http://groups.yahoo.com/group/Muhammadiyah_Society/message/32853
Mari bertindak nyata... Manstab
Get Lost in Indonesia!Mendengar keluhan-keluhan tentang Indonesia membuat saya
letih. Tapi mendapati kehebatan dan kelebihan negeri ini juga ternyata lebih
melelahkan.
Sebuah bangsa yang katanya besar. Negeri yang diciptakan Tuhan sambil
tersenyum. Zamrud khatulistiwa yang terbentang sepanjang 3.977 mil antara
Samudera Hindia dan Pasifik. Yang konon memiliki daratan sepanjang 1.922.570
km², dengan 3.257.483 km² panjang perairan, 95.181 km garis pantai, punya
17.504 pulau, lebih dari 53 gunung, 500 lebih suku, 742 bahasa daerah, lebih
dari 300.000 spesies liar, dan tentu saja 240 juta penduduk.
Tapi kenapa begitu sulit “menjual” bangsa ini? Kenapa tidak bisa kita leluasa
menikmatinya? Kenapa begitu susah menjadi orang senang di sini? Dan kenapa
begitu senang kita jadi orang susah?
Sewaktu Malaysia mengakui batik dan tari pendet sebagai kebudayaannya, kita
semua kebakaran jenggot. Lalu terbirit-birit mematenkan. Tapi kok saya pesimis,
tidak banyak yang rakyat kita bisa dapatkan dari usaha itu. Paten ya tinggal
paten. Pengakuan di atas kertas. Dan tidak signifikan mengurangi antrian
pembagian zakat.
Jika Malaysia memroduksi batik berkualitas secara masif – lalu cukup
menyantumkan tulisan Batik Indonesia pada labelnya – yang makmur yaa tetap
rakyat Malaysia. Para pengusahanya, pekerjanya, distributornya, reseller-nya,
penjual kain dasarnya, produsen lilinnya, produsen pewarnanya, perusahaan
listrik dan airnya, mbak-mbak penjaga tokonya.
Kalau negara tetangga membuat pertunjukan Tari Pendet di festival pariwisata
mereka, tentu saja nama Indonesia ada tertera kecil-kecil di brosur meja depan.
Tapi yang kebagian rezeki yaa tetap panitianya, pemerintahnya, pemilik toko
cenderamatanya,tukang kacang rebusnya, calo karcisnya – kalau ada hehe.
Pendapatan mereka bertambah, tapi kita tidak. Karena rakyat kita tidak kebagian
royalty sepersen pun.
Kenyataan ini yang membuat saya letih. Bahwa kita tidak bisa berbuat banyak
atas itu.
Maka pada satu malam, saya brainstorming bersama 3 orang rekan. Di tempat
nongkrong yang biasa, minum kopi yang biasa, situasi yang biasa. Yang tidak
biasa cuma aturannya: kita berempat tidak boleh mengeluh.
Temanya: bagaimana memasarkan Indonesia. Lalu bagaimana menjadikannya
bermanfaat untuk menggairahkan ekonomi mikro – sekecil apapun.
Tujuannya: InsyaAllah masuk surga.
Diskusi kami berangkat dengan mengidentifikasi masalah yang ada. Kenapa ya
usaha mengangkat industri pariwisata Indonesia yang dilakukan lembaga eksekutif
dan regulator kita tidak banyak membuahkan hasil?
Oooh…mungkin karena saking banyaknya keindahan dan kehebatan negeri ini, kita
jadi bingung memilih unique selling proposition…bingung menentukan
diferensiasi…bingung menetapkan positioning Indonesia sebagai brand…
Buktinya iklan-iklan pariwisata kita tidak pernah jauh dari gambar-gambar
pemandangan nan indah. Buktinya Bali lebih tenar secara parsial karena dia
lebih spesifik menjual pantai. Buktinya tagline pariwisata kita kerap
berubah-ubah tanpa diikuti kampanye komunikasi yang jelas (2001: Indonesia,
just a smile away. 2003: Indonesia, endless beauty of diversity. Belum setahun,
dirubah lagi jadi: Indonesia, the color of life. 2004: Indonesia, ultimate in
diversity. Entah yang sekarang-sekarang, sudah terlalu banyak yang harus
diingat. Bandingkan dengan Malaysia Truly Asia yang didukung kampanye
konsisten). Buktinya lagi, kita punya 17.504 pulau dan 9.634 di antaranya belum
punya nama (50% lebih!) hehehe. Saking bingungnya.
