Kacau neh si Dicky. Kalo ngomong ceplas ceplos kayak reman babelan. Top
lah...buat gue Dicky mewakili sisi bandelnya gue.

Cuman, gue mau diskusinya jangan dilariin ke arah yang begubed begitu. Kan,
bisa kita angkat menyangkut fenomena pertanian di negeri ini. Yang lama
kelamaan kehilangan identitas. Kagak ada strategi kompehensif untuk
mendorong pertanian menjadi THE BEST.

Pepaya Bangkok
Apel Amerika

Ubi jalar di Thailand jadi makanan kerajaan. Di sana didorong orang untuk
nanem ubi. Di sini, orang malu makan ubi. Lebih bergengsi makan kentutki or,
mAk Di. Padahal semuanya itu ayam dipaksa gede. Yang digedein selama 12
hari.

sayur pucung gabus di Bekasi itu jadi makanan nomor wahid. Wah, jangan ngaku
orang kaya kalu belon makan pucung gabus. Tapi, lihatlah sendiri....bupati
Anda itu. Kagak ada sedikitpun kebijakan mikro yang menyentuh. Coba
kalo mereka gunakan otak. Mikir gimana caranya budi daya gabus. Atau, budi
daya belut.

Arrtinya, ada kelebihan lah begitu. Makanya Ky,ntar kalo Bekasi Utara
terbentuk, gue gedor supaya dibangun Kawasan Agropolitan.  Kawasan modern
metropoolis berbasi pertanian. Gue munculin lagi tuh betok gombang. Udang
galah sembilangan. Dan lain-lain....

udah ah......

