Nice sharing mas Kewajiban kita sebagai orang tua untuk mendidik anak dan mencontohkan perilaku yang baik kepada anak kita
Bullying seorang anak bisa disebabkan beberapa hal 1. Dari rumah, dia terbiasa melihat hal bullying, Ayahnya kepada ibunya, ayah atau ibunya kepada dirinya, kakaknya kepada dirinya, dsb. Sehingga dia melampiaskan perasaan itu ke orang yg lebih lemah di sekolah atau lingkungan sekitar. 2. Dari televisi. Tontonan anak2 yang seharusnya memberi contoh baik terkadang memberikan pengaruh buruk, adegan2 gank2 anak SD yang mengintimidasi sesama dianggap hal yg biasa 3. Video game dan game online. Harus selektif. Saya pernah membaca buku Bahaya Candu Video Game. Lebih berbahaya dari Narkoba. Ada adegan game online atau video game, yang isinya si jagoan harus membunuh penjahat, merebut mobil, kemudian merampok untuk mendapatkan senjata. Lalu hadianya jika menang, berhubungan intim dengan gadis yg dibebaskan. (Ini saya baca dibuku tsb) Ada kisah menarik yang saya dengar dari rekan saya. Kisah seorang Bapak yang mendidik anaknya dengan kejujuran. Memang tidak terkait dengan bullying, tetapi metode mendidik bapak tsb perlu kita pelajari. Suatu ketika Bapak tsb baru selesai mengantar anaknya membuat SIM A. Dengan bangganya si Anak meminta ijin Bapaknya untuk mengemudikan mobil Bapaknya. Bapaknya berkata antarlah bapak ke kantor kemudian mobil nya silahkan dibawa kebengkel, kemudian jemput Bapak Jam 16 sore ya. Si Anak pun menyanggupi untuk mengantar bapaknya, setelah mengantar dia pun menyanggupi untuk membawa mobil ke bengkel. Jam 14 mobil pun selesai dari bengkel, sambil menunggu jam 16 dia pun main ke rumah temannya, kemudian mereka jalan2 hingga larut sore dengan mobil bapaknya tsb. Singkat cerita waktu sudah jam 1z sore, dia pun teringat harus menjemput bapaknya, sedangkan saat itu Hape belum dikenal di jamannya. Sampai kantor bapaknya jam 18, dia pun mengarang cerita berbohong kepada bapaknya.bapaknya bertanya kenapa baru datang? Apakah kamu lupa. Si anak berbohong dengan mengatakan bengkelnya penuh, kemudian bannya gembes, sambil gugup bercerita. Si bapaknya ini tahu kalau si anak berbohong. Dia pun berkata Nak kenapa kamu berbohong, apakah bapakmu ini mengajarkan kamu berbohong? Kemudian si bapak kembali berkata Nak, kesalahan diri bapak tidak bisa mendidikmu berkata jujur untuk hal yang hanya sepele saja. Maka karena ini kesalahan bapak, bapak akan pulang berjalan kaki ke rumah, mobil silahkan kamu yang bawa. Si anak pun mengikuti si bapak yang berjalan pulang dibelakang sambil mengendarai mobil dengan berderai air mata. Moral of the stories, mendidik bisa kita lakukan tanpa kekerasan tetapi juga dengan hati nurani. Semoga bermanfaat..... AriefK Sent from my NerdBerry® freakz smartphone -----Original Message----- From: Nugroho Laison <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 1 Nov 2011 00:59:10 To: SMA 1 Bekasi<[email protected]>; Insistnet<[email protected]>; Muhammadiyah Society<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [sma1bks] Fw: Siswi SD Kelas 1 Disiksa Senior , Mengapa Anak Berperilaku Buruk? Lampu Merah..Bullying sudah dimulai dari SD!!! -=-=-=- http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/11/01/ArticleHtmls/Siswi-SD-Kelas-1-Disiksa-Senior-01112011006019.shtml?Mode=1Siswi SD Kelas 1 Disiksa Senior "AKU tak mau lagi sekolah. Takut..." pekik BM, 6. Siswi kelas satu SD Quantum Indonesia di Jalan Kalimanggis, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, itu terus menolak pergi ke sekolah. Orangtuanya, San, 44, dan Arf, 34, sudah berusaha meyakinkan sang buah hati bahwa kondisi sekolah sudah aman. Tidak ada yang perlu ditakutkan, tetapi BM sukar diyakinkan. "Dia minta dicarikan sekolah baru," ujar Arfi na, kemarin, dengan nada gusar. Bagaimana ia tidak gusar, putrinya sudah seminggu tak bersekolah karena trauma dengan perbuatan seniornya. "Anak saya ketakutan. Dia terlihat murung." BM sepertinya masih trauma dengan insiden yang terjadi Senin (24/10) siang. Bayang-bayang sang senior, VA, 8, terus menghantui putri kedua dari tiga bersaudara itu. BM tak lagi ceria seperti dulu. Ia suka sendirian atau mengurung diri dalam kamar. Trauma yang merenggut keceriaan BM bermula saat bermain-main di halaman sekolah. Ia asyik bermain sendirian karena memang sedang proses belajarmengajar. Sebagai siswa kelas paling bawah, ia hanya bersekolah sampai pukul 11.45 WIB. Proses belajar kelas tiga hingga enam sampai pukul 14.00. Saat itu, BM sedang menunggu kakaknya yang duduk