---------- Forwarded message ----------
From: Fakih, Ridwan <>
Date: 2012/1/11
Subject: [ Sketsa: Awal Tahun Awal Menjajal Esemka Jokowi

Dear anggota milis Yb****

Kelihatannya Tulisan Wartawan Iwan Piliang dibawah ini bisa menggambarkan
sekelumit hiruk pikuk ………perjalanan mau munculnya adanya Mobil Nasional
yang tak pernah berhasil …….Karena yang jelas Pasti nanti ada Usaha para
pedagang mobil akan menggilas usaha kearah MobNas. Coba simak sedikit.
Padahal Para Pedagang Mobil itu sebenarnya sudah buat mobil sendiri, tetapi
selalu pakai bendera negeri asalnya.****

Salam ****

Ridwan Fakih****


-----Original Message-----
From: iwan piliang <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 6 Jan 2012 14:33:12
To: <[email protected]>; <[email protected]>;
<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Sketsa: Awal Tahun Awal Menjajal Esemka
Jokowi

Secara kebetulan saya Lebih awal mengenal  produk bisnis   Jokowi
di rumah kayu,  dibanding sosoknya sebagai  walikota. Dan lebih awal
menjajal mobil Kiat Esemka, Mobil Nasional, mobil kerja sang Walikota
Solo itu.   PRODUK Jokowi
sebagai pengusaha, lebih  awal saya kenali. Syahdan ketika  mengupayakan
kepulangan seorang warga kita di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), di
mana ada sosok WNI tertahan sudah delapan tahun, negara seakan alpa.  Di
sela  waktu saya menyempatkan diri mampir ke Global Village, Dubai,
penghujung 2009.  Global Village
adalah kawasan pameran tetap bak  Pekan Raya Jakarta, berlangsung tiap
tahun dari Desember hingga Februari di Dubai. Indonesia  tampil dengan
stand mungil  - - terkesan  asal ada - - kalah  meriah dengan negara
seperti Tibet,  namun produk rumah kayu milik perusahaan Jokowi memberi
pamor. Banyak peminat membeli, memesan. Jika rumah kayu itu tak ada,
stand Indonesia  datar-tawar. Menurut Wahid Supriyadi,
Dubes RI di UEA kala itu, ada  pihak  minta dibuatkan rumah full kayu
3.000 meter. Jualan Jokowi laris manis,  dari rumah kayu kecil
berbandrol  US $176 ribu  hingga jutaan US $. Kepada Wahid kala itu,
saya sampaikan  rasa penasaran dan minat bertemu Jokowi.  Sayangnya
selama 33 hari di UAE, ia tak muncul. Pertemuan pertama
saya, justeru  terjadi secara tidak sengaja dua tahun kemudian. Ketika
Oktober 2011 lalu, Jokowi tampil di Tvone.  Di sesi  hari itu kami
 duduk berdampingan tampil live bersebelahan. Saya katakan ke
pemirsa sosok seperti Jokowi ini seharusnya dicontoh oleh banyak
pebisnis, terlebih politisi dan pengelola negara. Jokowi
sebelum jadi pejabat, identitasnya sebagai pengusaha jelas; punya produk
dan atau jasa masuk ke pasaran. Dan Jokowi setidaknya sudah punya US  $
5 juta, sebelum mentas. “Ya begitulah he he he,”  Jokowi melanjutkan, “Pak
Iwan tahu aja!” Jokowi tersenyum-senyum. Pemirsa kala itu dapat
menyimaknya. Usai
siaran langsung di TVone itu, saya minta waktu Jokowi membicarakan soal
Jakarta. Saya yakinkan dia untuk maju sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Bagaimana keadaan  DKI Jakarta membutuhkan sosok pemimpin bersahaja
seperti dirinya. Ia bilang , “Saya sudah mengajukan lamaran ke partai
saya, untuk maju sebagai Gubernur DKI.” Partainya PDIP. Tetapi partai
Jokowi itu konon  mengusung nama lain! Majulah dengan jalur
independen! “Tidak. Saya sudah hitung segalanya. Lewat jalur independen
sulit,  hampir tak mungkin,” ujarnya. Jokowi
tak menjabarkan  kesulitan yang ia maksud. Logika saya, kalau memang
menang sebagai gubernur di jalur independen, partai-partai pasti
mendekat berkoalisi.  “Pokoknya sulit,” ujarnya.   PERTEMUAN
kedua saya dan Jokowi, bermula dari komunikai  pada 2 Januri 2012 ini.
Ketika berkesempatan bersama keluarga bertemu saudara di Semarang. Dari
Bandungan, Jawa Tengah,  saya SMS nomor staf  Jokowi, menanyakan apakah
