http://groups.yahoo.com/group/rumahilmu/message/5171
abe setiawan <setyawan_...@...>setyawan_abe
Offline
Send Email
(OOT) BERKACA DARI JEPANG
Jepang. Negara ini memang mengagumkan. Sebutlah namanya, maka orang yang
mendengar akan mengidentikkan dengan deretan kalimat kekaguman. Yang paling
menonjol dari Jepang, adalah etos kerjanya. Mereka gigih dan tekun. Namun,
tahukan Anda bahwa dulu jepang adalah negara tertutup?
Kemajuan Jepang dimulai setelah berakhirnya zaman Edo, tepatnya setelah Kaisar
Meiji naik tahta dan melakukan penataan ulang. Gebrakan ini selanjutnya dikenal
dengan sebutan restorasi Meiji atau modernisasi Jepang di bawah kaisar Meiji
(1866-1869).
Sebelum era ini, Jepang tak lebih dari sebuah negara ultra tradisional, feodal
dan sangat tertutup. Mereka sangat anti-asing, karena itulah mereka menutup
diri. Hal ini dilakukan, karena Jepang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai
leluhur.
Di zaman itu, Jepang di bawah kendali kaum samurai, istilah untuk perwira
militer kelas elit dari kalangan bangsawan. Karena itu, Samurai haruslah sopan
dan terpelajar.
Kata ”samurai” sendiri berasal dari kata kerja ”samorau” asal bahasa Jepang
kuno, lalu berubah menjadi ”saburau” yang berarti ”melayani”, dan akhirnya
menjadi ”samurai” yang bekerja sebagai pelayan bagi sang majikan.
Ciri khas samurai ini, selalu membawa pedang di pinggang. Kadang lebih dari
satu. Pedang ini disebut katana. Sementara itu, para samurai yang tidak terikat
dengan klan atau bekerja untuk
majikan disebut ”ronin”. Sedangkan samurai yang bertugas di wilayah han disebut
hanshi.
gambar ronin
Adapun pemimpin atau jendral para samurai ini disebut shogun. Pemerintahannya
disebut keshogunan. Yang paling terkenal adalah Keshogunan Tokugawa, Keshogunan
Edo, keshogunan Kamakura.
Hingga akhirnya Meiji naik tahta pada akhir abad 19 dan memulai restorasi,
perlahan tapi pasti samurai dihapuskan sebagai kelas berbeda dan digantikan
dengan tentara nasional menyerupai negara Barat. Meiji malah memerintahkan,
mengganti katana dengan pena.
Dorongan modernisasi Jepang ini bermula ketika angkatan laut Amerika dengan
armada Pasifiknya di bawah pimpinan Laksamana Perry (1853), datang ke negera
tersebut seraya meminta agar Jepang membuka diri kepada pihak asing, misalnya
berdagang dan membolehkan kapal merapat di pelabuhannya.
Kedatangan Perry membuat mata bangsa Jepang terbuka terhadap kekuatan lain di
luar mereka. Semangat Bushido para samurai dengan pedang-pedangnya, tertantang
untuk mempu melawan kekuatan Amerika, orang kulit putih, orang Barat.
Sejak saat itu mereka mulai berpikir, setidaknya sama dengan orang-orang asing
itu. Maka, dimulailah proses reformasi dengan pendidikan sebagai mata tombak.
Pendidikan menjadi hak dan kewajiban semua warga.
Tetapi reformasi itu yang disebut restorasi, sejak itu restorasi Jepang itu
disebut dengan Restorasi Meiji yang juga ditandai sebagai era masuknya Jepang
ke zaman industri.
Sebuah catatan menulis, Restorasi Jepang itu berjalan sangat cepat dan efisien
tahun 1853.
Menjelang akhir abad ke 19 Jepang sudah berhasil menjadi kekuatan militer
dengan angkatan laut yang sangat tangguh sehingga dapat mengalahkan secara
mutlak armada raksasa Rusia di Selat Tsushima, menyapu bersih kepulauan
Sachalin, mengambil Korea dan Semenanjung Liau-Tung dari Rusia, serta Port
Arthur dan Dairen (Wells, 1951).
Namun, restorasi Meiji ini bukannya tak memakan korban. Banyak terjadi
penentangan yang berakhir perang. Namun perlawanan ini berhasil dihancurkan.
Apa kata Meiji setelah penentangnya ini ditumpas? ”Saat ini kita sudah berhasil
membuat kereta api, mobil, baju barat, tapi kita tak boleh lupa pada akar
budaya.” Pesan Kaisar Meiji ini, terus melakat hingga kini.
Lalu, apa dan mengapa Jepang bisa cepat berkambang seperti itu? Ada konsep
pemikiran yang mereka anut selama ini, yaitu ”Kaizen” yang berarti, ambil yang
baik, buang yang buruk, ciptakan produk baru.
Konsep inilah yang dipakai mereka untuk menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu
karya kreatif, bukan menjiplak mentah-mentah.