di kelas V. Tiba-tiba seorang siswi dari kelas tiga berinisial VA datang menghampiri. VA menghardik dan mendorongdorong BM sampai masuk ke toilet siswa. Di dalam toilet, kepala BM dibenturkan ke dinding dan wajahnya ditendang. VA memaksa korban menanggalkan pakaian lalu seragam tersebut disiram dengan air keran agar tidak bisa lagi dipakai korban. BM yang ketakutan hanya bisa melihat wajah VA dengan harapan dikasihani. Tatapan itu diartikan VA melototi dirinya dan diminta supaya menutupi mata dengan rambut. BM menangis dan minta VA berhenti menyiksa, tetapi diabaikan. BM mengerang kesakitan, tetapi sang kakak kelas bukannya kasihan malah semakin menjadijadi. "Saya haus! Saya ingin minum," teriak korban sambil bercucuran air mata. VA menyodorkan selang keran toilet ke mulut BM. "VA memaksa anak saya minum air keran," tutur Arfina lagi. Setelah puas memperlakukan korban tanpa terlihat orang lain sekitar 10 menit, VA bergegas meninggalkan tempat kejadian perkara. BM pun memakaikan kembali seragamnya yang telah basah kuyup. Karena tidak terima anaknya disiksa sedemikian rupa, Arf melaporkan kasus kekerasan itu ke Polres Metro Bekasi. Kasus nomor laporan 2748/K/XX/2011/ SPKT itu ditangani unit pelayanan perempuan dan anak (PPA). Mengapa sekolah diam saja? "Kami berusaha memediasi dua pihak, yakni orangtua BM dan VA. Tetapi, kondisi saat ini tidak memungkinkan karena orangtua BM masih terlihat emosi," jelas Wakil Kepala SD Quantum Indonesia Ayi Listriani. "Pihak sekolah akan berusaha mempertemukan kedua pihak dan mencari solusi," terangnya. Ia menambahkan, VA dan BM sama-sama tidak masuk sekolah. Tercatat sejak Rabu (26/10) keduanya tidak mengikuti kegiatan belajar tanpa keterangan yang jelas. "Keduanya alpa. Namun, sekolah dapat memaklumi," imbuhnya. (Golda Eksa/J-1) -=-=-=- http://id.she.yahoo.com/mengapa-anak-berperilaku-buruk-043127837.htmlMengapa Anak Berperilaku Buruk? TRIBUNnews.com – Sen, 31 Okt 2011 11.31 WIB TRIBUNNEWS.COM - Perilaku agresif terkadang lazim ditemui pada anak-anak usia dibawah lima tahun (balita). Namun jika perilaku tersebut masih bertahan sampai ia bersekolah TK atau SD, hhhm bisa jadi ada yang salah dengan pola asuh ibunya. Para peneliti dari Universitas of Minnesota, Amerika Serikat, menyebutkan pada umumnya pembawaan bayi adalah tenang. Tetapi pada satu masa di awal usia balita, anak bisa punya kebiasaan suka memukul. Sifat agresif itu mencapai puncaknya saat balita berusia 2,5 tahun, kemudian mereda. Menurut teori, balita berusia 4 tahun lebih bisa dikendalikan dibanding balita usia 2 tahun, dan anak berusia 6 tahun berperilaku lebih baik dibanding rata-rata anak usia 4 tahun. Namun pada kenyataannya ada anak-anak yang berperilaku sulit diatur. Menurut Michael Lorber, peneliti yang melakukan riset ini, ada sebagian anak yang tetap berperilaku agresif sampai ia berusia 6 tahun. "Anak yang masih bersikap agresif di usia TK atau kelas I sekolah dasar berpotensi besar membawa sikap itu sampai besar," kata Lorber. Padahal, literatur menyatakan anak yang agresif, seperti suka memukul atau melempar benda saat tantrum, cenderung bermasalah di sekolah, beresiko tinggi depresi, bahkan suka melakukan kekerasan pada pasangannya kelak. Dalam penelitian yang dilakukan Lorber terhadap 267 ibu dan anak, diketahui bayi usia 3 bulan pun sudah bisa meniru. Jika sejak bayi si ibu bersikap kurang sabar atau suka mengomel, besar kemungkinan bayinya akan tumbuh menjadi anak berperilaku buruk. Sikap agresif anak juga bisa timbul dari pengaruh sekelilingnya, seperti tayangan televisi atau video games. Namun, Lorber menjelaskan bahwa pola asuh bukan faktor tunggal dalam pembentukan perilaku anak karena ada juga pengaruh faktor genetik. Walau begitu, ia menyarankan agar orangtua memberi contoh perilaku yang baik pada anaknya. "Mulailah sedini mungkin. Menjadi orangtua yang sensitif dan merespon kebutuhan sosial dan emosional anak sangatlah penting," katanya. Disclaimer : This email and any files transmitted with it are confidential and intended solely for the use of the individual or entity to whom they are addressed. If you have received this email in error please notify the system manager. Please note that any views or opinions presented in this email are solely those of the author and do not necessarily represent those of the company. Finally, the recipient should check this email and any attachments for the presence of viruses. The company accepts no liability for any damage caused by any virus transmitted by this email.