2009/6/30 Dicky Kurniawan <[email protected]>

>  Tapi ada juga bukan lulusan pertanian malah berdedikasi di bidang
> tanam-menanam....
> Tapi ada juga (bahkan) gak lulus sekolah tapi minat tinggi pada bidang
> tanam-menanam...
>
> Memangnya kenapa kalo lulusan IPB gak kerja di dunia pertanian sesuai
> jurusannya???
> Gua lulusan HI pengennya juga jadi diplomat ato kerja di PBB...tapi nyasar
> jadi kulipanggul televisi.....
>
> Prabowo yang Jenderal aja gak pernah turun sawah jaman dulu tiba-tiba jadi
> ketua HKTI....kapan maculnya tu orang???
>
>
> *It's only a transition...
>
> Dicky Kurniawan
> *News Camera Person
> *NEWS DIVISION
> PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV)
> Gd. Trans TV 3rd Fl.
> Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A
> Jakarta Selatan 12790
> *+628174964705
> [email protected]
> [email protected]
> omongkosongku.blogspot.com
>
> answerlieswithin.multiply.com
>
>
>
>
>
>
>  ------------------------------
> *From:* "[email protected]" <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Monday, June 29, 2009 8:56:41 AM
> *Subject:* Re: Re: [sma1bks] Fwd: Memihak Petani?
>
>  Maaf pak Yudi. Saya alumni IPB dan sekarang saya bekerja di perusahaan
> yang 100% berhubungan dengan pertanian. Hampir 40% pekerja disini berasal
> dari IPB. Meski saya dan teman2 disini belum bisa berdedikasi penuh pada
> pertanian Indonesia. Tapi harapan itu masih ada, langkah yang di ambil
> memang tidak terlalu prestisius dan wahhh. Tapi kami sedang mencoba.
>
> Paradigma bahwa anak muda tidak mau bekerja di ranah pertanian itu mungkin
> memang benar adanya, tapi yang kenyataan yang sebaliknya pun ada. Hanya saja
> mungkin anda belum menemui secuil aktifitas keberadaan kami.
>
> Regards,
>
> Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
> Teruuusss... !
>
> ------------------------------
> *From*: "Yudi Setiawan"
> *Date*: Mon, 29 Jun 2009 08:51:38 +0700
> *To*: <sma1...@yahoogroups .com>
> *Subject*: Fw: Re: [sma1bks] Fwd: Memihak Petani?
>
>    Hal ini juga dapat dilihat..... .skarang mana Ada lulusan dari IPB yang
> Mau bekerja untuk ngurusin masalah pertanian, perikanan atau perkebunan,
> Yang Ada mereka kerja dikantor-kantor yang nggak Ada hubungannya
> dengan hal tersebut.... .contohnya perbankan... .gimana mau maju pertanian
> Kita??
>
>  *-------Original Message----- --*
>
>  *From:* komarudin ibnu mikam <[email protected]>
> *Date:* 6/27/2009 7:36:23 PM
> *To:* sma1...@yahoogroups .com <[email protected]>
> *Subject:* Re: [sma1bks] Fwd: Memihak Petani?
>
>
> Ini tema yang menarik. Mengapa petani miskin?
>
> kalau dari pandangan saya, Pemerintah gagal menanamkan ke benak khalayak
> kalau menjadi petani itu pekerjaan bergengsi, popular dan gaul gitu lho....
>
> Tanya anak2 sekarang, pekerjaan apa yang paling diidamkan. Pasti jawabannya
> MENJADI ARTIS!
>
> Saya punya teman, aluMni sma 1. Anak seorang petani malah jadi guru dan
> usaha cetakan. Ada juga anak pengusaha tahu yang kuliah di ui, malah kerja
> ama jepun.
>
>
> Artinya, selain pendektan peraturan dan legal formal, perlu juga pendekatan
> kultural.
>
> Pun tetap, da;am konteks ini pendekatan strutur emang amat bermasalah.
> Misalnya kebijakan pemda kabupaten Bekasi, lebih ke industrialisasi. Bukan
> ke pertanian.
>
> mana mungkin petani bisa kaya?
>
> 2009/6/27 Morry Infra <morry.infra@ gmail.com <[email protected]>>
>
>
>  Opini Prof. Widjajono Partowidagdo yang lain lagi....
> Tapi masih sejalan...soal energi... tapi nendang2 hal2 kelakuan aneh orang
> Indonesia...
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Widjajono Partowidagdo <>
> Date: 2009/6/27
> Subject:  Memihak Petani?
> *Memihak Petani?*
> Dari jaman dulu juga Petani tidak keluar dari garis kemiskinan karena harga
> pupuk disubsidi (apalagi sebagian pupuk diekspor). Kalau mau mensejahterakan
> Petani berlakukan saja Pajak untuk Lahan Menganggur seperti di Jepang..
> Akibatnya Orang2 Kaya yang mempunyai lahan di Pedesaan mau tidak mau harus
> memberdayakan lahannya. Kalau yang mengusahakan Orang Kaya maka dia
