Buat Dicky, Gue gak nutup mata buat kasus kayak gitu.
Cuman mari kita melihat dengan kacamata yang lebih komprehensif. Lo dan temen lo boleh salahin orang kampung situ. Cuman, kalo kita tarik ke belakang kan masalahnya jadi kompleks. Gue bilang, berkali-kali gue bilang, Pemda dan Dunia Usaha mempersiapkan secara matang pendirian kawasan industri. Atau, rencana pembangunnan yang lain sperti pengeboran migas, pelabuhan, perumahan dll. Alangkah indahnya kalau 3-5 tahun sebelum daerah itu dibangun, Pemda udah tereak ke masyarakat situ. Woooi...orang cikarang. Di sini 3 tahun lagi akan berdiri kawasan industri. Maka, siap-siap ya.....di sini bakal dibangun perusahaan anu/ Yang dibutuhkan kualifikasinya begini...begini... Sehingga, masyarakat udah niapin anaknya. atau mereka sendiri. Lha, ini kan kagak. Semua serba tiba-tiba. Tiba2 ada pabrik. Tiba2 ada kawasan industri. Maka terjadilah gegar budaya. Shock ! Wajarlah kemudian terjadi kayak gitu....... wah, panjang ieeuuuy..... 2009/7/1 Dicky Kurniawan <[email protected]> > > > Eh..tapi ini juga ada benarnya loh Bang Komar.... > Banyak juga kok kasus kayak gitu...temen ane ada yang kerja di salah satu > pabrik di Cikarang. Pabriknya sampe tutup seminggu gak produksi karena di > demo orang kampung situ. Orang kampung sono nutup akses jalan, diportal, di > bikin road block dari tong sama batu...Orang kampung situ nuntut dapet > kerjaan...setelah di tes manajemen, mereka memang tidak punya skill dan > kemampuan. Yang parahnya lagi kate temen ane nih...mereka ngotot kerja di > sono karena ngerasa pabrik tempat temen kerja, berdiri di atas lahan Mbah > moyangnya!!! > > Dan soal CSR, masing2 perusahaan punya ide berbeda-beda. Menurut ane CSR > adalah bentuk tobat kecil industri karena mendzalimi masyarakat > sekitar..hehehe > > *ane setuju tu kutipan terakhir: karena biasanya kemiskinan material > selalu bersanding dengan kemiskinan mental-spiritual.* > > * > * > > *It's only a transition... > > Dicky Kurniawan > *News Camera Person > *NEWS DIVISION > PT. Televisi Transformasi Indonesia (TRANS TV) > Gd. Trans TV 3rd Fl. > Jl. Kapt. Tendean Kav. 12-14A > Jakarta Selatan 12790 > *+628174964705 > [email protected] > [email protected] > omongkosongku.blogspot.com > > answerlieswithin.multiply.com > > > > > > > ------------------------------ > *From:* komarudin ibnu mikam <[email protected]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Wednesday, July 1, 2009 12:10:25 PM > *Subject:* Re: [sma1bks] Fwd: Bls:Fwd: Suara dari seorang warga Bekasi > Utara buat Pertamina > > Thanks Mor, > > Saya gak percaya kalau yang jawab itu karyawan Pertamina. Saya mikir orang > ini gak sekolah kali ya.... > Mohon maaf saya melihat gak ada ilmunya. Males ah...... > > > > 2009/7/1 Morry Infra <morry.infra@ gmail.com <[email protected]>> > >> >> >> Bang Komar, >> >> Di-respond nich.... >> Tapi memang tajeeem..... >> >> Salam, >> Morry Infra >> +966-533214840 >> >> ---------- Forwarded message ---------- >> From: Eko Tjahjo P <> >> Date: 2009/6/30 >> Subject: Bls: Fwd: Suara dari seorang warga Bekasi Utara buat Pertamina >> >> >> >> Selama ini yang dipikirken cuman "rebutan kue" aja. Pertamina >> diporotin habis2an untuk bangun jalanlah...inilah. ..itulah. >> Konsep otonomi daerah sebetulnya sudah jelas dengan adanya Perimbangan >> Keuangan Pusat dan Daerah. >> Karena rendahnya 'law enforcement Pemda', biasanya otonomi daerah selalu >> diplesetken manjadi "putra daerah". Pekerja Rig harus putra daerah walaupun >> pegang kunci buaya tidak biasa, konsultanpun harus putra daerah walaupun SD >> pun jarang tamat, cadangan minyakpun sepertinya milik putra daerah (bukan >> milik negara seperti UUD pasal 33). Dikasih sepeda masih protes. Tinggal >> nerima aja protes. Kalau nggak cocok kan bisa minta lagi yang lain. Untuk >> pemberdayaan ekonomi setempat juga ada konsep "bapak angkat" atau "kredit >> bersyarat sangat lunak sekali". walaupun konon tidak sedikit yang ngemplang. >> Kalau menurut saya ini bukan semata-mata masalah "pemerataan kue" tapi >> "state of mind" /sikap mental.. Mungkin pemberdayaan material akan lebih >> berhasil jika diiringi dengan pemberdayaan mental spritual agar lebih bisa >> mensikapi pemberian dengan rasa syukur, karena biasanya kemiskinan material >> selalu bersanding dengan kemiskinan mental-spiritual. >> >> salam >> >> >> etp '85 >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> --- Pada *Sen, 29/6/09, Morry Infra <morry.infra@ gmail..com>* menulis: >> >> >> Dari: Morry Infra <morry.infra@ gmail.com <[email protected]>> >> Topik: Fwd: Suara dari seorang warga Bekasi Utara buat Pertamina >> Tanggal: Senin, 29 Juni, 2009, 11:36 PM >> >> ---------- Forwarded message ---------- >> From: komarudin ibnu mikam <komaribnumikam@ >> gmail.com<http://us.mc657.