Udah dapat yang ini?? ---------- Forwarded message ---------- From: Mochammad Taufik <[email protected]> Date: 2009/2/21
Kalau belum pernah dapat sebelumnya.... Hukumnya menurut ustadz gimana? ----- Forwarded Message ---- *From:* Drs Sugiono <> _______________________________ sebuah tulisan yang (menurut saya) layak menjadi bahan renungan semoga bermanfaat salam, harmiel >From: Sirikit Syah <sirikitsah> >Date: Tue, 17 Feb 2009 18:39:45 -0800 (PST) >Subject: sharing opini tentang amplop > >Tulisan di bawah ini sudah dimuat di Surabaya Post Sabtu kemarin. > >Rezeki yang halal akan terus memburu dan menemukanmu  “Bila >seseorang datang pada saya menyodorkan uang Rp 935.750.200, yang >katanya uang ’amplop’ yang pernah saya tolak, lalu diinvestasikan >ke usahanya, kemudian berkembang, dan dinyatakan sebagai hak saya, apa >yang harus saya lakukan?†tanya seorang wartawan, berkonsultasi pada saya. > >Sungguh pertanyaan yang tidak mudah, dan kasus yang tidak lazim. Saya >kemudian mewawancarainya beberapa kali (lewat email). Pertanyaan saya >antara >lain: “Apakah ketika membuat beritanya dulu, Anda obyektif, jujur, >tanpa tendensi apapun? Atau, apakah Anda menulis berdasarkan 'pesanan' >dengan harapan akan imbalan, namun kemudian segan dan memutuskan >menolak amplopnya?†> >Inilah jawaban wartawan sang wartawan: > >Sekitar 25 tahun yang lalu, saya reporter lapangan, setiap hari >melewati sebuah sungai kotor di Jakarta Barat. Setiap hari saya melihat >seorang pemulung memungut sampah-sampah plastik, kardus, dan botol. >Saya terusik untuk mencari tahu, itu sampah mau diapakannya. Suatu >waktu saya mampir ke gubuknya, dan saya takjub. Semua sampah itu >diolahnya dengan mesin buatannya sendiri. Sampah plastik dijadikan biji >plastik, kardus dijadikan bubur kertas, dan botol dilumatkan jadi serbuk kaca. >Pemulung ini bercerita, ide itu ia dapatkan ketika menonton TVRI. Hasil >produksinya diterima sebuah pabrik di Pulogadung. Sebagai reporter, >saya tertarik lalu mewawancarainya, mengikutinya mulai dari memulung >sampah, mengolahnya, sampai pengiriman ke Pulogadung. Pemulung ini >bercita-cita, tabungan dari hasil jualan produksinya, akan dibelikannya >mesin yang lebih ’benar’ dan menyewa gudang untuk pabrik >’beneran’. Nah, saya kemudian menulis kisahnya yang hidup dari sampah. >Rupanya, seorang direktur Bapindo membaca reportase itu. Saya dihubungi >sekretarisnya, dimintai alamat si pemulung, karena Bapindo akan >membantu dengan KMKP (Kredit Modal Kerja Permanen). Enam bulan >kemudian, si pemulung, masih dengan tampilan yang sederhana, >mengunjungi saya di kantor. Ia mengucapkan terima kasih ada bank yang >membantu mewujudkan mimpinya. Lalu ia menyerahkan sebuah amplop tebal. >Katanya, itu ungkapan terima kasih atas bantuan saya. Saya menolaknya. >Saya bilang padanya: â€Pak, saya menulis tentang bapak karena saya >merasa terusik melihat bapak setiap pagi ngacak-ngacak sungai. Saya >nggak minta bayaran. Kalau bapak dibantu bank, Alhamdulillah, berarti >bapak dapat kesempatan untuk maju. Maaf pak, saya tidak mau terima.†>Dia menatap saya sambil menangis. Lalu katanya, â€Pak, saya akan >simpan uang ini, dan saya jadikan modal ikutan dalam perusahaan saya. >Teserah bapak mau terima atau tidak, nama bapak ada dalam daftar >pemegang saham perusahaan saya. Saya tahu bapak ikhlas menolong saya, >tapi saya tidak mau melupakan jasa bapak. Kalau bapak tidak membuat >berita tentang saya, mungkin saya masih ada di sungai itu saban pagi.