Get Lost in Indonesia!
Mendengar keluhan-keluhan tentang Indonesia membuat saya letih. Tapi
mendapati kehebatan dan kelebihan negeri ini juga ternyata lebih
melelahkan.
Sebuah bangsa yang katanya besar. Negeri yang diciptakan Tuhan sambil
tersenyum. Zamrud khatulistiwa yang terbentang sepanjang 3.977 mil
antara Samudera Hindia dan Pasifik. Yang konon memiliki daratan
sepanjang 1.922.570 km², dengan 3.257.483 km² panjang perairan, 95.181
km garis pantai, punya 17.504 pulau, lebih dari 53 gunung, 500 lebih
suku, 742 bahasa daerah, lebih dari 300.000 spesies liar, dan tentu
saja 240 juta penduduk.
Tapi kenapa begitu sulit “menjual” bangsa ini? Kenapa tidak bisa kita
leluasa menikmatinya? Kenapa begitu susah menjadi orang senang di sini?
Dan kenapa begitu senang kita jadi orang susah?
Sewaktu Malaysia mengakui batik dan tari pendet sebagai kebudayaannya,
kita semua kebakaran jenggot. Lalu terbirit-birit mematenkan. Tapi kok
saya pesimis, tidak banyak yang rakyat kita bisa dapatkan dari usaha
itu. Paten ya tinggal paten. Pengakuan di atas kertas. Dan tidak
signifikan mengurangi antrian pembagian zakat.
Jika Malaysia memroduksi batik berkualitas secara masif – lalu cukup
menyantumkan tulisan Batik Indonesia pada labelnya – yang makmur yaa
tetap rakyat Malaysia. Para pengusahanya, pekerjanya, distributornya,
reseller-nya, penjual kain dasarnya, produsen lilinnya, produsen
pewarnanya, perusahaan listrik dan airnya, mbak-mbak penjaga tokonya.
Kalau negara tetangga membuat pertunjukan Tari Pendet di festival
pariwisata mereka, tentu saja nama Indonesia ada tertera kecil-kecil di
brosur meja depan. Tapi yang kebagian rezeki yaa tetap panitianya,
pemerintahnya, pemilik toko cenderamatanya,tukang kacang rebusnya, calo
karcisnya – kalau ada hehe. Pendapatan mereka bertambah, tapi kita
tidak. Karena rakyat kita tidak kebagian royalty sepersen pun.
Kenyataan ini yang membuat saya letih. Bahwa kita tidak bisa berbuat
banyak atas itu.
Maka pada satu malam, saya brainstorming bersama 3 orang rekan. Di
tempat nongkrong yang biasa, minum kopi yang biasa, situasi yang biasa.
Yang tidak biasa cuma aturannya: kita berempat tidak boleh mengeluh.
Temanya: bagaimana memasarkan Indonesia. Lalu bagaimana menjadikannya
bermanfaat untuk menggairahkan ekonomi mikro – sekecil apapun.
Tujuannya: InsyaAllah masuk surga.
Diskusi kami berangkat dengan mengidentifikasi masalah yang ada. Kenapa
ya usaha mengangkat industri pariwisata Indonesia yang dilakukan
lembaga eksekutif dan regulator kita tidak banyak membuahkan hasil?
Oooh…mungkin karena saking banyaknya keindahan dan kehebatan negeri
ini, kita jadi bingung memilih unique selling proposition…bingung
menentukan diferensiasi…bingung menetapkan positioning Indonesia
sebagai brand…
Buktinya iklan-iklan pariwisata kita tidak pernah jauh dari
gambar-gambar pemandangan nan indah. Buktinya Bali lebih tenar secara
parsial karena dia lebih spesifik menjual pantai. Buktinya tagline
pariwisata kita kerap berubah-ubah tanpa diikuti kampanye komunikasi
yang jelas (2001: Indonesia, just a smile away. 2003: Indonesia,
endless beauty of diversity. Belum setahun, dirubah lagi jadi:
Indonesia, the color of life. 2004: Indonesia, ultimate in diversity.
Entah yang sekarang-sekarang, sudah terlalu banyak yang harus diingat.
Bandingkan dengan Malaysia Truly Asia yang didukung kampanye konsisten).
Buktinya
lagi, kita punya 17.504 pulau dan 9.634 di antaranya belum punya nama
(50% lebih!) hehehe. Saking bingungnya.
