Bos... perbandingannya kurang seimbang tuh...
coba kalau... 
Pengusaha Muslim vs Karyawan Muslim:::
 
1. Pengusaha Muslim belum tahu apa yang akan terjadi besok, Karyawan Muslim pun 
belum tahu apa yang akan terjadi esok harinya... customer marah, jaringan 
komputer lagi down, budget yang sudah disetujui dibatalkan, pengetatan 
anggaran... apalagi krisis global sekarang... membuat karyawan Muslim pun jauh 
lebih tawakal kepada Allah, terus berdo'a dan berusaha profesional bagaimanapun 
kondisi perusahaannya...
 
2. Siapa bilang karyawan Muslim bergantung kepada Bos/Perusahaan/gaji 
bulanan/kartu kredit??? Karyawan Muslim hanya beribadah dan bersyukur kepada 
Allah atas potensi yang telah Allah berikan kepadanya... karyawan Muslim akan 
selalu terikat kontrak hanya dengan Allah saja, Allah lah yang memberikan 
rizki-Nya pada dirinya, bukan perusahaan..
 
3. Menjadi karyawan harus jauh lebih hati-hati dan berusaha agar tetap bersih, 
peduli dan profesional... semakin dia profesional, Insya Allah amanah/karir 
yang lebih besar akan dipercayakan kepada dia
 
4. Karyawan Muslim tidak akan NRIMO atas kezaliman yang terjadi pada dirinya 
atau rekan kerjanya... kesabaran karyawan Muslim justru teruji manakala dia 
harus melakukan inisiatif dan kreativitas membantu dirinya/rekan 
kerjanya/atasan/perusahaan untuk lebih maju dan berkembang dengan segala 
kondisi yang ada...
 
5. Karyawan Muslim akan terus dan tetap Bersih, Peduli dan Profesional sambil 
berusaha untuk perform yang terbaik untuk berada di top position level of the 
company... Insya Allah, jika saya menjadi CEO perusahaan ini, kontribusi untuk 
donasi perjuangan ke Palestina akan jauh lebih besar...dan bahkan ketika telah 
berada dijajaran CEO, akan diajaklah seluruh elemen perusahaan untuk peduli 
dengan Palestina dan tragedi kemanusiaan lain yang menimpa umat Muslim di 
belahan bumi yang lain, kemudian secara perlahan dan pasti.. nilai-nilai dan 
budaya dalam perusahaan itu akan semakin mewujudkan nilai-nilai Islam dalam 
keseharian aktivitasnya...
 
6. Karyawan Muslim akan berkolaborasi dengan pengusaha Muslim yang lain untuk 
menjadi suplier/provider/vendor di perusahaannya...
 
7. Karyawan Muslim akan membangun jaringan karyawan dan pengusaha Muslim untuk 
menguatkan dan membangkitkan kembali ekonomi umat sebagai kekuatan baru bagi 
dunia yang sudah lama dikuasai oleh Yahudi... 
 
8. Karyawan Muslim bersama jaringan karyawan Muslim dan pengusaha Muslim 
lainnya menjadi kekuatan besar yang akan menjadi pertimbangan dan 
referensi bagi seluruh negara-negara di dunia dalam mengambil kebijakan bagi 
negerinya masing-masing, sehingga keadilan dan kesejahteraan akan dinikmati 
oleh seluruh umat manusia dan meraka akan merasakan manisnya buah Islam yang 
diwujudkan oleh Karyawan Muslim 
 
Salam,
Didit, 
Karyawan Muslim


--- On Tue, 2/10/09, Nugroho Laison <[email protected]> wrote:

From: Nugroho Laison <[email protected]>
Subject: [sma1bks] [Article] Pengusaha Muslim vs Karyawan :::
To: "Rumah Ilmu Indonesia" <[email protected]>, "SMA 1 Bekasi" 
<[email protected]>, "Komunitas Tarbawi" 
<[email protected]>, "Mualaf Indonesia" 
<[email protected]>, "Aisha Chuang" <[email protected]>, 
"Dana Abadi Umat" <[email protected]>, "Pengajian Kantor" 
<[email protected]>, "Alumni AnNabaa" <[email protected]>, 
"Alumni Majelis Taklim Alkhowarizmi" <[email protected]>, "Muslim 
Binus" <[email protected]>
Date: Tuesday, February 10, 2009, 9:20 PM












Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi! !!

http://nugon19. blogs.friendster .com/my_blog/
http://nugon19. multiply. com/journal






--- In majelisrasulullah@ yahoogroups. com, "MK. Mattawaf" <mk_mtw...@.. .> 
wrote:


Bp / Ibu mau jadi karyawan terus ?
atau jadi karyawan sementara untuk cari modal
agar bisa jadi pengusaha ?
 
memang sebaiknya jadi pengusaha saja, agar harap2 cemasnya pada Allah
terus dirasakan, ibadahnya tidak terganggu, tidak takut dipecat Bos.
bisa banyak bedo`a ditengah malam, tidak ada korupsi waktu atau lainnya.
berikut postingan menarik dari tetangga.
 