Eh, sebentar. Kenapa tidak kita tularkan saja kebingungan itu pada dunia?
Kenapa tidak kita “jual” saja semua kelebihan dan kekurangan kita apa adanya,
lalu kita biarkan dunia yang menilai? Kita biarkan saja para turis itu datang
ke Indonesia, lalu tersesat dengan berlimpahnya keindahan negeri ini!
Maka tema kampanye kita kali ini judulnya: GET LOST IN INDONESIA!
Tapi gimana caranya? Lembaga otoritas yang bekerja penuh waktu saja kerepotan
menjalankan kampanye pariwisata, apalagi kami yang cuma berempat? Sebab, memang
tidak mudah. Kampanye-kampanye sebelumnya saja, denger-denger, selalu dipenuhi
justifikasi tentang kekurangan waktu, kekurangan biaya, kekurangan tenaga…
Kekurangan tenaga? Eh, sebentar. Bukankah kita punya 240 juta penduduk
Indonesia? Penduduk sebuah negara terbanyak ke-lima di dunia?
Sekali lagi, 240 juta orang!
Yang 180 juta-nya adalah pengguna ponsel. Yang 40 juta di antaranya adalah
pengguna internet. Yang 80% dari pengguna internet itu punya facebook. Yang
menjadi negara pengguna Facebook nomer 2 di dunia. Yang jadi pengguna Twitter
terbanyak nomer 3 di dunia. Yang, artinya, 240 juta orang dengan hobi berbagi
yang amat sangat teramat dahsyat!
Jadi kenapa tidak kita jadikan saja 240 juta orang itu sebagai pekerja kampanye
pariwisata kita? Kenapa tidak kita serahkan saja masalah pendanaan, tenaga dan
waktu pada mereka?
Maka jadilah, Get Lost in Indonesia sebagai user-generated tourism movement
yang dimiliki dan digerakan oleh seluruh rakyat Indonesia!
Caranya?
Pergunakan kamera digital, manual, atau kamera ponsel Anda untuk menangkap
apapun yang ada di Indonesia yang Anda pikir menarik. Bisa pemandangan, boleh
makanan, bisa Pak Maman yang bekerja mengurut urat keseleo sambil mendendangkan
pupuh kinanti. Masing-masing Anda pasti punya pengalaman unik. Cantumkan
caption dan deskripsi pada setiap foto.
Lalu upload foto-foto dan cerita tersebut
ke www.facebook.com/getlostinindonesiaatau ke twitter @getlostisgood atau
ke www.GetLostinIndonesia.com (website sedang dikerjakan dan segera tayang,
akan kami kabari secepatnya).
Setelah itu?
Anda tentu boleh membantu gerakan ini. Anda boleh mengunggah dan mengunduh foto
(dengan etika tentunya). Anda boleh menceritakan gerakan ini kepada siapa pun.
Atau berbagi foto-foto yang ada kepada teman-teman Anda di dalam maupun luar
negeri. Atau mencetaknya dan sekedar menempelkannya di toilet rumah Anda agar
siapa pun tahu tentang Indonesia. Boleh! Karena ini gerakan milik orang
Indonesia.
Anda juga boleh berbincang langsung dengan pengunggah foto tentang lokasi dan
memintanya bercerita lebih lanjut. Boleh juga menghubungi pemilik foto siapa
tahu Anda bermaksud menggunakannya untuk kepentingan komersil. Boleh, sebab ini
gerakan dari dan oleh Anda.
Sebab artinya, gerakan ini akan menyebarluaskan Indonesia secara organik. Juga
membantu Indonesia menemukan kehebatan dan keindahan dirinya sendiri (tanpa
perlu mengirim petugas untuk mendata, bukan?). Membantu tukang serabi di Gang
Sejahtera berpromosi. Membantu UKM-UKM di Indonesia menyampaikan produknya
kepada dunia. Membantu para turis menemukan shortcut kepada sumber informasi
langsung (bayangkan, turis tak lagi perlu mencari brosur daftar museum, tapi
langsung berhubungan dengan komunitas Sahabat Museum, misalnya).
Semoga semakin banyak potensi yang bisa diketemukan. Semoga semakin kencang
suara kita didengar dunia. Semoga semakin banyak UKM yang terbantu
pemasarannya. Tanpa perlu menunggu kebijakan apapun diputuskan.
Hmm. ..mengeluh atau bergerak. Gimana?
Get Lost in Indonesia team