Sdr pinto, tidak ada tuduhan disini. Sy menggambarkan fenomena di media,
dll.

 

Paragraf2 anda diawal sudah cukup jelas, yakni bgmn proses2 jika kita
mendapatkan kesulitan dalam kasus2 hal ini. 

Kalo penjelasan ini, masyarakat makin banyak tahu, sy kira sangat membantu.
Krn akan meningkatkan kepercayaan terhadap dokter-dokter kita yg baik.

 

Sekalian saja nih, jika ada kasus2 sperti ini hub sj saya, krn kebetulan sy
juga konsultan hukum. 

Selain itu sebaiknya berobat ke dokter2 kita yg baik, karena ini lbh
dianjurkan oleh agama, lebih ilmiah.

 

 

 

 

 

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Pinto Sjafri
Sent: Friday, March 27, 2009 9:23 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [sma1bks] Hati-hati Pada Dokter!!

 

Halo irzan, silahkan cek ke bagian medikolegal di rscm, tempatnya sama
dengan bagian forensik rscm, biasanya kalau ada kasus disana tu dibahas nya.
AFAIK banyak kok yang sudah dicabut dari jaman dulu, silahkan bertanya
kesana kalau anda ingin datanya, cuman ngga terliput saja oleh teman teman
wartawan, AFAIK dulu disana tempat sidang para tersangka atau saksi, kalau
ada masalah dalam profesi, saya yakin disana paling lengkap datanya kalau
anda ingin data data terdahulu, yang anda katakan tidak ada dokter yang
dicabut ijin prakteknya. Tapi tentu untuk data tersebut didapatkan perlu
ijin membuka data, untuk ijin dan lainnya silahkan kesana.

Ohya irzan ada bukti? Adanya malpraktek? Kalau ada silahkan kirimkan saja ke
makamah konsil kedokteran indonesia anda bisa download form dan lain lain
nya di site konsil kedokteran indonesia, www.inamc.or.id 

Kalau disana bukan hanya izin praktek yang dicabut tetapi STR (surat tanda
registrasi) pun dapat dicabut. Tidak punya STR = bukan dokter.

Kalau anda kurang puas silahkan laporkan kepolisi, kalau ada tindakan
pidana.

Tapi hati hati kalau tuduhan palsu, bisa berbalik kepada anda. Karena
kayaknya para dokter sendiri sudah mulai gerah, jangan sampai anda yang
terkena.

Mudah mudahan bisa berguna.

-- 
Best regards,
-Pinto Sjafri- 
~Work like you don't need the money~ 
~Love like you've never been hurt~ 
~Dance like nobody is looking~
Sent from BlackBerryR
powered by Sinyal Kuat INDOSAT

  _____  

From: "Irzan Supriyadi" 
Date: Fri, 20 Mar 2009 08:29:45 +0700
To: <[email protected]>
Subject: RE: [sma1bks] Hati-hati Pada Dokter!!

Setuju Bung, sebaiknya subjeknya kita revisi "Hati-hati Pada Dokter!!"
menjadi "Hati-hati Dengan Oknum Dokter!!".

 

Untuk tahu seorang dokter berpotensi menjadi ato pernah menjadi oknum ato
tidak, sebaiknya kita punya bekal data tentang ref. dokter & RS yg menurut
kita bisa dipercaya. Jika kondisi emergency, segera saja pindah ketika sudah
mendapat pertolongan stabilisasi.

 

Kasus malpraktek sudah sering terjadi, namum belum pernah saya mendengar IDI
mencabut ijin seorang dokter apalagi mencabut gelar dokter. Kalo dimiliter
selain dipecat juga dicabut profesi militernya demikian juga pengacara,
notaris, dll, kalo mereka malaction, maldesicion tentu dicabut izin
profesinya selain dipecat. Bukankah dokter setara dengan pejabat Negara yg
tidak digaji oleh Negara (kecuali PNS), spt halnya profesi lainnya. UU
Kesehatan thn 2004 dan lembaga IDI dgn Counsilnya belum optimal dalam
penanganan malpraktek, mal-resep, dll malesiin deh..

 

Brgkali teman2 dokter bisa men-share fenomena2 tsb.

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Morry Infra
Sent: Thursday, March 19, 2009 3:28 PM
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Subject: Re: [sma1bks] Hati-hati Pada Dokter!!

 

Dr. Billy,

 

Jujur... saya percaya cuma 75% ceritanya...

Kalau memang ini bener terjadi... and real...

Gileeeeeee beneeeeeeeeeeeeeeer...

Tapi... tolong dong.... detail RS, nama dokternya.... biar bisa
di-recheck... bukan cuma fitnah...

