Wah kisah nyata ternyata yah, very inspired...saya dengarnya dari rekan saya.
AriefK Sent from my NerdBerry® freakz smartphone -----Original Message----- From: Morry Infra <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 1 Nov 2011 15:22:42 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [sma1bks] Fw: Siswi SD Kelas 1 Disiksa Senior , Mengapa Anak Berperilaku Buruk? Arief, Itu kisah nyata cucunya Mahatma Gandhi di South Africa... Salam, Morry Infra 2011/11/1 Arief Kurniawan <[email protected]> > ** > > > ** Nice sharing mas > > Kewajiban kita sebagai orang tua untuk mendidik anak dan mencontohkan > perilaku yang baik kepada anak kita > > Bullying seorang anak bisa disebabkan beberapa hal > > 1. Dari rumah, dia terbiasa melihat hal bullying, Ayahnya kepada ibunya, > ayah atau ibunya kepada dirinya, kakaknya kepada dirinya, dsb. Sehingga dia > melampiaskan perasaan itu ke orang yg lebih lemah di sekolah atau > lingkungan sekitar. > > 2. Dari televisi. Tontonan anak2 yang seharusnya memberi contoh baik > terkadang memberikan pengaruh buruk, adegan2 gank2 anak SD yang > mengintimidasi sesama dianggap hal yg biasa > > 3. Video game dan game online. Harus selektif. > Saya pernah membaca buku Bahaya Candu Video Game. Lebih berbahaya dari > Narkoba. Ada adegan game online atau video game, yang isinya si jagoan > harus membunuh penjahat, merebut mobil, kemudian merampok untuk mendapatkan > senjata. Lalu hadianya jika menang, berhubungan intim dengan gadis yg > dibebaskan. (Ini saya baca dibuku tsb) > > Ada kisah menarik yang saya dengar dari rekan saya. Kisah seorang Bapak > yang mendidik anaknya dengan kejujuran. Memang tidak terkait dengan > bullying, tetapi metode mendidik bapak tsb perlu kita pelajari. > > Suatu ketika Bapak tsb baru selesai mengantar anaknya membuat SIM A. > Dengan bangganya si Anak meminta ijin Bapaknya untuk mengemudikan mobil > Bapaknya. Bapaknya berkata antarlah bapak ke kantor kemudian mobil nya > silahkan dibawa kebengkel, kemudian jemput Bapak Jam 16 sore ya. > > Si Anak pun menyanggupi untuk mengantar bapaknya, setelah mengantar dia > pun menyanggupi untuk membawa mobil ke bengkel. Jam 14 mobil pun selesai > dari bengkel, sambil menunggu jam 16 dia pun main ke rumah temannya, > kemudian mereka jalan2 hingga larut sore dengan mobil bapaknya tsb. > > Singkat cerita waktu sudah jam 1z sore, dia pun teringat harus menjemput > bapaknya, sedangkan saat itu Hape belum dikenal di jamannya. Sampai kantor > bapaknya jam 18, dia pun mengarang cerita berbohong kepada > bapaknya.bapaknya bertanya kenapa baru datang? Apakah kamu lupa. Si anak > berbohong dengan mengatakan bengkelnya penuh, kemudian bannya gembes, > sambil gugup bercerita. Si bapaknya ini tahu kalau si anak berbohong. Dia > pun berkata Nak kenapa kamu berbohong, apakah bapakmu ini mengajarkan kamu > berbohong? Kemudian si bapak kembali berkata Nak, kesalahan diri bapak > tidak bisa mendidikmu berkata jujur untuk hal yang hanya sepele saja. Maka > karena ini kesalahan bapak, bapak akan pulang berjalan kaki ke rumah, mobil > silahkan kamu yang bawa. Si anak pun mengikuti si bapak yang berjalan > pulang dibelakang sambil mengendarai mobil dengan berderai air mata. > > Moral of the stories, mendidik bisa kita lakukan tanpa kekerasan tetapi > juga dengan hati nurani. > > Semoga