>From Angkor with Love (part 5)

 

Kamboja adalah negara yang masih memerlukan bantuan ekonomi
dari negara lain. Di kawasan Asia Tenggara, selain Kamboja masih ada Laos,
Myanmar dan Vietnam (dikenal dengan singkatan CLMV – Cambodia, Laos, Myanmar
dan Vietnam). Empat negara ini membutuhkan grand untuk mengirimkan
perwakilannya mengikuti berbagai event regional/Internasional yang
diselenggarakan di luar negaranya. Jika tidak, mereka akan terisolir dari
pergaulan di Asia Tenggara

 

Dalam pertemuan duatahunan AUNILO (Asian University
Network  Inter-Library Online)
April mendatang di Jakarta, Sekjen yang berasal dari Malaysia wanti-wanti untuk
memberikan bantuan finansial jauh-jauh hari sebelum acara agar keempat negara
itu bisa hadir. 

“Tanpa bantuan uang, mereka sulit datang, karena memang
tidak ada dana dari negaranya…”

Saya jadi ingat beberapa waktu lalu, saat mendengarkan
laporan pertanggungjawaban committee The 8th ICADL (International
Conference on Digital Library) Tokyo di Hanoi, pihak panitia menghibahkan dana
sisa acara untuk membiayai peserta dari Vietnam supaya bisa hadir di 10th
ICADL Indonesia di Bali. Kamboja sendiri, sejak pemimpin rezim Khmer Merah, Pol
Pot, meninggal tahun 1998, negara ini mulai menggeliat untuk bangkit mengejar
ketinggalan. 

 

Hhhh, sedikit merasa beruntung, ternyata Indonesia nggak
miskin-miskin banget meski untuk banyak hal juga tidak begitu mudah memperoleh
dana. Tidak selamanya rumput tetangga lebih hijau kan?

 

Kembali ke From Angkor with Love :), kami akhirnya menemukan
restoran makanan halal tanpa kesulitan (karena sebelumnya, supir Tuk-tuk kami,
Sam, diberitahu rutenya). Suasana sangat sepi begitu kami datang, sampai
was-was jangan-jangan restoran ini tutup juga. Alhamdulillah ternyata enggak.
Setelah pilih-pilih menu sampailah kami pada pilihan paket makan untuk berempat
yang masing-masing kena 6 dolar. Ini agak overbudget..tapi yaah…nggak apa-apa
lah, yang penting makanan halal, selain itu kami juga udah kelaparan banget
karena sejak semalam belum ketemu nasi hehehe…

 

Pemiliknya ternyata seorang Ibu asal Malaysia yang sudah
lima tahun tinggal di Siem Reap dan buka usaha restoran. Menurutnya, baru kali
ini ia kedatangan tamu dari Indonesia. Dia senang sekali bertemu kami, empat
orang perempuan Indonesia. Kayaknya 1,5 jam lebih kami menghabiskan waktu di
sana. Menu yang kami peroleh adalah: masing-masing satu porsi nasi putih, satu
pinggan besar Tom Yam, satu ekor ayam (dimasak bumbu Malaysia yang entah apa 
namanya
tapi enak banget), satu piring cah kailan, telur dadar (yang juga enak banget),
salad, satu porsi besar buah (terdiri dari Nanas dan semangka), dan 
masing-masing
satu botol air mineral. Oh ya, Sam juga kami ajak makan bersama. Untuk 5 porsi
(karena ditambah Sam) kami hanya membayar 4 porsi saja, masing-masing 6 dolar.
Yah, worth it- lah.. apalagi rasanya yang mantab….:)

 

Selesai makan, Sam membawa kami ke Central Market Siem Reap.
Waktunya liat-liat barang lucu. Kalau udah begini lupa deh kalau sebenarnya
kami ini backpackeran. Mana ada backpacker bawa banyak jinjingan belanjaan 
hehehe.
Dasar ya ibu-ibu, apa aja barang lucu maunya dibeli. Apalagi Mbak Ade, 
satu-satunya
ibu 1 anak perempuan, “Aduuh ini kayaknya lucu buat Sarah…”, “waah kayaknya
kalo ini si Sarah suka…” weleh….. Nggak beda sih sama yang laen. Tau-tau, nggak
tau kenapa inget nyokap, adek, sepupu, ponakan, si A, si B….ck..ck..ck..:p  
Belom juga sempet melongok Angkor
Wat…hihihi. Dasar, laper mata apa norak??

 

“Jangan kebanyakan belanja di sini, ntar malem di Night
Market lebih seru lagi….” Bisik Ari… huuu curang dia nggak ngomong dari tadi.
Tapi meski begitu tetap aja deh kita pegang ini itu dan tawar-menawar.

“2 for 3 dolar,”

“No profit, no profit. Four!” - maksudnya mereka belum dapet untung kali ya..;p

“No, three…” eh ternyata boleh juga....:)

Dua kaos bersablon khas Kamboja seharga 3 dolar, udah gitu
bahannya bagus lagi, siapa yang nggak tergoda (berarti satu kaos cuma 15ribu
perak!). Lalu untuk hiasan bola kristal (kaca bening) berisi maket candi Angkor
juga cuma seharga 5 dolar!

Semua-semua barang kami tawar 3 dolar untuk 2 buah,
sampai-sampai penjualnya mulai waspada begitu kami memegang satu benda lucu
yang lain lagi…

“Don’t give me three…” ujar si Mbak penjual mengantisipasi sambil mesem-mesem
geli ngeliat betapa pandainya orang-orang Indonesia ini menawar…..(gitu kali ya
pikirnya).

“Ok, so…two!” hahaha…. 

Suasana ramai, dan saling bertahan dengan angka
masing-masing. Belakangan kami baru tahu kalau ternyata ada beberapa toko milik
muslim Kamboja juga di situ.

 

 

To be continue… 







      

Kirim email ke