Mestinya tidak vs tapi cs/dan, karena kategori akhlatul khorimah tidak
melihat jabatan & posisi dunia.

Mis : tentang sabar, ikhlas, ridho krn Allah, leadership, dll setiap Muslim
mesti ada.

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Didit Rahardi
Sent: Thursday, February 12, 2009 9:47 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [sma1bks] [Article] Pengusaha Muslim vs Karyawan :::

 


Bos... perbandingannya kurang seimbang tuh...

coba kalau... 

Pengusaha Muslim vs Karyawan Muslim:::

 

1. Pengusaha Muslim belum tahu apa yang akan terjadi besok, Karyawan Muslim
pun belum tahu apa yang akan terjadi esok harinya... customer marah,
jaringan komputer lagi down, budget yang sudah disetujui dibatalkan,
pengetatan anggaran... apalagi krisis global sekarang... membuat karyawan
Muslim pun jauh lebih tawakal kepada Allah, terus berdo'a dan berusaha
profesional bagaimanapun kondisi perusahaannya...

 

2. Siapa bilang karyawan Muslim bergantung kepada Bos/Perusahaan/gaji
bulanan/kartu kredit??? Karyawan Muslim hanya beribadah dan bersyukur kepada
Allah atas potensi yang telah Allah berikan kepadanya... karyawan Muslim
akan selalu terikat kontrak hanya dengan Allah saja, Allah lah yang
memberikan rizki-Nya pada dirinya, bukan perusahaan..

 

3. Menjadi karyawan harus jauh lebih hati-hati dan berusaha agar tetap
bersih, peduli dan profesional... semakin dia profesional, Insya Allah
amanah/karir yang lebih besar akan dipercayakan kepada dia

 

4. Karyawan Muslim tidak akan NRIMO atas kezaliman yang terjadi pada dirinya
atau rekan kerjanya... kesabaran karyawan Muslim justru teruji manakala dia
harus melakukan inisiatif dan kreativitas membantu dirinya/rekan
kerjanya/atasan/perusahaan untuk lebih maju dan berkembang dengan segala
kondisi yang ada...

 

5. Karyawan Muslim akan terus dan tetap Bersih, Peduli dan Profesional
sambil berusaha untuk perform yang terbaik untuk berada di top position
level of the company... Insya Allah, jika saya menjadi CEO perusahaan ini,
kontribusi untuk donasi perjuangan ke Palestina akan jauh lebih besar...dan
bahkan ketika telah berada dijajaran CEO, akan diajaklah seluruh elemen
perusahaan untuk peduli dengan Palestina dan tragedi kemanusiaan lain yang
menimpa umat Muslim di belahan bumi yang lain, kemudian secara perlahan dan
pasti.. nilai-nilai dan budaya dalam perusahaan itu akan semakin mewujudkan
nilai-nilai Islam dalam keseharian aktivitasnya...

 

6. Karyawan Muslim akan berkolaborasi dengan pengusaha Muslim yang lain
untuk menjadi suplier/provider/vendor di perusahaannya...

 

7. Karyawan Muslim akan membangun jaringan karyawan dan pengusaha Muslim
untuk menguatkan dan membangkitkan kembali ekonomi umat sebagai kekuatan
baru bagi dunia yang sudah lama dikuasai oleh Yahudi... 

 

8. Karyawan Muslim bersama jaringan karyawan Muslim dan pengusaha Muslim
lainnya menjadi kekuatan besar yang akan menjadi pertimbangan dan referensi
bagi seluruh negara-negara di dunia dalam mengambil kebijakan bagi negerinya
masing-masing, sehingga keadilan dan kesejahteraan akan dinikmati oleh
seluruh umat manusia dan meraka akan merasakan manisnya buah Islam yang
diwujudkan oleh Karyawan Muslim
<http://mail.yimg.com/a/i/mesg/tsmileys2/03.gif> 

 

Salam,

Didit, 

Karyawan Muslim



--- On Tue, 2/10/09, Nugroho Laison <[email protected]> wrote:

From: Nugroho Laison <[email protected]>
Subject: [sma1bks] [Article] Pengusaha Muslim vs Karyawan :::
To: "Rumah Ilmu Indonesia" <[email protected]>, "SMA 1 Bekasi"
<[email protected]>, "Komunitas Tarbawi"
<[email protected]>, "Mualaf Indonesia"
<[email protected]>, "Aisha Chuang" <[email protected]>,
"Dana Abadi Umat" <[email protected]>, "Pengajian Kantor"
<[email protected]>, "Alumni AnNabaa"
<[email protected]>, "Alumni Majelis Taklim Alkhowarizmi"
<[email protected]>, "Muslim Binus" <[email protected]>
Date: Tuesday, February 10, 2009, 9:20 PM




Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi! !!

http://nugon19. blogs.friendster .com/my_blog/
http://nugon19. multiply. com/journal



 


--- In majelisrasulullah@ yahoogroups. com, "MK. Mattawaf" <mk_mtw...@.. .>
wrote:

Bp / Ibu mau jadi karyawan terus ?

atau jadi karyawan sementara untuk cari modal

agar bisa jadi pengusaha ?