bermanfaat..... > > AriefK > > Sent from my NerdBerry® freakz smartphone > ------------------------------ > *From: * Nugroho Laison <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Tue, 1 Nov 2011 00:59:10 -0700 (PDT) > *To: *SMA 1 Bekasi<[email protected]>; Insistnet< > [email protected]>; Muhammadiyah Society< > [email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Subject: *[sma1bks] Fw: Siswi SD Kelas 1 Disiksa Senior , Mengapa Anak > Berperilaku Buruk? > > > > Lampu Merah..Bullying sudah dimulai dari SD!!! > > -=-=-=- > > > http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2011/11/01/ArticleHtmls/Siswi-SD-Kelas-1-Disiksa-Senior-01112011006019.shtml?Mode=1 > * > Siswi SD Kelas 1 Disiksa Senior > * > > "AKU tak mau lagi sekolah. > Takut..." pekik BM, 6. Siswi kelas satu SD Quantum Indonesia di Jalan > Kalimanggis, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, itu terus menolak pergi > ke sekolah. > > Orangtuanya, San, 44, dan Arf, 34, sudah berusaha meyakinkan sang buah > hati bahwa kondisi sekolah sudah aman. Tidak ada yang perlu ditakutkan, > tetapi BM sukar diyakinkan. > "Dia minta dicarikan sekolah baru," ujar Arfi na, kemarin, dengan nada > gusar. > > Bagaimana ia tidak gusar, putrinya sudah seminggu tak bersekolah karena > trauma dengan perbuatan seniornya. > "Anak saya ketakutan. Dia terlihat murung." BM sepertinya masih trauma > dengan insiden yang terjadi Senin (24/10) siang. > Bayang-bayang sang senior, VA, 8, terus menghantui putri kedua dari tiga > bersaudara itu. BM tak lagi ceria seperti dulu. Ia suka sendirian atau > mengurung diri dalam kamar. > > Trauma yang merenggut keceriaan BM bermula saat bermain-main di halaman > sekolah. Ia asyik bermain sendirian karena memang sedang proses > belajarmengajar. > Sebagai siswa kelas paling bawah, ia hanya bersekolah sampai pukul 11.45 > WIB. > Proses belajar kelas tiga hingga enam sampai pukul 14.00. Saat itu, BM > sedang menunggu kakaknya yang duduk di kelas V. > > Tiba-tiba seorang siswi dari kelas tiga berinisial VA datang menghampiri. > VA menghardik dan mendorongdorong BM sampai masuk ke toilet siswa. > Di dalam toilet, kepala BM dibenturkan ke dinding dan wajahnya ditendang. > VA memaksa korban menanggalkan pakaian lalu seragam tersebut disiram > dengan air keran agar tidak bisa lagi dipakai korban. > BM yang ketakutan hanya bisa melihat wajah VA dengan harapan dikasihani. > Tatapan itu diartikan VA melototi dirinya dan diminta supaya menutupi mata > dengan rambut. BM menangis dan minta VA berhenti menyiksa, tetapi diabaikan. > BM mengerang kesakitan, tetapi sang kakak kelas bukannya kasihan malah > semakin menjadijadi. "Saya haus! Saya ingin minum," teriak korban sambil > bercucuran air mata. > VA menyodorkan selang keran toilet ke mulut BM. "VA memaksa anak saya > minum air keran," tutur Arfina lagi. > Setelah puas memperlakukan korban tanpa terlihat orang lain sekitar 10 > menit, VA bergegas meninggalkan tempat kejadian perkara. BM pun memakaikan > kembali seragamnya yang telah basah kuyup. > > Karena tidak terima anaknya disiksa sedemikian rupa, Arf melaporkan kasus > kekerasan itu ke Polres Metro Bekasi. > Kasus nomor laporan 2748/K/XX/2011/ SPKT itu ditangani unit pelayanan > perempuan dan anak (PPA). Mengapa sekolah diam saja? "Kami berusaha > memediasi dua pihak, yakni orangtua BM