http://www.radarbuton.com/index.php?act=news&nid=31759
Jumat, 26 Jun 2009, | 8
Demi Beras, Daya Tawar dan Kim Jong-un
Korut Jadikan Nuklir sebagai Kartu AS Diplomasi
TAK
usah takjub melihat keberanian Korea Utara (Korut) melecehkan resolusi
1718 PBB bertarikh 2006 yang melarang mereka menguji coba nuklir dan
misil. Tak perlu heran mendengar bagaimana kemarin negeri yang sebagian
dari 23,9 juta rakyatnya dililit kelaparan itu bisa mengancam akan
menghapuskan Amerika Serikat (AS) dari peta bumi hanya gara-gara
kapalnya dibuntuti.
Ya, tak perlu penasaran mengapa negeri tetangga Korea Selatan (Korsel)
yang bulan lalu meminta bantuan beras ke Tiongkok itu bisa demikian
keras kepala. Karena, negeri komunis itu memang punya kartu As yang
membuat kekuatan apapun di dunia ini gentar. Apa itu? Nuklir!
Korut tahu betul bagaimana memanfaatkan kemampuan nuklirnya untuk
berdiplomasi. Dengan nuklir, negeri di Semenanjung Korea itu bisa
dengan mudah menggaet bantuan, mulai beras sampai bahan bakar. Jadi,
berbagai sanksi dan resolusi PBB pun tak begitu berdampak bagi mereka.
Dengan nuklir pula, negeri yang secara teknis masih berada dalam status
perang dengan Korsel itu mampu mengerek daya tawarnya saat bernegosiasi
dengan musuh-musuhnya.
Selama tiga tahun terakhir, Korut tercatat dua kali melakukan uji bom
nuklir dan sejumlah tes misil. Lee Sang-hyun, seorang analis dari
Sejong Institute, Lembaga Studi Pertahanan Korsel, mengatakan, Korut
akan terus menguji coba senjata nuklirnya hingga menguasai teknologi
untuk menempatkan hulu ledak pada misilnya. Teknologi itu akan
menguatkan kekuasaan Kim Jong-un, calon suksesor Kim Jong-il, saat
berkuasa nanti.
"Status Kim Jong-un masih tidak jelas. Kim Jong-il tampil untuk
mewariskan senjata yang hebat untuk medukung proses suksesinya,'' kata
Lee sebagaimana dilansir BBC. "Nantinya Kim Jong-un juga akan dihormati
karena pengembangan teknologi nuklir negaranya."
Analisa Lee itu sudah terbukti dengan menguatnya bargaining position
Korut di matas AS. Sejak dulu, Korut memang ingin bernegosiasi langsung
dengan Negeri Paman Sam, tanpa melalui perantaraan negara atau badan
apapun.. Mereka belajar dari pengalaman Tiongkok yang menggunakan
ancaman nuklir untuk memaksa AS di era Presiden Richard Nixon untuk
mengkaji ulang hubungan kedua negara.
Penguasa Gedung Putih saat ini, Barack Obama memberikan perhatian lebih
pada informasi intelijen Jepang yang menyatakan adanya kemungkinan
Korut meluncurkan rudal jarak jauhnya Taepodong-2 tepat pada peringatan
Hari Kemerdekaan AS 4 Juli mendatang.
"Kami siap mengantisipasi serangan apapun dari Korea Utara," kata Obama.
AS juga langsung mengirim utusan ke Tiongkok, sekutu terdekat Korut di
Asia. Tujuannya, meminta Tiongkok membujuk Korut untuk meghentikan
program nuklirnya dan bersedia berunding lagi. Bagaimanapun caranya.
Tak hanya itu. Menteri Pertahanan AS Robert Gates menegaskan pihaknya
telah memobilisasi peralatan militer darat anti-nuklir dan radar yang
bisa menembak jatuh nuklir dalam jarak menengah.
Korut juga membuat Barat panas-dingin dengan taktik tarik ulurnya dalam
soal lanjutan perundingan enam negara (six party-talks). Setelah
menarik diri dan mengaktifkan kembali reactor Yongbyon, Pyongyang
kemudian berubah sikap dengan membuka diri. Tapi, beberapa hari
belakangan, mereka kembali garang. Barat pun bingung bagaimana harus
menghadapi negeri misterius ini. Lagi-lagi ini kemenangan diplomatis
Korut.
Sebenarnya, sikap bebal Korut bukan tanpa alasan. Pada 2005, dalam
perjanjian enam negara, telah disepakait penghentian program nuklir
Korut dengan kompensasi bantuan ekonomi dan jaminan keamanan. Bahkan
pada 2007, reaktor Yongbyon dinonaktifkan. Namun, kesepakatan itu gagal
karena rezim Korsel yang berganti dari moderat ke konservatif di bawah
kepemimpinan Lee Myung-bak menolak memberikan bantuan kepada Korsel.
Alasan lain Korut bersikeras mempertahankan program nuklirnya terkait
perkara keamanan. Misalnya, soal penempatan 27 ribu tentara AS di
Korsel dan 47 ribu lainnya di Jepang. Korut pun otomatis merasa
terancam. Ditambah lagi rencana peralihan kekuasaan dari Kim Jong-il ke
putra termudanya, Kim Jong-un.
Tapi, benarkah Korut telah menguasai teknologi rudal jarak jauh?
Sejumlah pihak meragukan hal itu. Kepala Staf Gabungan AS-Korsel
Jenderal James Cartwright mengatakan, Korut masih perlu 3-5 tahun untuk
membuktikan ancaman tersebut. Namun, Tiongkok mengingatkan, bahwa
ancaman serangan nuklir Korut ke negara-negara yang dianggapnya
mengancam tak main-main. (cak/ttg)
Toby Fittivaldy
Fis2 '94