Perilaku Yang Tak Berubah

Menarik sekali membaca Opini Bagus Takwin di Kompas, Jumat 26/6 lalu. Dia 
mengangkat persoalan perilaku orang Indonesia yang menurutnya sejak dulu sampai 
sekarang tidak berubah. Menarik untuk dicermati sekaligus miris. 

Sebelumnya, soal perilaku orang Indonesia ini juga pernah diangkat oleh Mochtar 
Lubis di bukunya yang berjudul Manusia Indonesia (kalo nggak salah). Meski tu 
buku terkenal banget, tapi terus terang sampai sekarang saya juga belum pernah 
membacanya..hehehe (so kalo ada anggota milis ini yang pernah baca, sharing 
dong ;). Intinya, ada sejumlah kritik buat kita, manusia Indonesia agar...mau 
berubah. 

Sejumlah kebiasaan orang Indonesia yang tidak berubah misalnya: tidak mau 
antri, mengemudi tanpa mengikuti aturan, dan kebiasaan menggerutu (ngedumel di 
belakang?). Selain itu perilaku yang cenderung percaya pada takhayul dan 
ramalan, untuk sekedar mencari jalan pintas (short cut) sehingga praktik 
perdukunan dan paranormal bukannya berkurang malah kian menjamur (ingat soal 
Ponari) makin membuat perilaku orang Indonesia kian ajeg. Ibarat kata, daripada 
beda mendingan ho'oh aja dah, ntar pamali! Weleh... (buat yang bermukim di luar 
Indonesia, mungkin bisa ngerasain banget perbedaan-perbedaan perilaku itu ya)

Menurut Bagus Takwin, semua itu disebabkan karena minimnya orang Indonesia yang 
mau menggunakan kekuatan nalarnya dibandingkan dengan kekuatan kebiasaan yang 
terlanjur melingkupi hidupnya. Aktivitas pikiran jadi tumpul karena selalu 
digerus oleh kenyataan dalam kehidupan sehari-hari yang telah biasa melekat 
pada masyarakat. Lalu kita juga terbiasa mencari aman saja. Tidak sedikit dari 
kita yang patah arang hanya karena takut dengan "Apa kata orang nanti??"

Tampil beda (berubah) jadi momok yang menakutkan, karena segala sesuatu sudah 
'terbentuk dan dibentuk' oleh lingkungan menjadi 'seperti itu' adanya. Tidak 
heran jika meski sudah belajar jauh-jauh dan lama di luar negeri, begitu 
kembali ke tanah air...dia kembali pada 'kepribadiannya' yang dulu, 
jejeg..ajeg..ga ada yang berubah.

Mungkin itu juga yang bikin begitu banyak orang Indonesia 'studi banding' ke 
luar negeri, tapi begitu udah balik.. jadi 'gagu' lagi dan nggak bisa berbuat 
apa-apa. Seolah-olah dia tidak pernah melihat segala keteraturan yang pernah 
dia pelajari juga di sana. Kalaupun masih ingat dan tahu apa yang harus 
dilakukan, ia tetap tidak bisa melakukan. Kalau kata guru saya yang Ph.D. orang 
Indonesia itu "berpikir A, mengatakan B, dan melakukan C" alias kagak ada 
singkron-singkronnya antara pikiran, perkataan dan perbuatan. Wuiiih... makin 
miris *sambilmelihatkedirisendiri*

Solusinya adalah (menurut Bagus Takwin): tetap aktif menggunakan nalar (dan 
menjadikannya kekuatan) dan meminimalisir situasi inkonsisten dengan menerapkan 
aturan secara konsisten (ini terutama tugas pemerintah untuk melanjutkan/ 
mem-follow up-i seluruh aturan yang sudah ada). Kalau tidak...sampe ke anak 
cucu dan cicit orang Indonesia tetep akan begini-begini aja...hiks..

Have a nice day!


ps. penulis menyarankan untuk membaca tulisan aslinya di Kompas, Jumat 26/6 
hal. 6 kol.2 :)


      

Kirim email ke