Misalkan saja lihat saja bagaimana mobil-mobil buatan Jepang, performanya
dibuat berdasar berfalsafah ambil yang baik, buang yang buruk, ciptakan produk
baru tadi.
Misal mobil-mobil di Barat selalu berbadan besar, boros, dan mahal. namun bagi
Jepang diubah menjadi berbadan ringan, irit dan murah. Hasilnya, mobil-mobil
Jepang kini merajai industri otomotif dunia.
Hal yang lebih menakjubkan, saat Shinkansen, perusahaan transportasi Jepang,
pada 1 Oktober 1964 berhasil membuat kereta api cepat (bullet train).
Ini adalah sebuah langkah maju yang diciptakan hanya dalam jangka waktu 19
tahun, setelah Jepang diluluh-lantakkan oleh bom atom! Ide bullet train ini
tercipta, setelah Jepang memanfaatkan penemuan magnet di Amerika, sebagai
bantalan relnya. Luar biasa.
Selain menerapkan falsafah Kaizen, pada dasarnya kepribadian Jepang sangat
dipengaruhi oleh semangat ”bushido” yang sangat asketik, berdisiplin tinggi,
dan menjunjung tinggi kode etik dan tata krama dalam kehidupan. Kesemuanya itu
terus berlanjut sewaktu proses restorasi itu berjalan hingga kini.
Apa bushido itu?
Kata bushido berasal dari kata ”bushi” (prajurit/kesatria) dan “dou” (jalan).
Bushido yang dapat diartikan sebagai ”jalan hidup seorang prajurit atau
kesatria” ini, mempunyai 7 kode etik (semboyan) yaitu;
Gi (rectitude/benar)
Yu (courage/berani)
Jin (benevolence/berbuat baik)
Rei (respect/hormat)
Makoto atau Shin (honesty/jujur)
Meiyo (honor, glory/kehormatan dan kejayaan)
Chuugi (loyalty/setia)
Semangat inilah (bandingkan dengan 99 nama Allah) yang mereka pakai dalam
melakukan pekerjaan. Sekadar diketahui, kerja bagi orang Jepang adalah
segalanya.
Apabila mereka telah bekerja di satu perusahaan, mereka akan bekerja dengan
rajin dan penuh semangat, karena bagi mereka, pekerjaan itu adalah Ten Shoku,
sebuah pekerjaan yang telah diberikan Tuhan kepadanya, sehingga harus
dikerjakan dengan baik dan bersemangat.
Selain itu, diantara mereka ada juga pandangan shigoto = seimei yaitu kerja =
hidup. Konsep kerja seumur hidup ini mulai berkembang bersamaan dengan
diperkenalkannya konsep bushido dan samurai pada masa feodal di era Tokugawa
Shogunate (abad 11-14).
Sejarahnya begini, pada konsep bushido, seorang bushi atau samurai diharuskan
mengabdi kepada majikan (penguasa pada masa itu) hingga titik darah penghabisan
dengan bersandar pada kebenaran yang diyakininya, karena mengabdi (diartikan
kerja) adalah merupakan jalan hidup mereka.
Setelah berakhir Edo-jidai dan menginjak Meiji-jidai (era modern), kasta bushi
dihapuskan, namun konsep bushido tetap digunakan secara luas tidak hanya
dibidang keprajuritan dan pemerintahan, tetapi juga digunakan untuk
mengembangkan bidang perekonomian, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya.
Nah, dari konsep itulah bagi orang Jepang, hidup = kerja, kerja = hidup!
Menariknya, orang jepang akan sangat malu bila pindah-pindah kerja (dari satu
perusahaan ke perusahaan lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain) karena
bisa dianggap sebagai orang yang tidak punya loyalitas dan komitmen terhadap
pekerjaan dan perusahaan.
Pengaruh mendasar lainnya dari kehadiran bangsa Amerika di Jepang adalah
perubahan Konstitusi Jepang yang dibuat atas supervisi Jenderal MacAthur (26
Januari 1880 – 5 April 1964), dan konstitusi itu masih berlaku hingga kini.
Di bawah asuhan Jenderal MacArhur, sejak tahun 1945-1951, Jepang tumbuh kembali
menjadi negara ekonomi yang sangat tangguh, sehingga menjadi super power dalam
bidang ekonomi hingga kini.
Yang menarik dari Restorasi Jepang adalah :
Para aktor yang sangat gigih memperjuangkan reformasi itu berjumlah tidak lebih
dari 100 orang muda yang cerdas dan berdedikasi tinggi.
Titik berat dari proses restorasi itu adalah di bidang pendidikan. Banyak
sekali pemuda Jepang dikirimkan ke luar negeri dan Jepang banyak mengambil
sistem Jerman dalam segala proses kehidupannya.
Sewaktu menjalankan Restorasi, Jepang sudah memiliki administrasi pemerintahan
yang sangat rapih warisan dari rezim Tokugawa.
Setelah Jepang hancur oleh bom atom, kaisar saat itu bertanya, berapa guru yang
tersisa?
kota tokyo
Diposkan oleh Muhammad yusron mufid di 01.58