Halo Nugon, thanks atas penjelasannya yang panjang... dialog seperti ini penting untuk bisa memahami karakter etnis-etnis yang ada di Indonesia. Sayangnya, forum seperti ini jarang ditemui.. dan mungkin juga jarang orang mau sharing... padahal bangsa kita terdiri banyak etnis ya...
Pengalaman pribadi, selama mengajar, saya lebih dekat dengan mahasiswa chinese.. kadang suka ada yang datang ke ruangan saya dan cerita-cerita..kadang juga curhat. Ternyata kalau sudah kenal baik, saudara2 keturungan cina kita ini sangat terbuka dan hangat...*Nugon jangan geer...hehehe* dan saya bersyukur sampai hari ini selalu merasa nyaman bergaul dengan mereka.. mungkin juga karena dari kecil tinggal di lingkungan yang mayoritas Cina kali ya..:) --- In [email protected], "nugon19" <nugo...@...> wrote: > > Yap hadir, salah satu chinese indooo =D > yg kadang suka nyebelin dgn banyak forward email ini =P > > He he he yah masalah dgn etnis tionghoa mirip-mirip lah di mana-mana, > sama dgn masalah dgn etnis lain yg minoritas dan cukup berpengaruh =D > > Mirip dgn etnis Yahudi misalnya...sampai-sampai ada julukan Chinese itu > Yahudi Kuning. > > Tapi ane kurang senang dan tdk sepaham. Karena separah-parahnya Chinese, > tdk pernah tercatat membunuh Nabi/Tokoh Agama besarnya mereka. Juga > sebenarnya kurang fokus thd issue agama, lebih fokus pd kultur budaya > leluhurnya, makanya ada agama yg sedikit "campur-sari", misalnya > Tri-Dharma. Sedang Yahudi punya fokus besar thd agamanya. > > Kembali ke Etnis Yahudi, mereka selalu dianggap biang masalah, pdhal > bisa jadi bukan mereka penyebabnya, hanya stereotype saja utk beberapa > kasus. > Bahkan pengalaman Cie-cie ane tinggal di area Washington, banyak > tetangganya yg etnis Yahudi terpelajar, ramah, santun, taat hukum. > > Tapi lain kalau kita membahas Zionisme, memang 100% biang masalah! > (sorry OOT dikit). > > Atau etnis tertentu (sorry), misal di beberapa tempat dgn etnis Madura, > atau etnis Padang, atau etnis Batak. > > > > Seperti pepatah klasik Tionghoa, "Semua burung gagak sama hitam di dunia > mana pun", orang Chinese ada yg baik, ada yg bermasalah. etnis lain pun > sama, ada yg baik dan ada yg bermasalah. > > Dan masalah timbul karena memang orang tsb bermasalah atau biang > masalah. > Tapi juga banyak masalah timbul hanya karena stereotype. > Bisa jadi juga karena salah paham akibat perbedaan budaya dan > komunikasi. > > Cuma di Indonesia, seperti yg rekan-rekan katakan, agak lebih > complicated, karena issue Politik baik yg warisan dari Belanda mau pun > dari rezim-rezim/orde yg pernah berkuasa....plus juga karena KKN atau > simbiosis Ali-Baba. > > Ini ane ketahui karena ada peneliti dari chinese-Taiwan yg pernah datang > ke Masjid Lautze Pasar Baru, minta ditemani dan minta tolong bantuan utk > survey dan wawancara.....ia sedang meneliti pengaruh etnis Tionghoa, > Islam dan Mualaf di Indonesia, sekitar tahun 2005 an. > > Ia bilang hanya di Indonesia issue rasisme terkait etnis Tionghoa masih > dominan...terutama utk scope area Asia Tenggara, pdhal di daerah lain > sudah menurun atau bahkan nyaris tdk terdengar. > > Contoh nyatanya adalah umumnya etnis Tionghoa akan beragama dgn agama > leluhurnya ( Budha, Konghucu, Tao...atau Tri Dharma - yg mirip gabungan > 3 agama yg disebut sebelumnya) atau agama mayoritas di tempat ia > berdomisili. Misal di