sang walikota ada di Solo? Jawaban SMS saya terima begini: “Apakah Pak Iwan
sudah di Solo?” Tidak
sengaja pula saya membaca berita pendek di sebuah komunitas online di
Semarang, ihwal mobil  rakitan anak-anak SMK Solo,  akan menjadi mobil
Dinas dan mulai dipakai resmi Selasa, 3 Januri 2011 oleh Jokowi. SMS saya
kirim kembali. “ Saya mampir ke Solo, mau menjajal Mobnas Esemka?” Kendati
isteri saya berdarah Solo,  namun tak ada lagi rumah keluarga yang
dapat kami kunjungi. Salah satu bangunan keluarga kakek isteri saya,
kini sudah menjadi Matahari Depertemen store.  Sejarah temali putus.
Buhul  persaudaraan  hilang ditelan waktu. Kami menginap di sebuah hotel
kelas sedang di bilangan Jl. Gajahmada. Magrib
lalu berlalu.  Kala itu staf Jokowi   mengingatkan kami untuk tidak
makan malam dulu. “Nati Pak Jokowi akan menjemput untuk makan malam
bersama.” Saya sampaikan  bahwa kami sekeluarga  menunggu. Namun
kesibukan,  Jokowi tampaknya padat. Beberapa wilayah Solo terkena
banjir. Ia masih rapat dengan stafnya di pemerintahan kota. Barulah
menjelang  pukul 21 ia datang. Di luar dugaan saya Jokowi
turun sendiri ke lobby hotel. Ia bertanya nama saya.  Dan dijawab
petugas hotel tak ada nama saya. Kami  memesan hotel atas nama isteri.
Ia masih berdiri sendiri, dengan pantalon hitam dan kemeja putih lengan
panjang, sebagaimana pernah saya temui di Tvone, Jakarta.  Untung saya
cepat turun,  dan menyalami Jokowi. Tak ada protokoler apapun, tak
tampak ajudan. Ia lalu mengajak saya dan anak kedua - -
yang lain sudah tertidur - -  menuju sebuah tempat makan.  Seakan paham
kesukaan saya, mie jawa yang dimasak di tungku arang, Jokowi  meminta
supir memelankan mobil di lokasi. Ia tak langsung mengajak mampir.
Rupanya ada kerabat  keraton dengan keluarga yang juga santap malam di
mie jawa  itu.  Kami bergerak memutar.  Jokowi meminta stafnya
berhenti, lalu  pelat mobil  merah AD 1 A diganti dengan pelat Hitam
dengan  W …, Kemudian kami berhenti di dekat mie Jawa itu.
Jokowi mengambil inisiatif memesankan makanan.  Sudah bisa diduga makan
malam di perempatan jalan itu, menjadi pengalaman tersendiri.  Joko
duduk berdampingan dengan staf dan supirnya, saya dengan anak kedua
berhadapan. Kami berceloteh banyak hal, termasuk  mendukungnya maju ke
DKI-1 Jakarta. Dan Jokowi tampak rileks, dengan satu dua orang
pengunjung menyapanya bak teman saja. “Saya mau maju  ke DKI asal  ada
partai yang mendukung.” Dari kalimat ini, saya yakin bahwa Jokowi
konsisten. Ia berpendirian teguh. Waktu
sudah lewat  pukul 22 lebih.  Kami lalu meluncur ke kediamannya.
Sebagaimana sudah saya mimpikan,  di parkir rumah dinas sudah  ada mobil
Kiat Semka. Nama ini tertulis di samping  mobil.  Mobil  SUV bercat
hitam itu seajatinya raut wajahnya kombinasi Honda CRV, Nissan X-trail
dan tampilan belakang mirip Ford Everest. Saya menjajal
menyalakan mesin, membuka kap mesin.  Di blog mesin tertera tulisan
ESEMKA.  Kap mesinnya berat. Bagaikan membuka mesin mobil Amerika era
60-an silam. Body mobil puan saya ketuk , lebih berasa pelat besi
dibanding mobil Jepang mana pun  keluaran sekarang yang hanya bak kaleng
tipis. Secara berseloroh, saya katakan pada Jokowi, kalau
mobil ini beradu di jalanan dengan mobil Jepang kini, dipastikan
remuk-redam sang mobil Jepang. Saya lalu menajajal sang mobil. Maju di
pekarangan rumah dinas sang Walikota. Lalu berbelok ke kiri ke jalan
halaman berbentuk U. dan saya mundurkan kembali.  Tak beda dengan
kenyaman  Avanza yang saya kendarai. Tetapi mesinnya masih bersuara
kasar. “Yang
dipakai Wakil walikota, sudah lebih halus mesinnya,” ujar Jokowi pula,
“Saya diminta pakai yang kedua itu, saya tak mau,  milih yang ini saja.
Karena ini yang pertama dibuat.” Agaknya Jokowi memberi arti lebih pada