MK
===========
Dari: Fadil Basymeleh <fadi...@...>
Topik: [pengusaha-muslim] 
Kepada: pengusaha-muslim@ yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 10 Februari, 2009, 12:29 PM
===========

 
Pengusaha Muslim vs. Karyawan

1. Menjadi pengusaha muslim akan membuat tawakal kita kepada Allah Ta'ala lebih 
kuat dari karyawan, karena tidak jelasnya keadaan hari esok, kita benar2 tidak 
tahu apa yang akan terjadi, semua serba tidak terduga, banyak hal yang 
menakutkan yang membebani pikiran seorang pengusaha yang hanya dapat 
ditenangkan dengan banyak berdoa dan bertawakal. 

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan 
(keperluan)nya. " QS Ath Thalaaq : 3

2. Menguatkan aqidah, bahwa hanya Allah-lah tempat bersandar, bukan uang 
tabungan di bank, bukan kartu kredit, bukan bos, dst... tidak ada siapa2 tempat 
bersandar selain Allah Ta'ala. Sedangkan menjadi karyawan umumnya akan merasa 
tenang dengan jaminan gaji yang rutin tiap bulannya, seolah-olah perusahaan 
selamanya akan tetap ada sehingga dapat menjamin rezekinya.

"Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari 
langit dan bumi?" QS. Faathir : 3

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara 
mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan 
sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian 
mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik 
dari apa yang mereka kumpulkan." QS. Az Zukhruf : 32

3. Memaksa kita untuk lebih hati-hati, lebih bertakwa, karena kalau kita 
berbuat maksiat akan menyebabkan Allah murka, dimana ada dua kemungkinan yaitu 
jika Allah sayang kepada kita maka jalan kita dibuat sulit dan rezeki sempit, 
tujuannya agar kita sadar dan kembali kejalan yang benar, sedangkan jika Allah 
tidak sayang, maka bisnis tambah maju pesat, uang semakin banyak, tanpa ada 
kesulitan sama sekali, semua itu agar kita semakin lalai dan hanyut dalam 
kesesatan. Jadi harus extra hati2 dan lebih bertaqwa agar jalan kita lebih 
mudah. 

"Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa." QS Yunus : 17

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan 
keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya"  QS 
Ath-Thalaaq : 65

4. Melatih kesabaran yang sesungguhnya, karena banyak masalah dan kesulitan 
yang membuat kita marah, tertekan, stress, dsb... tapi kalau kita sabar justru 
akan membuka jalan untuk kesuksesan, karena sabar dalam Islam adalah kita 
menerima takdir yang sudah terjadi tapi terus berusaha untuk maju dan berbuat 
sesuatu untuk merubah keadaan agar lebih baik dari sebelumnya, bukan diam tidak 
berbuat apa2. Sedangkan menjadi pegawai yang terjadi lebih banyak NRIMO 
daripada sabar, karena kita terpaksa pasrah tidak bisa berbuat apa2 jika 
terjadi kedzaliman atau income yang kurang, komplain bisa2 dipecat.

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, 
sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." QS Al Baqarah : 153

5. Optimis akan terwujudnya cita2 dalam kebaikan, misalkan kita bercita-cita 
"InsyaAllah kalau omzet ana sudah sekian... ana bisa membantu keluarga yang 
tidak mampu, membangun masjid, membuat pesantren, membangun rumah sakit, 
dsb..." cita-cita ini memiliki harapan besar untuk terjadi jika sebagai 
pengusaha, karena sebagai pengusaha semuanya serba mungkin, tinggal masalah 
waktu dan takdir Allah, sedangkan kalau jadi pegawai rasanya bermimpi saja 
sudah tidak mungkin, sangat berat untuk bercita2 seperti itu, karena income 
fix, dipotong biaya2 rutin sudah jelas sisanya tinggal sedikit yang kemungkinan 
besar habis untuk hal2 yang tidak terduga, seperti biaya untuk berobat karena 
sakit, dsb... tentunya bukan tidak mungkin itu terjadi pada seorang karyawan 
tapi dari proses/ikhtiar yang ada membuatnya tampak tidak mungkin, karena 
income sudah dapat diproyeksi sekian-sekian dari gaji yang diperoleh (kecuali 
Allah menakdirkan lain).

"Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." QS. ath-Thalaq:7

Allahu'alam

--- End forwarded message ---

















      

Kirim email ke