The alumni,

Menentukan equilibrium antara tujuan corporate dan masyarakat sekitar
corporate tidak mudah maka perlu variasi program dan bersifat dinamis, mis:

-          Jk pendek = membantu infrastruktur, 'memberikan' pekerjaan yg low
skill, dll.

-          Jk panjang = memberdayakan masyarakat sekitar 'terpilih' untuk
tenaga skill, mitra bisnis/pekerjaan/ukm yg memeliki value added bagi PARA
PIHAK, dll.

Tentunya ini dikemas dlm forum komunikai 2 arah, misalkan : kira2 bertema
"lo perlu apa, gua siap apa sekarang", jadi dari sisi corporate menyampaikan
kesiapan terhadap permasalahan yg timbul akibat dari keputusan bisnis-nya.
Brgkali ada yg terlewat pd saat corporate melakukan fs/business plan-nya.

 

Sebagai ice breaking-nya, mesti ada political power (tokoh, aparat,
perangkat, dll) yg bicara dan panggil Pertamina untuk ini, itupun kalau
Pertamina mau punya bisnis sustainable.

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Morry Infra
Sent: Wednesday, July 01, 2009 12:04 AM
To: 'sma1bks'
Subject: [sma1bks] Fwd: Bls:Fwd: Suara dari seorang warga Bekasi Utara buat
Pertamina

 






Bang Komar,

 

Di-respond nich....

Tapi memang tajeeem.....

 

Salam,

Morry Infra

+966-533214840

---------- Forwarded message ----------
From: Eko Tjahjo P <>
Date: 2009/6/30
Subject: Bls:Fwd: Suara dari seorang warga Bekasi Utara buat Pertamina

 


Selama ini yang dipikirken cuman "rebutan kue" aja. Pertamina diporotin
habis2an untuk bangun jalanlah...inilah...itulah. 

Konsep otonomi daerah sebetulnya sudah jelas dengan adanya Perimbangan
Keuangan Pusat dan Daerah.

Karena rendahnya 'law enforcement Pemda', biasanya otonomi daerah selalu
diplesetken manjadi "putra daerah". Pekerja Rig harus putra daerah walaupun
pegang kunci buaya tidak biasa, konsultanpun harus putra daerah walaupun SD
pun jarang tamat, cadangan minyakpun sepertinya milik putra daerah (bukan
milik negara seperti UUD pasal 33).  Dikasih sepeda masih protes. Tinggal
nerima aja protes. Kalau nggak cocok  kan bisa minta lagi yang lain. Untuk
pemberdayaan ekonomi setempat juga ada konsep "bapak angkat"  atau "kredit
bersyarat sangat lunak sekali". walaupun konon tidak sedikit yang ngemplang.
Kalau menurut saya ini bukan semata-mata masalah "pemerataan kue" tapi
"state of mind" /sikap mental.. Mungkin pemberdayaan material akan lebih
berhasil jika diiringi dengan pemberdayaan mental spritual agar lebih bisa
mensikapi pemberian dengan rasa syukur, karena biasanya kemiskinan material
selalu bersanding dengan kemiskinan mental-spiritual.

 

salam

 

 

etp '85

 

 

 

 

 

 

 

 

 



--- Pada Sen, 29/6/09, Morry Infra <[email protected]> menulis:


Dari: Morry Infra <[email protected]>
Topik: Fwd: Suara dari seorang warga Bekasi Utara buat Pertamina
Tanggal: Senin, 29 Juni, 2009, 11:36 PM

---------- Forwarded message ----------
From: komarudin ibnu mikam <komaribnumikam@ gmail.com
<http://us.mc657.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> >
Date: 2009/6/30


Pak Morry, 
 
Saya bukannya anti terhadap pembangunan. Khususnya Pertamina. Saya pahami
ini dalam konteks kepentingan nasional. Persoalannya, saya melihat tidak ada
Grand skenario untuk pembangunan di wilayah pengeboran minyak. Blue print
untuk pembangunan baik daerah maupun SDM-nya. 
 
Sebagai contoh, rencana eksploitasi dan eksplorasi kan sudah ada jauh-jauh
hari. Betul? Lalu, adakah progam pemerintah dan Pertamina untuk menyiapkan
SDM-nya. Mengapa sampai sekarang gak ada SMK Perminyakan. AKAdemi
perminyakan. Atau, apalah.... 
 
Tidak ada program konkrit-integrated- berorientasi masa depan mempersiapkan
SDM untuk menyongsong perubahan. Lha, sekarang ketika tereak-tereak menuntut
hak, mereka bilang..."LIhat, apa yang bisa digunakan dalam konteks
profesional?"
 
"ini high invest!"
"Ini high technologi.. ..!"
 
Lha, jangan salahin rakyat. Mereka dibentuk. Hanya, sedikit orang nekad yang
membentuk. 
 
Atau, paling banter mereka bangun jalan. Segini aza udah bikin girang orang
Bekasi Utara. Pertama, saya cukup salut. Tapi, bukankah kewajiban bikin
jalan itu pemda?
 
Nah, gini lho....
 
Mau saya tuh, sebelon ngebor Pertamina datang ke rakyat.
"Yat, gue mau ngebor neh di kebon lo....ini untuk kepentingan nasional
lho...."
"SIlahkan aza, kalao gue bilang gak boleh ntar gue dianggap subversif..."
"lHA EMANG...lo sapa? Jadi rakyat mah tahu diri...." 
"ya udah....bor sonoh. CUman pikirin 1.Lingkungan 2. orangnya 3.
Infrastruktur  4. Legalitasnya. .."
 
1. Lingkungan. Perhatiin perubahan lahan. Jangan ampe pembangunnan tongkang
di Belacan nahan air yang dari Bogor. Ahirnya kampung Tanjung Air banjir.
Jangan salahin warga kalo rame-rame bongkar jembatan. Sanitasi dan irigasi
juga perhatiin.
 
2. Orangnya. Buat survey dengan dana CSR. Pembangunan yang strategis dan
integrated. Cari konsultan orang asli situ. BUkan orang Bandung. 
 
3. Infrastruktur. Siapin jalan yang bagus. Lebar. Biar truk yang ngangkut
mesin berat bisa langsam masuk situ. Termasuk bikin saluran air. Masa bikin
jalan kagak bikin selokan. Belajar dimana seh?
 
3. Legalitas. Pertamina hendaknya transparan. Berapa seh hasil produksi.
Repotnya, sekarang kan semua yang dibor itu disalurin pake pipanisasi. Sapa
yang tahu? Presiden juga kagak tahu kayaknya...Trus, Bagi hasil ke pemkab
harus lebih besar.
 
 
Waduh, maaf Pak Morry kebanyakan ya.........
maaf kalo gak berkenan
 
 
Komarudin ibnu mikam
Babelan City 

e  <mailto:[email protected]?subject=> 

.

Error! Filename not specified.

 



Kirim email ke