memang tdk ada di versia pemberitaan ini.
--- In [email protected], "sangbayu" <bayus...@...> wrote:
>
> Saya baca kok gak ada nama si subyek pemberitaan mas? Hanya ada
capaska saja? Atau saya kurang teliti?
>
>
> Sent from my blackberry®
> powered by INDOSAT
>
> -----Original Message-----
> From: Nugroho Laison nugo...@...
> Sender: [email protected]
> Date: Fri, 3 Sep 2010 01:41:43
> To: Rumah Ilmu [email protected]; SMA 1
[email protected]; [email protected]; Blue
[email protected]
> Reply-To: [email protected]
> Subject: [sma1bks] [Koran-Digital] Berbekal Rp 50.000, Paskibra Kabur
>
> Kapan media massa kita bijak?Dan kapan kita juga bisa mengendalikan
prilaku media massa?
>
> Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!
>
>
>
> http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/
>
> http://nugon19.multiply.com/journal
>
> http://groups.yahoo.com/group/warnaislam/message/8955
> Sebuah pelajaran moral dan etika buat teman-teman pers, agar tidak
memandang remeh akan harkat dan martabat "sasaran" berita yang selama
ini selalu diperlakukan "tidak manusiawi" ... seolah mereka tidak
mempunyai hidup dan hanya berfungsi sebagai etalase subjek siap untuk
dipanen sebagai bahan berita. Tidak terbayang untuk kasus lainnya yang
jauh lebih tidak manusiawi, spt kasus terorisme. Memang untuk kasus
moral lainnya spt korupsi tentu ada perkecualian, tapi untuk kasus
lainnya terutama saat yang menjadi "objek penderita" alias victim yang
menjadi bahan berita, alangkah baiknya tetap berstatus John Doe atau
Jane Doe, Fulan atau Fulanah, sebagai seringnya media menggunakan
eufimisme "rumah ibadah" untuk menyamarkan gereja atau masjid atau
klenteng dst. Masyarakat memang dewasa dan cerdas, tapi apakah lalu
media berhak dan bisa berlaku tidak dewasa dan bodoh ...? rsa
>
> 2010/9/3 Koran Digital korandigital@
> Kasus Pelecehan SeksualBerbekal Rp 50.000, Paskibra KaburLaporan
wartawan KOMPAS.com Laksono Hari WiwohoJumat, 3 September 2010 | 08:49
WIB
> JAKARTA, KOMPAS.com â" Begitu beratnya beban psikologis yang
harus ditanggung oleh calon Paskibra 2010 asal Jakarta yang diduga
menjadi korban pelecehan seksual. Akibatnya, salah satu calon paskibra
(capaska) putri kabur dari rumah tanpa tujuan jelas hanya berbekal uang
Rp 50.000. Ia akhirnya ditemukan di Lampung dan dijemput kembali ke
rumah dengan selamat.Saya malu. Muka saya tampil di televisi, saya
diceritakan terus.Peristiwa itu terjadi sesaat setelah orangtua capaska
asal Jakarta Timur itu pulang dari Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya,
Selasa (31/8/2010) malam, untuk memenuhi panggilan sebagai saksi atas
kasus yang sama, yang dilaporkan oleh orangtua capaska lain. Capaska
dari keluarga berkecukupan tersebut meninggalkan rumah kira-kira pukul
20.30 WIB. Ia diduga tak kuasa mendengarkan pembicaraan kedua
orangtuanya mengenai kelanjutan kasus pelecehan seksual yang
menimpanya."Waktu pergi, kami (orangtua) sedang bicara soal kasus itu di
kamar.
> Sempat ada perdebatan kecil dan ternyata dia mendengar dan tidak
nyaman dengan itu," ungkap ibu capaska tersebut kepada Kompas.com, Kamis
(2/9/2010) jelang tengah malam. "Setelah kami selesai, kami panggil dia.
