yup... saya juga jadi teringat ketika anak saya sakit dan di bawa ke rumah sakit ibu dan anak (RSIA) yang sangat terkenal di bekasi barat, obat2an yang saya tebus cukup lumayan dan dokternya sangat minim memberikan info ke saya serta istri (paling cuma 3 menit) dan sakitnya juga ga sembuh, sejak itu saya pindah RS dan puji Tuhan dokternya sangat ramah dan informatif... penyakit anak sembuh...
--- On Thu, 3/19/09, ACHMAD SUTRIADI <[email protected]> wrote: From: ACHMAD SUTRIADI <[email protected]> Subject: Re: [sma1bks] Hati-hati Pada Dokter!! To: "[email protected]" <[email protected]> Date: Thursday, March 19, 2009, 3:14 PM Hmm.... Jadi ingat beberapa tahun lalu... 10 bulan pasca Operasi Bedah tulang Flavicula Sinistra, saya coba mengecheck kondisi Tulang saya di RS Swasta Terkenal Bekasi Barat... Setelah mendapatkan hasil Rontgen, saya sempat tanya kepada Petugas Radiologi, dan basically petugas tsb bilang kondisi Tulang sudah bagus (bekas Fracture sudah rapat)... Ketika saya mengunjungi Dokter xxx SPOB yang membedah saya, dokter tsb pun bilang Tulang sudah bagus, dan bulan depan bisa dilakukan operasi pencabutan Pin yg menempel di Tulang Flavicula Sinistra saya... Tapi herannya setelah konsul Dokter masih memberikan resep, dan ketika saya tanya ini resep utk apa, Dokter hanya bilang untuk vitamin saja.... Ketika sampai di Instalasi Farmasi, saya menanyakan resep tsb ke Asisten Apoteker (dulu resepnya masih belum menggunakan online system). Dan saya terkejut karena Asisten Apoteker tsb menjelaskan bahwa dokter menuliskan resep beberapa obat-obatan dengan jumlah yang banyak (untuk konsumsi selama 3 bulan).... Alamak.... Apakah para Dokter saat ini lebih fokus ke Target Penjualan Obat dibandingkan Kesembuhan O/S (Pasien)?? Mudah-mudahan itu hanyalah segelintir oknum dokter yang jumlahnya tidak lebih banyak dari Dukun Palsu di Negeri ini... (Tapi apa iya...?) ------- Original Message ------- Sender : andito aja<andito...@yahoo. com> Date : Mar 19, 2009 14:18 (GMT+07:00) Title : [sma1bks] Hati-hati Pada Dokter!! Hidup Ponari, tabib asli made in Indonesia! Andito (Adit) +628111800723 andito...@yahoo. com www.maulanusantara. wordpress. com www.anditoaja. wordpress. com ----- Forwarded Message ---- From: Joko P <jok_mp...@yahoo. com> To: majelismuda@ yahoogroups. com; fsi-community@ yahoogroups. com; karisma-itb@ yahoogroups. com; proyek_...@yahoogro ups.com; islam_...@yahoogrou ps.com Sent: Thursday, March 19, 2009 2:02:11 PM Subject: [karisma] Hati-hati Pada Dokter!! Assalamu 'Alaikum Wr. Wb. Kpd Sahabat2ku sekalian ini ada informasi yg bagus dari milis sebelah Mon Mar 9, 2009 8:13 pm (PDT) ketika dokter indonesia sudah "menjual" hati nuraninya, kemanakah kita bila sakit? Billy N. <bi...@konsulsehat. web.id> reply-to se...@yahoogroups. com to e- Sehat <konsulsehat@ yahoogroups. com> date Sat, Mar 7, 2009 at 10:48 AM subject [sehat] hati-hati pada dokter? halo rekan-rekan. .. Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai 'caveat venditor' (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) . Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya. Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas. Mulai di UGD sudah 'mencurigakan' , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas an & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya 'menggelikan' . Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu. Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal dia nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab. Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya 'bagus & pintar', ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS. Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional. Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite & nggak komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung, di resep tertulis obat Ondansetron suntik, obat mual/muntah untuk orang yang sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi muntah sama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak. Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep. Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya 'obat suntiknya mana?', saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter & saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya pada saya. Malah saya dipanggil ke nurse station & diminta tandatangani surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat. Saya beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung. Sementara dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'. Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal & sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia ada infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain. Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong 'sakit ya?', 'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya', visite nggak sampai 3 menit saya hitung. Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang. Saya jadi membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun ternyata pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat 'miskin' untuk membeli obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah 'dibayar' cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya untuk menunggu dokter visite. Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan & jadi racun di tubuhnya. Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya. Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN. Semoga bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter. rgds Billy therizkiw* . Achmad Sutriadi Strategy and Planning Procurement OMS Division PT Samsung Electronics Indonesia
