Moms penting nich, jd parno d, btw apa iya jd kudu berobat ma " ponari " 
 
oci - indung na Rafa








Hidup Ponari, tabib asli made in Indonesia!

 Andito (Adit)
+628111800723
andito...@yahoo. com
www.maulanusantara. wordpress. com
www.anditoaja. wordpress. com




----- Forwarded Message ----
From: Joko P <jok_mp...@yahoo. com>
To: majelismuda@ yahoogroups. com; fsi-community@ yahoogroups. com; 
karisma-itb@ yahoogroups. com; proyek_...@yahoogro ups.com; islam_...@yahoogrou 
ps..com
Sent: Thursday, March 19, 2009 2:02:11 PM
Subject: [karisma] Hati-hati Pada Dokter!!





Assalamu 'Alaikum Wr. Wb.
 
Kpd Sahabat2ku sekalian ini ada informasi yg bagus dari milis sebelah

 











 
Mon Mar 9, 2009 8:13 pm (PDT) 

ketika dokter indonesia sudah "menjual" hati nuraninya, kemanakah kita bila 
sakit? 



Billy N. <bi...@konsulsehat. web.id> 
reply-to        se...@yahoogroups. com 
to        e- Sehat <konsulsehat@ yahoogroups. com> 
date        Sat, Mar 7, 2009 at 10:48 AM 
subject        [sehat] hati-hati pada dokter? 

halo rekan-rekan. 
... 
Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru meminta 
rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan 
Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai 'caveat venditor' 
(produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) . 

Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam 
berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu 
RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani 
sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau 
perkembangan kondisinya. 

Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, 
padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, 
hanya merasa badannya agak lemas. Mulai di UGD sudah 'mencurigakan' , karena 
saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa 
dengar berbagai keterangan/penjelas an & pertanyaan dari dokter & perawat yang 
menurut saya 'menggelikan' . Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih 
bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu. 

Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru tes 
EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu 
prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin 
(obat untuk penyakit lambung), padahal dia nggak sakit lambung, & nggak 
mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan 
sampel darah ke lab. 

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal 
besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti 
ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep 
nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang 
praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya 'bagus & 
pintar', ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu 
ada di RS. 

Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab 
macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya minta 
Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional. 

Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite & nggak 
komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat untuk 
menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung, di resep 
tertulis obat Ondansetron  suntik, obat mual/muntah untuk orang yang sakit 
kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi muntah sama 
sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang nggak 
sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang 
sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak. 

Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya 
lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya 
hanya beli suplemen vitamin aja dari resep. 

Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya 'obat suntiknya mana?', saya 
jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah seperti 
menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter & saya yang 
merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya pada saya. 
Malah saya dipanggil ke nurse station & diminta tandatangani surat refusal 
consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat. 

Saya beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani, 
itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung. Sementara dokter saat 
visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia berikan. Saya 
tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'. 

Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD juga. 
Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal & sudah 2 
dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia ada infeksi 
bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain.. Saat 
dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong 'sakit ya?', 
'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya', visite nggak sampai 3 
menit saya hitung. 

Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak 
komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya 
ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang. Saya jadi 
membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun ternyata 
pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun oleh 
obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat 'miskin' untuk membeli obat-obat yang 
mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah 'dibayar' cukup mahal 
ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien 
sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya 
untuk menunggu dokter visite. 

Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya 
yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa 
bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan & jadi 
racun di tubuhnya. 

Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat inap 
di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil Jateng 
akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat yang 
nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya. 

Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau 
mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN. Semoga bisa 
berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar berhati-hati & 
kritis pada pengobatan dokter. 
rgds 
Billy

therizkiw*




 
.. 



















      

Kirim email ke