DI TEPIAN MENOREH

Tepi Menoreh, pagi itu. Ia memulai hari dengan bergegas. Rumah di pagi hari 
sudah harus siap. Lantai yang licin mengkilat, halaman rumah tanpa sampah 
daun-daun kering, dan yang paling penting, dapurnya pun sudah mengepulkan asap 
sejak Subuh tadi. Bagi pengemban amanat masyarakat, mereka bahkan tidak 
terganggu dengan tamu yang datang di pagi ‘buta’.
Ada saja urusan warga. Macam-macam. Tapi suami istri ini tidak merasa 
terganggu. 
Mereka begitu hangat, begitu biasa melayani orang-orang desa yang datang dan 
pergi. Tidak ada aroma ‘kekuasaan’ yang menguar. Hanya sebuah keluarga, dengan 
pekerjaan ‘melayani’. Begitu bersahaja, begitu sederhana, dan entah kata-kata 
apa lagi tepatnya. Seperti kehilangan istilah, yang sudah berpuluh tahun 
menguap, tidak hanya dalam alam nyata, bahkan alam idea.
Pagi itu ia menyuguhiku dengan tahu goreng, yang dipotong kecil-kecil. “Camilan 
favorit suami…” katanya. Lalu kembali ke dapur, dan melanjutkan pekerjaanya. 
Aku 
membuntuti ibu muda dua anak yang sudah ABG ini. Mengintip dapurnya. Ia tertawa 
kecil, “dapure elek..(dapurnya jelek )” celetuknya. 

Dapur berlantai tanah, tapi ada kompor gas melengkapi tungku tanah yang 
berbahan 
bakar kayu. Berbeda dengan rumah utama yang sebagian bertembok permanen dan 
sebagian dari papan kayu ataupun anyaman bambu, dinding dapur ini semuanya dari 
anyaman bambu dan luas. Melihat ini mengingatkan pada dapur Simbah di 
Purwokerto. Sambil mengobrol, aku melongok ke halaman belakang. Seekor sapi 
tampak sedang mengunyah rumput dengan nyaman di kandangnya. Hmm, mungkinkah ini 
‘tunjangan’ dari Negara untuk pengabdi desa seperti suaminya? pikirku.
Ia pamit sebentar, pergi entah kemana. Lalu tak lama kembali lagi.
“Mau jalan-jalan, po?” tanyanya dengan wajah sumringah. 
“Yuuk..” jawabku semangat.
Ia berdandan sebentar, memasang kain kerudung di kepalanya, lalu siap 
mengantarkan aku berkeliling desa di wilayah Menoreh. Desa yang berada di 
‘bawah 
kekuasaan’ suaminya dan ia sendiri yang berperan sebagai Ibu Lurah. Sepanjang 
jalan ia juga ramah menyapa ibu-ibu yang kebetulan berpapasan dengan kami. 
Sesekali memanggil nama, menjawab sapa, menyapa dan mengingatkan sesuatu 
seperti, jadwal pengajian dan rapat ini-itu.
“Kapan ke Jogya lagi?” tanyanya suatu hari melalui sms dan FB
“Mudah-mudahan tahun depan, Insya Allah” jawabku, tentu tanpa menceritakan 
bahwa 
tanggal 5 Oktober ini seharusnya ada pekerjaan luar yang mengharuskan aku ke 
sana, tapi kemudian batal karena sesuatu dan lain hal. Andai ia tahu, pasti 
ikut 
menyayangkan. Untung aku belum bilang-bilang, coba kalau sudah pasti ia akan 
kecewa. 

Saat Menoreh memberinya kehidupan yang bersahaja, aku cuma bisa menikmatinya 
dari foto-foto digital yang ia kirimkan di sudut kampus yang tengah hingar 
bingar oleh para mahasiswa baru berjaket kuning yang memulai kuliah semester 
awalnya. Adakah diantara mereka yang memimpikan hidup bersahaja seperti kawanku 
itu, di tepian ‘Menoreh manapun’, di dunia ini, menjadi abdi masyarakat? 


      

Kirim email ke