http://pmlseaepaper.pressmart.com/mediaindonesia/PUBLICATIONS/MI/MI/2012/01/13/PagePrint/13_01_2012_022.pdf

Cetak SDM Tangguh Wajar 12 Tahun DirintisTingkat pendidikan warga negara memi 
liki kontribusi pada semua lini kehidupan, termasuk pada kesehatan dan 
kesejahteraan.SYARIEF OEBAIDILLAH

SUMBER daya manusia (SDM) yang berkualitas butuh pendidikan yang memadai. Oleh 
ka rena itu, program wajib belajar (wajar) 12 tahunmen jadi sangat penting dan 
dibutuhkan, tidak hanya ber - kaitan dengan upaya pe ning -katan angka 
partisipasi kasar (APK) jenjang pendidikan
menengah, tapi juga dalam kerangka peningkatan kualitas SDM tenaga kerja.

Melalui wajar 12 tahun, komposisi tenaga kerja yang selama ini masih didominasi 
para lulusan jenjang pendidikan dasar diharapkan secara perlahan nantinya akan 
ber geser pada lulusan pendidikan menengah.

Rintisan wajar 12 tahun yang dimulai 2012 ini, menurut Menteri Pendidikan dan 
Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, merupakan bagian dari keinginan 
memanfaatkan anggaran pendidikan yang be berapa tahun ke depan--se bagai 
konsekuensi amanat konstitusi-- akan mengalami kenaikan anggaran cukup signifi 
kan. Jika bantuan ope rasional sekolah (BOS) di jen jang pendidikan dasar pada 
2012 sudah terpenuhi, mulailah dilakukan rintisan BOS untuk jenjang pendidik an 
menengah agar wajar 12 tahun terwujud.

Jika mengutip data Badan PBB UNESCO dan OECD (orga nisasi untuk kerja sama dan 
pengembangan ekonomi in ternasional), M Nuh mengungkapkan bahwa lulusan 
pendidikan menengah memiliki pendapatan dan kesejahteraan yang lebih baik.

Perbandingan pendapatan atau gaji antara lulusan SMA dan yang tidak lulus SMA 
memiliki selisih 20 poin, sedangkan jika dibandingkan
dengan lulusan Diploma 2 se kitar 45 poin. Kemudian, bila dibandingkan dengan 
lulusan universitas menjadi 90 poin atau lebih dari 100%.
Demikian pula dengan tingkat kesehatan, lulusan SMA memiliki tambahan poin sebe 
sar 15 jika dibanding kan dengan yang tidak lulus SMA.
Pada tataran minat politik, mengalami perbedaan sebanyak 15 poin. Hal ini 
berarti lulusan SMA diprediksi memberikan kontribusi positif
da lam partisipasi politik ma syarakat. Yang lebih menarik, lulusan SMA 
memiliki rasa percaya diri lebih baik jika dibandingkan dengan
yang tidak lulus SMA yaitu delapan poin lebih baik.

"Jadi pendidikan dan tingkat pendidikan warga negara suatu negara memiliki 
kontribusi pada semua lini kehidupan seperti kesehatan dan kesejahteraan," 
papar M Nuh pada Refl eksi Akhir Ta hun Pendidikan 2011 di Kan tor Kemendikbud, 
Jakarta, pekan silam.

Adapun Dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad menambahkan bahwa 
program rin tisan tahap awal akan ber fokus
pada tiga hal, yakni pertama penyiapan daya tampung sekolah menengah atas (SMA) 
dan sekolah menengah kejuruan (SMK). Kedua, dengan menambah jumlah beasiswa 
untuk lulusan SMP dan sederajat. Beasiswa diutamakan bagi siswa yang tidak 
mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah. Dan yang ketiga adalah 
pemberian dana BOS un tuk 6,7 juta siswa SMA/ SMK sebagai konsekuensi 
pencanangan rintisan wajar 12 tahun, besarnya diperkirakan sebesar Rp120 ribu 
per anak per tahun.

Menurut Hamid, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif tinggi, baik yang su 
dah berjalan maupun yang direncanakan, perlu d i dukung dengan penyiapan tenaga 
kerja yang memadai. Karena itulah, Kemendikbud harus mampu menciptakan SDM 
tangguh yang mampu menghadapi tantangan global. Upaya ini satu di antaranya 
berada di Ditjen Dik men.

Faktor eksternalPada titik inilah, diperlukan adanya perencanaan stra tegis 
yang menyeluruh. Melalui wajib belajar 12 ta hun, SDM tangguh dan pro duktif 
diharapkan dapat dihasilkan. Meski demikian, lanjut dia, harus diakui, 
pembangunan pendidikan menengah sangat dipengaruhi faktor eksternal, 
menyangkut kondisi sosial budaya, ekonomi, teknologi, dan politik yang terjadi 
di In donesia.

Secara demografi , ungkap Hamid, ke depan Indonesia akan mengalami peningkatan 
usia produktif dengan ra ta-rata usia 25 tahun sampai dengan 35 tahun pada 2015 
sampai dengan 2035. Di satu sisi, usia produktif yang berpendidikan baik dapat 
memberikan keuntungan dan peluang dalam membangun Indonesia menjadi luas. 
"Namun pada sisi lain, jika salah dalam penanganan dan mengantisipasinya, bisa 
menjadi bencana demografi .

Jika potensi usia produktif itu tidak mampu bekerja alias menjadi pengangguran 
karena salah penanganan," tegas Hamid kepada Media Indonesia.

Hemat dia, pilihan untuk mengembangkan sekolah umum dan kejuruan yang relevan 
dan berkualitas penting sebagai salah satu cara untuk mempersiapkan diri dalam 
menghadapi perkembangan iptek dalam era global. Peningkatan relevansi dan 
kualitas pendidikan tidak hanya difokuskan pada jenjang pendidikan tinggi, 
tetapi harus sudah diawali dari jenjang pendidik an dasar dan pendidikan 
menengah

Sementara itu, anggota Komisi X DPR RI Hetifah me ngatakan pelaksanaan wajar 12 
tahun bergantung pada kesiapan anggaran. Ar tinya, harus ada kejelasan dulu 
berapa unit biaya yang diperlukan untuk menyediakan layanan pendidikan ber 
kualitas dan terjangkau hingga 12 tahun yang didukung dengan kebutuhan sa rana 
dan prasarana yang memadai serta guru yang se suai kompetensinya.
"Mana yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten 
atau kota. Karena kemampuan fi skal kabupaten kota sangat terbatas, sebaiknya 
pendidikan menengah dialihkan menjadi tanggung jawab pro vinsi," kata Hetifah.


Ia menyarankan agar data pokok pendidikan harus se gera diselesaikan sebagai 
acu an dan basis perhitungan. Selain itu, kata dia, kemauan politik sangat 
diperlukan agar anggaran bisa tersedia. Jika perlu ada pengalihan ang garan, 
misalnya, dana pe ngurangan subsidi BBM dialihkan ke pendidikan.

Me nurut dia, juga diperlukan revisi PP 38 Tahun 2007 ten tang pembagian urusan 
pemerintahan berupa desen tralisasi dalam bidang pendidikan. 
(*/H-1)[email protected]


> 

Kirim email ke