Thailand beragama Budha, di Filiphina beragama > Katholik, di Malaysia ada beberapa negara bagian yg muslim Tionghoanya > cukup signifikan. > > Tetapi khusus di Asia Tenggara, terlebih di Indonesia, Muslim Tionghoa > jumlah sedikit. Pdhal di tempat lain cukup signifikan, walau tetap jadi > minoritas dibanding dgn agama leluhur. > > Perlu diingat, ada beberapa karakter dominan dan umum, yg hampir ditemui > pd seluruh etnis Tionghoa di mana pun berada, antara lain: > = Ikatan emosi yg tinggi dgn budaya asal, nenek moyang, identitas etnis. > = > = Fokus pd hal-hal yg bersifat mencari kemakmuran baik langsung (bisnis) > mau pun tdk langsung (contoh IPTEK) = > = Tidak mau terlibat dalam banyak konflik, terlebih yg tdk ada kaitan > dgn kemakmuran. Apalagi bila punya memori "kepahitan", cenderung menarik > diri dan mencari aman. = > > Kombinasi inilah yg menyebabkan terlihat tertutup, dominan atau bahkan > agresif dlm aspek ekonomi dan yg dianggap menyokong utk kelansungan > ketahanan ekonomi (terlebih di Indonesia, karena ada PP 1950 tsb), dan > terkesan kadang opportunis, pragmatis, atau bahkan kadang terkesan cari > selamat/aman. > > Dari sini bisa muncul penilaian atau stereotype positif mau pun negatif. > > > Perlu dicermati, kalau melihat karakter orang Tionghoa, tdk bisa > digeneralisir, atau hanya melalui pengamatan singkat, karena sangat > tergantung dgn beberapa faktor, seperti: > > = Apa sub etnis / suku asalnya? Apakah Hakka (Khe)? Hokkien? Tiociu? > Konghu (Kanton)? Hainan? dsb. = > > Ini mirip dgn issue orang Jawa...jawanya daerah mana? Apa Tegal, > Banyumas, Yogya, Semarang, Surabaya, Banyuwangi? Blak-blakan + ngocol > ala Mendiang Gus Dur (biasanya Jawa Timur), atau sangat tertata > omongannya dan hati-hati ala Jawa Tengah? > > Karakternya berbeda-beda, terlebih yg masih totok/kental. > > Contoh, orang Khe, umumnya keras, kadang ketus, taat peraturan, fokus pd > pendidikan dan kebudayaan, jarang yg fokus pd bisnis apalagi yg kelas > Kakap. > > Tetapi kalau Hokkien, sangat tertarik pd aspek bisnis, pd aspek ekonomi, > terlebih yg totok. Banyak yg jadi pengusaha kelas Kakap. Dari yg benar, > sampai bermasalah. Nama Liem Sioe Liong dkk itu kebanyakan dari etnis > Hokkien. > > Kalau Kanton, zaman dahulu kala, sangat fokus pd aspek IPTEK, banyak > tukang yg mahir berasal dari sub etnis ini. Mertua adik ane berasal dari > keturunan Kanton, semuanya insinyur dan bisnis/bekerja di bidang > otomotif serta manufaktur. > > = Apa totok, peranakan, kawin campur, bisa berbahasa dialek Tionghoa, > berbudaya Tionghoa?= > > Yg Totok akan berbeda dan cenderung menutup diri. > Yg Peranakan, apalagi tdk bisa bahasa atau berbudaya Tionghoa, cenderung > lebih terbuka. > Yg kawin campur, biasanya budaya dan karakternya mixed, tergantung > domisili dan suku yg menikahi/dinikahinya. > > Perlu dibedakan antara berbahasa Tionghoa dan berbudaya Tionghoa. > Karena ada populasi yg berbahasa Tionghoa, tetapi kulturnya sangat > Barat. Contoh, di beberapa lokasi di Medan, Padang, Surabaya. > Kebalikannya ada populasi yg tdk berbahasa Tionghoa, tetapi sangat teguh > memegang kultur budaya Tionghoa. Contohnya: Cina Benteng Tangerang dan > Bekasi. > > > = Domisilinya ada di mana? > > Bila di Jawa, Kalimantan, Bangka, cenderung membaur. Selain daerah itu > cenderung agak kurang membaur (walau tdk bisa dipukul