Ternyata kami cari tidak ada. Hanya ada satu surat dari dia dan dia
bilang, 'Mama, papa, aku pergi untuk introspeksi. Tidak usah dicari',"
tuturnya.Betapa paniknya keluarga capaska putri tersebut. Selama ini
capaska tersebut tidak pernah keluar rumah sendirian, apalagi tanpa
terencana dan tujuan jelas. "Anaknya lugu. Sampai sekarang belum pernah
pacaran," kata sang ibu seraya menahan tangis. Orangtuanya panik dan
menanyakannya kepada teman-temannya serta mencarinya hingga ke
sekolah.Sang ibu mengatakan, selama beberapa hari sebelum meninggalkan
rumah, putrinya sempat merasa malu dengan pemberitaan soal dugaan
pelecehan seksual terhadap capaska asal Jakarta. "Saya malu. Muka saya
tampil di televisi, saya diceritakan terus," ujar si ibu menirukan
> keluhan putrinya.Menrut ibunya, ketika pergi, putrinya mengenakan
daster dan hanya membawa bekal uang Rp 50.000. Daster itu kemudian
dibuang di depan rumah dan capaska tersebut mengenakan kaus, celana
panjang, dan sepatu sekolah sambil membawa tas."Dia jalan dari rumah ke
halte busway yang jaraknya sekitar 1 km. Habis itu dia naik busway ke
terminal Kalideres. Dalam kondisi (pikiran) kosong, dia naik bus jurusan
Merak. Tahu-tahu dia sadar sudah ada di atas kapal," kata sang ibu yang
sangat panik karena putrinya sama sekali tak mau menjawab panggilan
telepon ataupun SMS dari orangtuanya.Selama kabur, capaska tersebut
sempat menumpang truk dari Bakauheni menuju Way Halim. Ia juga sempat
tidur sebentar di sebuah masjid sebelum berjalan mondar-mandir
kebingungan. Ketika akhirnya ia sampai di sekitar rumah pamannya, ia pun
tak langsung menuju rumah pamannya. Ia baru masuk rumah pamannya ketika
sepupunya tak sengaja melihat dan memanggilnya."Waktu itu
> keponakan saya kaget melihat anak saya, terus memanggil anak saya.
Katanya anak saya lusuh, badannya penuh keringat," kisah sang ibu
capaska.Rabu (1/9/2010) pagi setelah capaska itu ditemukan, ayahnya
segera menjemput ke Lampung. Keduanya baru kembali ke Jakarta pada Rabu
malam dan sampai di rumah kira-kira pukul 10.00 WIB. "Anak murung, tidak
ceria seperti sebelumnya. Saya berharap kasus ini dapat diselesaikan
secara damai dan menyenangkan semua pihak," kata sang ibu.Hingga saat
ini, kasus dugaan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap capaska 2010
asal Jakarta masih ditangani Polda Metro Jaya. Hari ini rencananya
orangtua salah satu capaska putra akan melaporkan kasus yang sama ke
Polda Metro Jaya.
>
http://megapolitan.kompas.com/read/2010/09/03/08495178/Berbekal.Rp.50.00\
0..Paskibra.Kabur.-4
> --
> "One Touch In BOX"
>
> To post : [email protected]
> Unsubscribe : koran-digital-unsubscribe@@googlegroups.com
>
> "Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"--
Publilius Syrus
>
> Catatan : - Gunakan bahasa yang baik dan santun
> - Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
> - Hindari ONE-LINER
> - POTONG EKOR EMAIL
> - DILARANG SARA
> - Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau
> Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~----------------------\
--------------------------------------
> âBersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam
deklarasi perang sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan
kesopanan.â -- Otto Von Bismarck.
> "Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di
belakang lidahnya" -Ali bin Abi Talib.
>
>
>
> --
> Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
> now surely by Allah's remembrance are the hearts set at rest.
> N'est-ce point par l'évocation d'Allah que se tranquillisent les
coeurs.
> im Gedenken Allahs ist's, daà Herzen Trost finden können.
> >> al-Ra'd [13]: 28
>