaduh
> ketika nanda terluka, ibu yang berduka
> ketika nanda berdarah, ibu yang susah
> ketika nanda sakit, ibu yang menangis
> ketika nanda dimarah ayah, ibu yang gelisah
> selalu siap menjadi tempatku mengadu
> seakan kau membagi
> separuh jiwamu untukku
>
> -V-
> setelah ku besar
> banyak tingkahku yang membuatmu gusar
> tetapi bu... mengapa engkau tetap bersabar
> mendidik dan mengajar
> dengan senyum kau berujar
> "jadilah manusia yang wajar
> yang bisa mengendalikan nafsu yang liar
> dan tetap langkahkan kakimu
> di jalan yang benar"
> ibu... hati yang nakal ini menjadi tawar
> dada yang sempit menjadi lebar
> sebab nasihatmu ibarat air yang segar
> di tengah kehausan pada teriknya siang hari di padang datar
>
> -VI-
> ibu...
> nanda kini kembali
> tak terbersit di hati ini
> ingin menyusahkanmu lagi
> inilah saatnya nanda membalas budi
> dengan kasih yang suci
> berbakti setulus hati
> bu... nanda merasa fakir
> jika senyummu tak jua hadir
> lalu apalah guna nanda terlahir?
>
> bu... rasanya tetap tak pantas
> diri ini kau sebut permata
> tapi buu... perkataanmu adalah doa
> bagi tubuh dan jiwa nanda
> bahagia rasanya mengingat
> simfoni sederhana yang kau cipta
> tapi bu.. aku tahu
> engkaulah permata itu
> bahkan permata di atas permata
> benar 'kan bu..?
> bu... berdoalah bu..
> sebab doamu tiada berbatas dengan langit
> semoga tak pernah habis di bumi ini
> permata yang paling permata seperti ibunda
>
> bu… kau tersenyum,
> senyum termanis
> yang pernah nanda lihat di atas dunia
> bahagianya
>
> 
>



-- 
Komarudin Ibnu Mikam
WTS - Writer Trainer Speaker
komarmikam.multiply.com
0818721014-33113503
karya-karya ;
Novel Intelijen SOA (luxima)
sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
prahara buddenovsky (GIP)
dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
merit yuk! (qultum media)
rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)

Kirim email ke