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> >> > >> Date: 2009/6/30 >> >> >> Pak Morry, >> >> Saya bukannya anti terhadap pembangunan. Khususnya Pertamina. Saya pahami >> ini dalam konteks kepentingan nasional. Persoalannya, saya melihat tidak ada >> Grand skenario untuk pembangunan di wilayah pengeboran minyak. Blue print >> untuk pembangunan baik daerah maupun SDM-nya. >> >> Sebagai contoh, rencana eksploitasi dan eksplorasi kan sudah ada jauh-jauh >> hari. Betul? Lalu, adakah progam pemerintah dan Pertamina untuk menyiapkan >> SDM-nya. Mengapa sampai sekarang gak ada SMK Perminyakan. AKAdemi >> perminyakan. Atau, apalah.... >> >> Tidak ada program konkrit-integrated- berorientasi masa depan >> mempersiapkan SDM untuk menyongsong perubahan. Lha, sekarang ketika >> tereak-tereak menuntut hak, mereka bilang..."LIhat, apa yang bisa digunakan >> dalam konteks profesional?" >> >> "ini high invest!" >> "Ini high technologi.. ..!" >> >> Lha, jangan salahin rakyat. Mereka dibentuk. Hanya, sedikit orang nekad >> yang membentuk. >> >> Atau, paling banter mereka bangun jalan. Segini aza udah bikin girang >> orang Bekasi Utara. Pertama, saya cukup salut. Tapi, bukankah kewajiban >> bikin jalan itu pemda? >> >> Nah, gini lho.... >> >> Mau saya tuh, sebelon ngebor Pertamina datang ke rakyat. >> "Yat, gue mau ngebor neh di kebon lo....ini untuk kepentingan nasional >> lho...." >> "SIlahkan aza, kalao gue bilang gak boleh ntar gue dianggap subversif..." >> "lHA EMANG...lo sapa? Jadi rakyat mah tahu diri...." >> "ya udah....bor sonoh. CUman pikirin 1.Lingkungan 2. orangnya 3. >> Infrastruktur 4. Legalitasnya. .." >> >> 1. Lingkungan. Perhatiin perubahan lahan. Jangan ampe pembangunnan >> tongkang di Belacan nahan air yang dari Bogor. Ahirnya kampung Tanjung Air >> banjir. Jangan salahin warga kalo rame-rame bongkar jembatan. Sanitasi dan >> irigasi juga perhatiin. >> >> 2. Orangnya. Buat survey dengan dana CSR. Pembangunan yang strategis dan >> integrated. Cari konsultan orang asli situ. BUkan orang Bandung. >> >> 3. Infrastruktur. Siapin jalan yang bagus. Lebar. Biar truk yang ngangkut >> mesin berat bisa langsam masuk situ. Termasuk bikin saluran air. Masa bikin >> jalan kagak bikin selokan. Belajar dimana seh? >> >> 3. Legalitas. Pertamina hendaknya transparan. Berapa seh hasil produksi. >> Repotnya, sekarang kan semua yang dibor itu disalurin pake pipanisasi. Sapa >> yang tahu? Presiden juga kagak tahu kayaknya...Trus, Bagi hasil ke pemkab >> harus lebih besar. >> >> >> Waduh, maaf Pak Morry kebanyakan ya......... >> maaf kalo gak berkenan >> >> >> Komarudin ibnu mikam >> Babelan City >> >> e <[email protected]?subject=> >> . >> >> >> > > > -- > Komarudin Ibnu Mikam > WTS - Writer Trainer Speaker > komarmikam.multiply .com <http://komarmikam.multiply.com> > 0818721014-33113503 > karya-karya ; > Novel Intelijen SOA (luxima) > sekuntum cinta untuk istriku (GIP) > prahara buddenovsky (GIP) > dinda izinkan aku melamarmu (KBP) > sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat) > nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat) > merit yuk! (qultum media) > rahasia dan keutamaan jumat (qultum media) > > > > -- Komarudin Ibnu Mikam WTS - Writer Trainer Speaker komarmikam.multiply.com 0818721014-33113503 karya-karya ; Novel Intelijen SOA (luxima) sekuntum cinta untuk istriku (GIP) prahara buddenovsky (GIP) dinda izinkan aku melamarmu (KBP) sabar, kunci sukses karir gemilang (Dian rakyat) nasroon, kisah sufi kantoran (dian rakyat) merit yuk! (qultum media) rahasia dan keutamaan jumat (qultum media)