rata). > Bahkan bila di Jawa, tingkat asimilasi dan akulturasinya sangat tinggi, > sehingga budaya asal kurang kental. > > Bila di luar Jawa, umumnya cenderung lugas, keras, ketus...walau kalau > sudah kenal, asyik juga gaul dgn mereka. > Bila di Jawa, maka cenderung lebih berhati-hati, berbicara tertata ala > Jawa dan Sunda. > > Ada beberapa tempat yg dianggap punya stereotype kurang baik karena > faktor lingkungan dan persaingan bisnis, misalnya (maaf) Medan dan > Pontianak, yg dianggap terkenal lihay, tempat pusat Judi atau beberapa > jenis kegiatan kriminal, dsb. Terlebih Medan, yg merupakan tempat etnis > Batak yg umumnya dianggap keras. > > Stereotype ini tdk bisa dianggap valid 100%, karena banyak tokoh agama, > sosial budaya dan pendidikan...intinya orang-orang lurus yg berasal dari > 2 daerah ini cukup banyak dan berlimpah. Tetapi memang karakter keras > dan lugasnya, berani berkompetisi serta ambil resikonya sangat terlihat > dari orang-orang di 2 daerah ini. Dan orang umumnya kurang nyaman dgn > karakter tsb, sehingga muncul stereotype negatif. > > > Itu aja sharing dari ane ttg Chinese Indo, yg mungkin kurang akurat, > karena hanya berdasarkan dari pengalaman dan pengamatan pribadi serta > orang-orang terdekat ane, terutama Papa-Mama ane. > > Mohon maaf bila ada yg kurang berkenan. > > Best Regards and Wassalam, > > > > > Nugon > > --- In [email protected], "Dicky Kurniawan" <marcial_riquelme@> > wrote: > > > > Chinesse Indonesia sombong? Pertanyaannya jadi di balik, kita > (pribumi) yang sombong dan justru mengucilkan mereka. Sikap ini datang > sejak Belanda memberlakukan 3 strata penduduk Hindia Belanda: Eropa, > Pribumi, dan Asia. Warga keturunan China masuk ke dalam strata ke tiga, > strata paling bawah, tp diberikan hak sangat istimewa dalam berdagang. > Belakangan, setelah merdeka, mereka semakin di marginalkan melalui PP > no. 10 tahun 1950 (kalo ga salah) yang semakin menempatkan mereka dalam > posisi terkucil secara pergaulan tetapi hak bisnis dan dagangnya semakin > kuat. Akibatnya, timbul kecemburuan antara pribumi dan etnis Tionghoa > karena perbedaan status ekonomi...Etnis Tionghoa jadi menutup diri dalam > kehidupan sosial-politiknya dan membuat mereka terkesan sombong...Inilah > cikal bakal sikap rasialis penduduk asli terhadap etnis Tionghoa di > Indonesia. Ditambah kemudian dengn segenap aturan2 yang menyulitkan > dalam birokrasi dan administrasi bagi etnis Tionghoa. Susi Susanti dan > Alan BK sewaktu dapet medali emas Olimpiade 92 bahkan belum "resmi > benar" jadi WNI, padahal meski nenek moyangnya imigran China, mereka > besar dan lahir di Indonesia dari ayah-ibu ber-KTP Indonesia...Dan > sampai sekarang, PP tersebut belum dicabut, meski Gus Dur waktu jadi > presiden telah membuat gebrakan dengan memperbolehkan perayaan Imlek > secara nasional dan pemeluk agama Kong Hu Cu diakui keberadaannya. > > it's only a transition > > > > Dicky Kurniawan > > > > Powered by Telkomsel BlackBerry� > > > > -----Original Message----- > > From: "dian" ambarswt@ > > Date: Tue, 02 Feb 2010 17:57:23 > > To: [email protected] > > Subject: [sma1bks] Re: NCB 04 : Korea Wave > > > > > > Kayak sepatu, baju, buatan Cina bolehlah bersaing,kualitasnya lumayan > dan memang harganya paling terjangkau di eropa..tapi,sempat kecewa juga > pas dibelikan stetoskop oleh suami dari