A great lesson for today!!! Terima kasih Pak Muhammad, Semoga Allah SWT memberikan reward untuk anda....amien....
Wassalam, Morry Infra +966-533214840 2009/4/29 Ghozali, Muhammad N <[email protected]> > *Di Fwd dari salah satu discussion board facebook; > * > Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan hamba-Nya yang > satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan > bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang > pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau > seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh > anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis. > > Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai > supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, > puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, > apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau > bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi > saya dan kebanyakan orang lain. > > Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi > beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 > juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. > Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum > mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya. > > Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah > hotel di Bandung. Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. > Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, > maka beliau pun akan "tidur". Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya > ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan. > > Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, "Pak, Anda saat ini kan bisa > dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu > menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?" > > Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius. > > "Ada empat hal yang harus Anda perhatikan," begitu beliau memulai > penjelasannya. > > *RAHASIA PERTAMA* > > "Pertama. *Jangan lupakan orang tuamu, khususnya ibumu*. Karena ibu adalah > orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan > lebih, itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit > sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu. Ibu bagaikan > pengeran katon (Tuhan yang kelihatan). > > Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, > sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan > dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun > ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. > Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya > sendiri belum dihajikan. Itu terbalik. > > *Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu... baru kemudian ayahmu dan gurumu.** > Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama > untuk berdoa. Maka doa ibumu jauh lebih mustajabah."* > > > > Beliau mengambil napas sejenak. > > *RAHASIA KEDUA* > > "Kemudian yang kedua," beliau melanjutkan. *" Banyaklah bersedekah. Allah > berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. > Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah > membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. > Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, > terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, kesempatan, dan > lain-lain*. > > Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepadamu. Karena > saat itulah sebenarnya Anda dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu > dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, > lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar > uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua > tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk > (menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan > terketuk hatinya, 'Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku > seperti ini.' Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan Anda dengan > kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan. > > Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan > ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu > rejekinya sendiri. > > Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau > jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan > selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan > sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar > dan betapa berterima kasihnya. > > *RAHASIA KETIGA* > > "Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak > disangka-sangka, " begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia > ketiganya. "Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat > terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya." > > "Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang > bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan > memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga" , saya menimpali > (QS Ath Thalaq 2-3). > > "Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak > diduga-duga? ," tanya beliau. > > "Ya, bagaimana caranya?" jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, > menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim > rejeki itu datang untuk kita. > > *"Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau > ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!" jawaban beliau ini > membuat saya berpikir keras. "Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang > tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah > akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula."** > * > "Walau pun itu orang kaya?" tanya saya. > > "Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin > dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda > temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah." > > "Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, > datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura > belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah > ibadah, sebenarnya dia makan sendiri," saya bertanya lagi. > > "Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu," jawab beliau. "Kalau > Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu > sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang > benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah > yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang > menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda." > > *RAHASIA KEEMPAT* > > Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak > menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu > serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia > seperti yang dikatakan beliau sebelumnya. > > "Yang keempat nih, Mas," beliau memulai. *"Jangan mempermainkan wanita".* > > Hm... ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat > janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan > wanita menunggu? Seperti di film-film saja. > > "Maksudnya begini. Anda kan punya istri, atau suami. Itu adalah pasangan > hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan > rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk > keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut besama Anda di kala Anda susah, > penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda > dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil." > > "Lalu?" saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya. > > "Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, > lalu menikah lagi. Atau mulai bermain wanita (atau bermain pria, bagi yang > perempuan). Baik menikah lagi secara terang-terangan, apalagi diam-diam, itu > menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu > mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. > Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda > menduakannya. " > > Oh... pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati. > > "Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya > banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. > Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya > uangnya habis untuk biaya sana-sini. *Banyak orang yang jatuh karena hal > seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya > andil dalam kesuksesan dirinya," beliau melanjutkan.** > * > Hal ini saya buktikan sendiri, setiap saya datang ke rumahnya yang di Waru > Sidoarjo, saya menjumpai beliau punya 1 istri, 2 anak laki-laki dan 1 anak > perempuan. > > Perbincangan ini ditutup ketika kemudian ada tamu yang datang.... > > > *KEDAHSYATAN SEDEKAH* > > Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala, dan melipatgandakan rezeki; > sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu > terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga > tujuh ratus kali lipat. Masya Allah! > > Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang > disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Rasul sendiri membuat > perbandingan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, > Rasulullah SAW bersabda, "Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun > bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah > diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran > akan penciptaan gunung tersebut. > > Kemudian mereka bertanya, 'Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu > yang lebih kuat dari pada gunung?'. > > Allah menjawab, 'Ada, yaitu besi'. > > Para malaikat pun kembali bertanya, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam > penciptaan-Mu yang lebih kuat dari besi?'. > > Allah menjawab, 'Ada, yaitu api'. > > Bertanya kembali para malaikat, 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam > penciptaan-Mu yang lebih kuat dari api?'. > > Allah menjawab, 'Ada, yaitu air'. > > 'Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?' > tanya para malaikat. > > Allah pun menjawab, 'Ada, yaitu angin'. > > Akhirnya para malaikat bertanya lagi, 'Ya Allah adakah sesuatu dalam > penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?'. > > Allah yang Mahakaya menjawab, 'Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan > sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya' > ." > > > > *Subhanallah....* > > > > > > > > > > > ------------------------------ > The contents of this email, including all related responses, files and > attachments transmitted with it (collectively referred to as “this Email”), > are intended solely for the use of the individual/entity to whom/which they > are addressed, and may contain confidential and/or legally privileged > information. This Email may not be disclosed or forwarded to anyone else > without authorization from the originator of this Email. If you have > received this Email in error, please notify the sender immediately and > delete all copies from your system. Please note that the views or opinions > presented in this Email are those of the author and may not necessarily > represent those of Saudi Aramco. The recipient should check this Email and > any attachments for the presence of any viruses. Saudi Aramco accepts no > liability for any damage caused by any virus/error transmitted by this > Email. >