> mempunyai akses ke Modal, Teknologi, Pasar dan informasi lainnya (paling
> tidak dia bisa mengakses internet). Orang Kaya bisa Kontrak Bagi Hasil
> dengan Petani, sehingga Petani tambah Pintar dan Sejahtera. Di Jepang tidak
> ada lahan menganggur. Kalau tidak untuk bangunan dan industri, ya untuk
> pertanian, taman dan hutan.
>
> Kenapa produktivitas pertanian kita rendah?. Kenapa Petani kita miskin?.
> Jawabnya adalah karena yang mengelola lahan kita adalah Petani yang kurang
> berpendidikan dan tidak mempunyai akses ke Modal, Teknologi, Pasar dan
> Informasi lainnya. Di Amerika Petani Kacang, Jimmy Carter, bisa jadi
> Presiden.
>
> Kenapa kebanyakan Alumni IPB tidak jadi Petani? Mereka banyak yang kerja di
> Bank, jadi Wakil Rakyat, di Pemerintah dan sebagainya. Kenapa kursi di
> Fakultas Pertanian Unpad kabarnya hanya sepertiga terisi?. Kenapa orang Desa
> lebih suka jadi Pembantu, Kuli Bangunan dan Sopir (Baik di Kota Besar di
> Indonesia maupun di Malaysia dan di Negara2 lain) daripada jadi Petani.
> Jawabnya karena jadi Petani untungnya kecil, bahkan sering rugi. Kenapa?
> Karena harga Produk Pertanian rendah. Di Jepang harga beras 500 Yen per kilo
> (40 ribu). Di Niko, jagung godok 500 Yen. Di Jepang harga produk pertanian
> domestik lebih mahal dari produk impor dan Orang Menengah dan Kaya Jepang
> tetap beli produk domestik. Hanya orang miskin dan orang asing yang beli
> produk impor. Akibatnya Petani senang dan Jepang bisa Swa Sembada beras.
>
> Harga produk yang rendah selalu merugikan Produsen dan Investor. Sebaiknya
> harga produk dibuat wajar saja. Bukankah $6,5/MMBTU hanya setara $39/barel
> minyak?. Akibatnya kita bisa mengembangkan gas secara optimal, disamping
> mempunyai dana dari Bagian Pemerintah untuk membangun Infrastruktur,
> meningkatkan Kualitas Informasi Migas untuk daerah2 yang ditawarkan,
> meningkatkan Kemampuan Nasinal, membangun Pabrik Petrokimia dan
> mengembangkan Energi Non Migas termasuk Energi Pedesaan.
>
> Dijamin, kalau harga gas $6,5/MMBTU maka CBM akan berkembang dimana mana.
> Kalau dihargai Rp. 5.500/ liter maka biodiesel dan bioetanol bisa masuk
> pasar sehingga diusahakan orang. Kalau tarif listrik 8c/KWH (bukan
> $6,5c/KWH) maka Panasbumi berkembang dimana mana. Untuk orang miskin tarif
> listrik tetap $6c/KWH, dengan syarat hanya 900 watt dan pemakaiannya hemat.
> Kalau boros maka kelebihannya $8c/KWH (Salahnya, sudah miskin boros
> lagi...). Bukankah listrik ada meternya?. Seorang teman di Singapura bilang:
> " Orang Kaya di Indonesia enak. Harga Energi dan Pangan murah. Bayar Pajak
> bisa Nego. Urusan dengan Pemerintah bisa Cincay."
>
> Perlu disadari bahwa "Ekonomi Kerakyatan (Kesejahteraan) " tidak bisa jalan
> begitu saja. Perlu dukungan Peraturan2 serta Moral dan Keseriusan
> Stakeholders (Pemerintah, Pengusaha, Akademisi/ Ulama dan Rakyat). Kalau
> tidak, maka dia hanya merupakan "Dagangan" waktu Pemilu dan "Lebih
> Mensejahterakan" yang dagang sesudahnya.
>
> Salam,
> Widjajono
>
>
>
> --
> Komarudin Ibnu Mikam
> WTS - Writer Trainer Speaker
> komarmikam.multiply .com <http://komarmikam.multiply.com/>
> 0818721014-33113503
> karya-karya ;
> Novel Intelijen SOA (luxima)
> sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
> prahara buddenovsky (GIP)
> dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
> sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
> nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
> merit yuk! (qultum media)
> rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)
>
>
>
>
> [image: FREE Animations for your email - by IncrediMail! Click 
> Here!]<http://www.incredimail.com/index.asp?id=109094&rui=88238988>
>
>


-- 
Komarudin Ibnu Mikam
WTS - Writer Trainer Speaker
komarmikam.multiply.com
0818721014-33113503
karya-karya ;
Novel Intelijen SOA (luxima)
sekuntum cinta untuk istriku (GIP)
prahara buddenovsky (GIP)
dinda izinkan aku melamarmu (KBP)
sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat)
nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat)
merit yuk! (qultum media)
rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)

Kirim email ke