†Ia menyalami saya, dan pergi. >Saya tidak tahu berapa isi amplop itu. >Lalu semuanya berlalu, tahun berjalan, saya sudah lupa. Beberapa bulan >lalu, pagi-pagi, saya ditelepon seorang laki-laki: â€Masih ingat saya, >pak?†Lalu ia terus bicara dan sampailah pada inti pembicaraan pagi >itu, â€Pak, uang bapak masih saya simpan.†Dan ia pun menjelaskan >bagaimana uang itu â€bekerja†di perusahaannya. Sekarang jumlahnya >hampir Rp 1 M. Nah, apakah saya boleh menerima uang itu? >Sungguh unik persoalan ini. Setelah berinteraksi, akhirnya saya tahu >saya dan wartawan bersangkutan pernah bekerja di institusi yang sama, >yaitu RCTI, kami seusia, dan saya sangat mengenalnya. Namun tulisan itu >dibuatnya sebelum dia bekerja di RCTI. Kisah ini nyata dan bukan karangan. >Setelah mempelajari kasusnya, mengecek berbagai definisi ’amplop’ >di berbagai kode etik, dan merenung berdasarkan nalar dan hati nurani, >saya >memutuskan: â€Uang tu hak Anda, terimalah.†Eh, bukannya bergembira, >wartawan itu tidak berani menerimanya. Alasannya, dia tak mau menjilat >ludahnya sendiri (dulu menolak kok sekarang menerima), dan Ustadznya >mengatakan itu uang haram. >Saya kira, keputusan akhir memang di tangan dia. Apakah dia merasa >nyaman menerima atau tidak menerimanya, sepenuhnya hak dia. Namun saya >ingin menjelaskan mengapa uang yang hampir Rp 1 M itu saya anggap sebagai haknya? >Uang itu lolos dari semua rambu kode etik tentang amplop wartawan: >wartawan menulis tanpa tendensi, bukan suap, bukan sogokan, dan tidak >mempengaruhi liputan. Paling banter, ini bisa disebut uang gratifikasi, >dan gratifikasi tidak dilarang â€"setidaknya belum diatur- dalam kode etik jurnalistik. >Lebih dari itu, ini kasus yang diawali 25 tahun yang lalu. Hati nurani >dan akal budi saya mengatakan, seseorang tak dapat lari dari rezekinya. >Sang wartawan telah menghindari rezekinya 25 tahun yang lalu, namun >rezeki itu masih menjadi haknya, dan memburunya hingga sekarang. >Seseorang yang berniat baik (wartawan) bertemu dengan seorang lain yang >sama baiknya (pemulung yang menjadi pengusaha). Berapa banyak pengusaha >besar yang ingat jasa wartawan >25 tahun lalu, kemudian memberikan haknya sesuai janjinya (menjadikan >’amplop’ sebagai saham)? Allah menjanjikan, orang baik akan >dipertemukan dengan orang baik, dan rezeki yang halal tak dapat dihindari. >Itulah sekelumit kisah tentang amplop wartawan. Sementara itu, dunia >pers Indonesia saat ini sedang diguncang oleh skandal harian Sinar >Indonesia Baru di Medan. Koran ini ditengarai memprovokasi massa selama >tiga tahun belakangan ini dalam hal Propinsi Tapanuli. Dalam kasus >tewasnya Ketua DPRD Sumut, awak redaksinya termasuk tersangka karena >menerima uang jutaan rupiah dari dalang Protap, dan turut menyebarkannya pada pendemo. >Ini tentu masih perlu dibuktikan kebenarannya. Namun itulah dunia pers, >ada yang betul-betul membela rakyat, ada yang membela kepentingan >golongan tertentu; ada yang menolak amplop, ada yang menerima amplop. >Semoga kita semua belajar dari kisah akhir pekan ini. > > >Sirikit Syah, Februari 2009 > ___________________________________