 

Kayaknya dugaan saya ketika masa sekolah dulu ... terbukti benar....

 

But....semoga aja ini cuma ulah rumah sakit yang nge-push dokternya
ketimbang dokternya sendiri yang berbisnis....

Kasihan dokter2...

 

Namun saya percaya... masih banyak kok dokter yang baik....

Saya cuma suudzon sama Rumah sakitnya....

Cerita di bawah gak fair juga cuma nyalahin dokternya... harusnya RS-nya
disebut dong... biar bisa di-counter check.

Dr. Billy,

Boleh dong di-share RS mana yang begini nich....

At least buat shock terapi buat mereka dan awareness buat kita2...

Jangan dokter yang disalahin... takutnya itu policy RS tersebut.

Kasih no telponnya.... biar jadi kasus yang diangkat ketimbang cuma rumor
lewat email...

Takutnya cuma fitnah.

 

Salam,

Morry Infra

+966-533214840

2009/3/19 Rosi Januari <[email protected]>



Moms penting nich, jd parno d, btw apa iya jd kudu berobat ma " ponari "
Error! Filename not specified.

 

oci - indung na Rafa

 

Hidup Ponari, tabib asli made in Indonesia!

 

Andito (Adit)
+628111800723
andito...@yahoo. com
www.maulanusantara. <http://www.maulanusantara.wordpress.com/>  wordpress.
com
www.anditoaja. <http://www.anditoaja.wordpress.com/>  wordpress. com 

 

 

----- Forwarded Message ----
From: Joko P <jok_mp...@yahoo. com>
To: majelismuda@ yahoogroups. com; fsi-community@ yahoogroups. com;
karisma-itb@ yahoogroups. com; proyek_...@yahoogro ups..com;
islam_...@yahoogrou ps.com <http://ps.com/> 
Sent: Thursday, March 19, 2009 2:02:11 PM
Subject: [karisma] Hati-hati Pada Dokter!!

Assalamu 'Alaikum Wr. Wb.

 

Kpd Sahabat2ku sekalian ini ada informasi yg bagus dari milis sebelah


 

 

 



 <http://profiles.yahoo.com/nieta_wen>  


Mon Mar 9, 2009 8:13 pm (PDT) 




ketika dokter indonesia sudah "menjual" hati nuraninya, kemanakah kita bila
sakit? 



Billy N. <bi...@konsulsehat. web.id <http://web.id/> > 
reply-to        se...@yahoogroups.. com 
to        e- Sehat <konsulsehat@ yahoogroups. com> 
date        Sat, Mar 7, 2009 at 10:48 AM 
subject        [sehat] hati-hati pada dokter? 

halo rekan-rekan. 
.. 
Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru meminta
rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan
Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai 'caveat venditor'
(produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) . 

Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit
demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di
salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD
saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi
sangat saya tau perkembangan kondisinya. 

Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak
mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak
demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas. Mulai di UGD sudah
'mencurigakan' , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas
di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas an & pertanyaan
dari dokter & perawat yang menurut saya 'menggelikan' . Pasien pun diperiksa
ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama,
82 ribu. 

Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru
tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa
itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat
Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal dia nggak sakit lambung, &
nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke
mengantarkan sampel darah ke lab. 

Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal
besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti
ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep
nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang
praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya 'bagus &
pintar', ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore
selalu ada di RS. 

Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab
macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya
minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional. 

Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite & nggak
komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat
untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung,
di resep tertulis obat Ondansetron  suntik, obat mual/muntah untuk orang
yang sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi
muntah sama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena
Abang nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi
padahal Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak. 

Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya
lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya
hanya beli suplemen vitamin aja dari resep. 

Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya 'obat suntiknya mana?', saya
jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah
seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter &
saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya
pada saya. Malah saya dipanggil ke nurse station & diminta tandatangani
surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat. 

Saya beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang
tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung. Sementara
dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia
berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'. 

Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD
juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal &
sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia ada
infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang
lain. Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong
'sakit ya?', 'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya',
visite nggak sampai 3 menit saya hitung. 

Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak
komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya
ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang. Saya jadi
membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun ternyata
pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun
oleh obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat 'miskin' untuk membeli
obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah
'dibayar' cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien 
sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya

untuk menunggu dokter visite. 

Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya
yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa
bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan &
jadi racun di tubuhnya. 

Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat
inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil
Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat
yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya. 

Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat
kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN. Semoga
bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar
berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter. 
rgds 
Billy

therizkiw*




 

 

.

Error! Filename not specified.

 

 

 



Kirim email ke