 mobil wujud pertama itu. Tak
lama kemudian kami mengobrol di ruang dalam bagunan tua rumah walikota.
Di sebelah  kiri ruang tengah, ada kamar yang dikosongkan. “Ini kamar
Bung Karno, sebagaimana aslinya. Dan ini dibiarkan kosong sama seperti
kamar di hotel Pelabuhan Ratu,” ujarnya. “Saya juga tak berani tidur di
kamar ini.” Jokowi mengajak ke ruang tengah,  anak saya menyimak sangkar
seekor Kukang.“Iya anak saya pelihara Kukang.” Saya
mengagumi lantai keramik tua bangunan. “Nah yang ini lebih unik lagi,”
tutur Jokowi. Lantai ruang beranda dalam itu   segi empat tapi dibuat
seakan meliuk, warnanya putih.  “Saya belum pernah nemu lantai  tua
seperti ini selain di sini,” ujar Jokowi. Di balik
kekaguman tentang bangunan peninggalan Belanda itu, kami berceloteh soal
industri mobil nasional. Saya katakan truk 4wheel drive yang dipakai
TNI, adalah buatan PT Perkasa Engineering, dari kelompok usaha Texmaco.
Perkasa mendapatkan lisensi dari Styer, Austria. Mereka punya kemampuan
bahkan membuat blok mesin panser bahkan hingga tank kebutuhan militer.
Harga blok yang mereka buat pun 10% dari buatan Renault yang pernah
dipesan Pindad, mencapai Rp 5 miliar satu. Sebagaimana
pernah beberapa kali saya menulis tentang  PERKASA - - dapat disimak di
archieve blog saya, yang sudah disebar ke blog publik  - - industri
PERKASA  itu kemudian “dibunuh”. Kini semak belukar menghampar di pabrik
mereka di Subang. Tapi, kini, konon PT Bukaka, banyak memanfaatkan
kemampuan produksi perkakasnya. Ada pihak-pihak yang ingin
menghidupkan Perkasa, akan tetapi beban hutang grup usaha Texmaco yang
mencapai Rp 22 Triliun  di BPPN, kini PT Pengelola Aset, menjadi
kendala. Pernah suatu hari saya  memverifikasi bahwa ada
pengusaha ingin menjalankan Perkasa kembali, namun Menteri Keuangan Sri
Mulyani kala itu, tidak memberikan kesempatan itu. Alasan Sri beban
hutang harus dibayar di muka, dan ia juga tak yakin dengan kemampuan
Perkasa. “Padahal dari kebutuhan alat angkut TNI saja, uang Rp 22
triliun itu tak sampai 5 tahun kembali,” ujar sumber saya di Mabes TNI.
Belum lagi untuk pasar bebas, sedan, SUV. Di tulisan saya
tentang Perkasa,  sesuai dengan keterangan Rippon Dwi, enjiner senior
Perkasa, pernah mengatakan  bahwa mereka pernah iseng membuat Kijang
Innova, 1:1, dan dipamerkan. Orang tak tahu  bahwa Kijang itu produk
Perkasa. “Kami jual  Rp 60 juta sebenarnya sudah untung, “ ujar Rippon,
kala itu kepada saya. Begitulah. Anda akan
terkesima bila mengikuti blog saya, soal laku transfer pricing,
 indikasi  penggelapan pajak, lumayan tambun dilakumkan  oleh PT Toyota
Motor Manfactur Indonesia. Untuk kasus mereka dari ekspor Innova dan
Avanza, untuk yang 2004 belum diputus pengadilan pajak. Sementara
kasus 2005 sudah pula masuk proses persidangan.  Sejatinya industri
seperti Toyota, hanyalah mencari keuntungan segila-gilanya di negeri
ini, tanpa mau membantu bangsa ini mandiri. Mereka bertameng dengan
penciptaan lapangan kerja, yang kini kebanyakan pula our soursing.
Janganlah bicara mobil nasional ke mereka. Maka  kuat
dugaan saya kepentingan, AS, Jepang, Korea Selatan,   telah membuat
industri mobil nasional  selalu seakan menemui jalan buntu. Bahkan
lebih  mengerikan menjadi bahan olok-olokan pejabat. Seperti “saktinya”
Gubernur Jawa Tengah, menertawakan  mobil Kiat Asemka Jokowi yang
dipakai dinas Jokowi itu. Bila demikian adanya,  tidak
berlebihan, bahwa sejatinya banyak oknum negeri ini akhirnya  menjadi
bagian “penjajah” bangsanya sendiri. Segala kemampuan anak negeri yang
sejatinya sakti-sakti, seakan berserakan.   Dan dalam kerangka mau
memakai mobil Kiat Esemka untuk kerja itulah, Jokowi, layak diberi
acungan jempol. Iwan Piliang, Citizen Reporter

Kirim email ke