Libya, mereknya Littman > sih,barangnya mirip bgt, dan kardusnya juga sama banget..tapi pas > dipakai, ketauan deh ini mah aspal..buatan cina? ngga tau deh.. > > Emang sih muka kita mirip ama Cina, orang kalo lihat mata kita pasti > dah tau orang Asia..Cuma bedanya sih, kenapa "Chinese"-indo agak sombong > ato gimanaaa gitu???..maap ya bukan rasialis..tapi kenyataan di eropa > malah kebanyakan Chinese buka&bekerja di restoran Cina, atau > cleaning-service.. > > Memang orang Cina itu baik sebenarnya,kalo kita memperkenalkan diri ke > mereka kalo kita juga dari Asia, wah mereka senang banget tuh... > > > > --- In [email protected], Morry Infra morry.infra@ wrote: > > > > > > He...he..e..e.e > > > Bukan ngebanggain China... > > > > > > Sekedar informasi juga, > > > Kita kok sebel sich sama China? > > > Penyumbang Carbon terbesar? > > > Gimana dengan US dan Eropah yang lebih dulu nyumbang karbon... dan > sekarang > > > minta negara2 lain menghentikannya... woalah... kalau koment benci > China > > > karena itu... artinya kemakan Propaganda US dan Eropah > tuch....he.e..ee. > > > > > > Kenapa negara2 lain mandang sebelah mata dan sebel sama China? > > > Karena Product China sudah mengalahkan semua product2 dari negara > lain... at > > > least dalam kuantitas... Soal kualitas, mungkin sebagian udah > juga... cuma > > > gak pada mau ngaku aja....he.e.e..e..e > > > > > > Kata orang tak kenal maka tak sayang.... > > > China dan orang China itu sebenarnya lebih baik dibanding bangsa > Jepang dan > > > Korea...(ini opini saya pribadi setelah bergaul dengan orang2 > tersebut).... > > > Cuma pandangan orang Indonesia terhadap taipan Indonesia, Singapore > dan > > > Malaysia... mungkin bikin kita judge... China juga seperti > itu....he.e.e.e. > > > Itu kurang tepat... > > > China mainland... PRC atau RRC... secara penampakan memang sama... > tapi > > > inside their heart... different.... > > > > > > So, jangan terlalu benci dengan China dong.... kalau kita masih suka > Korea > > > atau Jepang... > > > karena..... kita kalau ke US dan Eropah, kita juga disebut > > > Chinese....he.e.e.e.e. > > > > > > Salam, > > > Morry Infra > > > > > > 2010/2/2 Vita mhevita@ > > > > > > > > > > > > > > > Hehehe...bener banget, kayaknya ini demam penulisnya..:p soal > Tsunami China > > > > kayaknya itu udah biasa banget ya.. kita liat gimana Cina > menguasai > > > > industri, merk2 terkenal aja ada versi produk Cina-nya :D (soal > ini ibu2 > > > > pasti tau: baju, tas, sepatu..) sebenernya kesimpulan Korea Wave > di negara2 > > > > ASEAN bukan diambil dari cerita VCD bajakan sampe FSUI. Tapi dari > kunjungan > > > > ke beberapa tempat yang mewakili negara ASEAN.. mereka punya > corner Korea > > > > dengan slogan Dynamic Korea (terus terang paragraf ini saya buang, > makanya > > > > ceritanya jadi ga utuh ya, abis kepanjangan sih). Buat saya itu > luar biasa > > > > krn sebelumnya saya nggak pernah ngeh dengan negara Korea (ngehnya > cuma > > > > China dan Jepang - pengalaman pribadi :). > > > > > > > > ternyata negara itu sekarang sudah jadi negara di Asia Timur yang > > > > diperhitungkan dunia...(selain China dan Jepang tentunya) btw, > thanks > > > > tambahan ceritanya.... yang jelas saya sebal dengan negara China > krn > > > > penyumbang carbon terbesar...hehehe > > > > > > > > salam, > > > > Vita > > > > > > >