 

memang sebaiknya jadi pengusaha saja, agar harap2 cemasnya pada Allah

terus dirasakan, ibadahnya tidak terganggu, tidak takut dipecat Bos.

bisa banyak bedo`a ditengah malam, tidak ada korupsi waktu atau lainnya.

berikut postingan menarik dari tetangga.

 

MK

===========

Dari: Fadil Basymeleh <fadi...@...>
Topik: [pengusaha-muslim] 
Kepada: pengusaha-muslim@ yahoogroups. com
Tanggal: Selasa, 10 Februari, 2009, 12:29 PM
===========


 

Pengusaha Muslim vs. Karyawan

1. Menjadi pengusaha muslim akan membuat tawakal kita kepada Allah Ta'ala
lebih kuat dari karyawan, karena tidak jelasnya keadaan hari esok, kita
benar2 tidak tahu apa yang akan terjadi, semua serba tidak terduga, banyak
hal yang menakutkan yang membebani pikiran seorang pengusaha yang hanya
dapat ditenangkan dengan banyak berdoa dan bertawakal. 

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan)nya. " QS Ath Thalaaq : 3

2. Menguatkan aqidah, bahwa hanya Allah-lah tempat bersandar, bukan uang
tabungan di bank, bukan kartu kredit, bukan bos, dst... tidak ada siapa2
tempat bersandar selain Allah Ta'ala. Sedangkan menjadi karyawan umumnya
akan merasa tenang dengan jaminan gaji yang rutin tiap bulannya, seolah-olah
perusahaan selamanya akan tetap ada sehingga dapat menjamin rezekinya.

"Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari
langit dan bumi?" QS. Faathir : 3

"Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan
antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah
meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar
sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu
lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." QS. Az Zukhruf : 32

3. Memaksa kita untuk lebih hati-hati, lebih bertakwa, karena kalau kita
berbuat maksiat akan menyebabkan Allah murka, dimana ada dua kemungkinan
yaitu jika Allah sayang kepada kita maka jalan kita dibuat sulit dan rezeki
sempit, tujuannya agar kita sadar dan kembali kejalan yang benar, sedangkan
jika Allah tidak sayang, maka bisnis tambah maju pesat, uang semakin banyak,
tanpa ada kesulitan sama sekali, semua itu agar kita semakin lalai dan
hanyut dalam kesesatan. Jadi harus extra hati2 dan lebih bertaqwa agar jalan
kita lebih mudah. 

"Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa." QS Yunus :
17

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan
keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya"  QS
Ath-Thalaaq : 65

4. Melatih kesabaran yang sesungguhnya, karena banyak masalah dan kesulitan
yang membuat kita marah, tertekan, stress, dsb... tapi kalau kita sabar
justru akan membuka jalan untuk kesuksesan, karena sabar dalam Islam adalah
kita menerima takdir yang sudah terjadi tapi terus berusaha untuk maju dan
berbuat sesuatu untuk merubah keadaan agar lebih baik dari sebelumnya, bukan
diam tidak berbuat apa2. Sedangkan menjadi pegawai yang terjadi lebih banyak
NRIMO daripada sabar, karena kita terpaksa pasrah tidak bisa berbuat apa2
jika terjadi kedzaliman atau income yang kurang, komplain bisa2 dipecat.

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." QS Al
Baqarah : 153

5. Optimis akan terwujudnya cita2 dalam kebaikan, misalkan kita bercita-cita
"InsyaAllah kalau omzet ana sudah sekian... ana bisa membantu keluarga yang
tidak mampu, membangun masjid, membuat pesantren, membangun rumah sakit,
dsb..." cita-cita ini memiliki harapan besar untuk terjadi jika sebagai
pengusaha, karena sebagai pengusaha semuanya serba mungkin, tinggal masalah
waktu dan takdir Allah, sedangkan kalau jadi pegawai rasanya bermimpi saja
sudah tidak mungkin, sangat berat untuk bercita2 seperti itu, karena income
fix, dipotong biaya2 rutin sudah jelas sisanya tinggal sedikit yang
kemungkinan besar habis untuk hal2 yang tidak terduga, seperti biaya untuk
berobat karena sakit, dsb... tentunya bukan tidak mungkin itu terjadi pada
seorang karyawan tapi dari proses/ikhtiar yang ada membuatnya tampak tidak
mungkin, karena income sudah dapat diproyeksi sekian-sekian dari gaji yang
diperoleh (kecuali Allah menakdirkan lain).

"Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." QS.
ath-Thalaq:7

Allahu'alam



--- End forwarded message ---

 



Kirim email ke