Eh, sebentar. Kenapa tidak kita tularkan saja kebingungan itu pada
dunia? Kenapa tidak kita “jual” saja semua kelebihan dan kekurangan
kita apa adanya, lalu kita biarkan dunia yang menilai? Kita biarkan
saja para turis itu datang ke Indonesia, lalu tersesat dengan
berlimpahnya keindahan negeri ini!
Maka tema kampanye kita kali ini judulnya:
GET LOST IN INDONESIA!
Tapi gimana caranya? Lembaga otoritas yang bekerja penuh waktu saja
kerepotan menjalankan kampanye pariwisata, apalagi kami yang cuma
berempat? Sebab, memang tidak mudah. Kampanye-kampanye sebelumnya saja,
denger-denger, selalu dipenuhi justifikasi tentang kekurangan waktu,
kekurangan biaya, kekurangan tenaga…
Kekurangan tenaga? Eh, sebentar. Bukankah kita punya 240 juta penduduk
Indonesia? Penduduk sebuah negara terbanyak ke-lima di dunia?
Sekali lagi, 240 juta orang!
Yang 180 juta-nya adalah pengguna ponsel. Yang 40 juta di antaranya
adalah pengguna internet. Yang 80% dari pengguna internet itu punya
facebook. Yang menjadi negara pengguna Facebook nomer 2 di dunia. Yang
jadi pengguna Twitter terbanyak nomer 3 di dunia. Yang, artinya, 240
juta orang dengan hobi berbagi yang amat sangat teramat dahsyat!
Jadi kenapa tidak kita jadikan saja 240 juta orang itu sebagai pekerja
kampanye pariwisata kita? Kenapa tidak kita serahkan saja masalah
pendanaan, tenaga dan waktu pada mereka?
Maka jadilah,
Get Lost in Indonesia sebagai user-generated tourism
movement yang dimiliki dan digerakan oleh seluruh rakyat Indonesia!
Caranya?
Pergunakan kamera digital, manual, atau kamera ponsel Anda untuk
menangkap apapun yang ada di Indonesia yang Anda pikir menarik. Bisa
pemandangan, boleh makanan, bisa Pak Maman yang bekerja mengurut urat
keseleo sambil mendendangkan pupuh kinanti. Masing-masing Anda pasti
punya pengalaman unik. Cantumkan caption dan deskripsi pada setiap foto.
Lalu upload foto-foto dan cerita tersebut ke
www.facebook.com/getlostinindonesiaatau
ke twitter @getlostisgood atau ke www.GetLostinIndonesia.com (website
sedang dikerjakan dan segera tayang, akan kami kabari secepatnya).
Setelah itu?
Anda tentu boleh membantu gerakan ini. Anda boleh mengunggah dan
mengunduh foto (dengan etika tentunya). Anda boleh menceritakan gerakan
ini kepada siapa pun. Atau berbagi foto-foto yang ada kepada
teman-teman Anda di dalam maupun luar negeri. Atau mencetaknya dan
sekedar menempelkannya di toilet rumah Anda agar siapa pun tahu tentang
Indonesia. Boleh! Karena ini gerakan milik orang Indonesia.
Anda juga boleh berbincang langsung dengan pengunggah foto tentang
lokasi dan memintanya bercerita lebih lanjut. Boleh juga menghubungi
pemilik foto siapa tahu Anda bermaksud menggunakannya untuk kepentingan
komersil. Boleh, sebab ini gerakan dari dan oleh Anda.
Sebab artinya, gerakan ini akan menyebarluaskan Indonesia secara
organik. Juga membantu Indonesia menemukan kehebatan dan keindahan
dirinya sendiri (tanpa perlu mengirim petugas untuk mendata, bukan?).
Membantu tukang serabi di Gang Sejahtera berpromosi. Membantu UKM-UKM
di Indonesia menyampaikan produknya kepada dunia. Membantu para turis
menemukan shortcut kepada sumber informasi langsung (bayangkan, turis
tak lagi perlu mencari brosur daftar museum, tapi langsung berhubungan
dengan komunitas Sahabat Museum, misalnya).
Semoga semakin banyak potensi yang bisa diketemukan. Semoga semakin
kencang suara kita didengar dunia. Semoga semakin banyak UKM yang
terbantu pemasarannya. Tanpa perlu menunggu kebijakan apapun diputuskan.
Hmm. ..mengeluh atau bergerak. Gimana?
Get Lost in Indonesia team