dan VA. Tetapi, kondisi saat ini > tidak memungkinkan karena orangtua BM masih terlihat emosi," jelas Wakil > Kepala SD Quantum Indonesia Ayi Listriani. > "Pihak sekolah akan berusaha mempertemukan kedua pihak dan mencari > solusi," terangnya. Ia menambahkan, VA dan BM sama-sama tidak masuk > sekolah. Tercatat sejak Rabu (26/10) keduanya tidak mengikuti kegiatan > belajar tanpa keterangan yang jelas. > "Keduanya alpa. Namun, sekolah dapat memaklumi," imbuhnya. (Golda > Eksa/J-1) > > -=-=-=- > http://id.she.yahoo.com/mengapa-anak-berperilaku-buruk-043127837.html > * > Mengapa Anak Berperilaku Buruk? > * > > TRIBUNnews.com – Sen, 31 Okt 2011 11.31 WIB > > TRIBUNNEWS.COM - Perilaku agresif terkadang lazim ditemui pada anak-anak > usia dibawah lima tahun (balita). Namun jika perilaku tersebut masih > bertahan sampai ia bersekolah TK atau SD, hhhm bisa jadi ada yang salah > dengan pola asuh ibunya. > > Para peneliti dari Universitas of Minnesota, Amerika Serikat, menyebutkan > pada umumnya pembawaan bayi adalah tenang. Tetapi pada satu masa di awal > usia balita, anak bisa punya kebiasaan suka memukul. Sifat agresif itu > mencapai puncaknya saat balita berusia 2,5 tahun, kemudian mereda. > > Menurut teori, balita berusia 4 tahun lebih bisa dikendalikan dibanding > balita usia 2 tahun, dan anak berusia 6 tahun berperilaku lebih baik > dibanding rata-rata anak usia 4 tahun. > Namun pada kenyataannya ada anak-anak yang berperilaku sulit diatur. > Menurut Michael Lorber, peneliti yang melakukan riset ini, ada sebagian > anak yang tetap berperilaku agresif sampai ia berusia 6 tahun. > > "Anak yang masih bersikap agresif di usia TK atau kelas I sekolah dasar > berpotensi besar membawa sikap itu sampai besar," kata Lorber. > Padahal, literatur menyatakan anak yang agresif, seperti suka memukul atau > melempar benda saat tantrum, cenderung bermasalah di sekolah, beresiko > tinggi depresi, bahkan suka melakukan kekerasan pada pasangannya kelak. > > Dalam penelitian yang dilakukan Lorber terhadap 267 ibu dan anak, > diketahui bayi usia 3 bulan pun sudah bisa meniru. Jika sejak bayi si ibu > bersikap kurang sabar atau suka mengomel, besar kemungkinan bayinya akan > tumbuh menjadi anak berperilaku buruk. > > Sikap agresif anak juga bisa timbul dari pengaruh sekelilingnya, seperti > tayangan televisi atau video games. Namun, Lorber menjelaskan bahwa pola > asuh bukan faktor tunggal dalam pembentukan perilaku anak karena ada juga > pengaruh faktor genetik. > > Walau begitu, ia menyarankan agar orangtua memberi contoh perilaku yang > baik pada anaknya. "Mulailah sedini mungkin. Menjadi orangtua yang sensitif > dan merespon kebutuhan sosial dan emosional anak sangatlah penting," > katanya. > > > Disclaimer : > This email and any files transmitted with it are confidential and intended > solely for the use of the individual or entity to whom they are addressed. > If you have received this email in error please notify the system manager. > Please note that any views or opinions presented in this email are solely > those of the author and do not necessarily represent those of the company. > Finally, the recipient should check this email and any attachments for the > presence of viruses. The company accepts no liability for any damage caused > by any virus transmitted by this email. > > > >
