----- Forwarded Message -----
>From: Gene Netto <[email protected]>
>To: Mualaf Indonesia <[email protected]> 
>Sent: Sunday, May 13, 2012 3:34 AM
>Subject: [Mualaf Indonesia] Kenapa Banyak Orang Merasa Sulit Untuk Peduli...
> 
>
>Facebook
>Gene Netto posted in Mualaf Indonesia
> Gene Netto 3:34am May 13  
>Kenapa Banyak Orang Merasa Sulit Untuk Peduli Pada Anak Yatim? 
>
>Assalamu’alaikum wr.wb.,
>Ya Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, 
>Kenapa ada begitu banyak orang Muslim yang punya pandangan yang begitu sempit 
>terhadap anak yatim? Saya merasa sedikit heran terhadap saudara2 saya di sini 
>yang Muslim dari lahir, tetapi masih punya pandangan yang sempit terhadap anak 
>yatim, seolah-olah tidak pernah dapat ajaran agama berkaitan dengan anak yatim 
>dari Rasulullah SAW. Kenapa bisa begitu? 
>
>Ada pesan yang dikirim kepada saya dari seorang Ibu. Dia menceritakan nasibnya 
>waktu menjadi anak yatim dulu. Setelah membacanya, saya hampir tidak bisa 
>percaya bahwa anggota keluarganya sendiri yang hidup secara makmur masih tidak 
>berfikir untuk memperhatikan nasibnya keponakan2 mereka yang anak yatim. Ibu 
>itu bercerita bahwa dia dan kakaknya harus mencari nafkah hidup untuk makan 
>dan uang sekolah bagi mereka dan adik-adik mereka karena Ibu tidak sanggup 
>mencari nafkah hidup, dan tidak ada yang berusaha untuk membantu mereka. 
>Tetangga yang jauh tidak membantu, tetangga yang dekat tidak membantu, dan 
>bahkah saudara kandung sendiri tidak membantu. 
>Kenapa bisa begitu sebagian dari ummatnya Nabi Muhammad ya Allah?
>
>Kemarin saya menulis tentang anak yatim di Facebook saya, dan ada juga 
>beberapa orang yang berprotes lewat email, message dan sms. Keluarga yang saya 
>bantu itu (yang sudah menerima saya sebagai saudara angkat) “terlalu kaya” dan 
>tidak layak dibantu lagi, menurut pendapat penulis2 tersebut. Dan bukan kali 
>ini saja saya dapatkan pendapat seperti itu dari beberapa orang. Kok mereka 
>bisa begitu hitung-hitungan sama anak yatim? Bagaimana kalau Allah SWT mulai 
>menjadi hitung-hitungan kepada kita juga sebagai balasan? 
>“Kamu sudah punya pekerjaan, jadi jangan berharap bisa dapat bantuan tambahan 
>dari Allah pada tahun ini. Jangan berharap ada uang lebih untuk beli motor 
>atau mobil. Jangan berharap bisa ada uang lebih untuk beli baju baru. Jangan 
>berharap bisa ada uang untuk liburan tahun ini. Jangan berharap bisa dapat 
>uang untuk renovasi rumah yang sering bocor. Soalnya… kamu sudah “terlalu 
>kaya” untuk dapat bantuan lagi dari Allah!” (Apa mau kita menghadapi keadaan 
>seperti itu? Kalau tidak, kenapa kita bisa menjadi begitu hitung-hitungan dan 
>pilih-pilih terhadap anak yatim?) 
>
>Apakah ada hadiths satupun yang menyuruh kita memeriksa rekening atau 
>dompetnya seorang anak yatim sebelum kita kasih santunan kepadanya? Di mana 
>hadiths yang luar biasa itu? Saya belum pernah baca dan setahu saya tidak ada. 
>ANAK YATIM ADALAH ANAK YATIM. Setahu saya, tidak ada istilah “anak yatim yang 
>terlalu kaya dan tidak perlu disayangi dan disantuni lagi” di dalam Al Qur'an 
>maupun di dalam hadiths. Artinya terlalu kaya apa? Dia punya 100ribu, jadi 
>tidak boleh dikasih lagi? Dia punya kasur, jadi tidak perlu dikasih baju lagi? 
>Dia bisa makan setiap minggu jadi tidak perlu dikasih uang belanja lagi? Apa 
>artinya “anak yatim yang terlalu kaya” itu? Dari mana sebagian orang Muslim 
>bisa dapatkan konsep yang aneh seperti itu? Kenapa begitu banyak orang bisa 
>berprotes kalau ada anak yatim yang disantuni dengan pemberian apa saja? 
>
>Kalau belajar tentang sedekah (bukunya sudah banyak), maka ditekankan bahwa 
>Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk kasih kepada keluarga dulu, jauh sebelum 
>yang lain. Lalu tetangga yang dekat. Lalu yang jauh. Tetapi banyak orang 
>merasa bahwa itu bukan tindakan yang baik. (Apa Rasulullah kurang paham kali?) 
>Mereka merasa bahwa yang terbaik adalah datang kepada anak yatim, dan membuat 
>audit terhadap semua barang miliknya, cek saldo tabungan, cek isi dompet, 
>tanya apa yang dia makan setiap hari selama minggu ini, dan setelah lewat 
>proses pemeriksaan, kalau si anak yatim dinilai “cukup miskin” maka baru boleh 
>dikasih 100 ribu lagi. Apakah begitu maunya kita terhadap anak yatim yang 
>hatinya sedih dan terpukul? 
>
>Dari mana ummat Islam bisa mendapatkan pemikiran seperti itu? Belum tentu 
>orang yang kita menilai sebagai “orang mampu” adalah orang yang punya banyak! 
>Rumah ada? Apa milik sendiri, atau kontrak, atau cicil ke bank? Mobil ada? Apa 
>milik sendiri, atau cicil, atau apa ada yang pinjamkan (misalnya mertua)? Uang 
>ada? Apa uang bisa habis untuk belanja, bayar sekolah, bayar cicilan, bayar 
>listrik, memperbaiki ini dan itu yang rusak di rumah tanpa sepengetahuan 
>siapapun selain Allah? Siapa yang berhak datang kepada anak yatim atau ibunya 
>(kalau masih ada) dan melakukan audit terhadap diri mereka, SEBELUM bersedia 
>membantunya? Saya sungguh tidak paham kenapa orang Muslim bisa mendapatkan 
>pemikiran seperti itu. 
>
>Saya lebih tidak paham lagi kalau ada anak yatim yang masih menjadi anggota 
>keluarga sendiri dan tidak ada yang mau memperhatikan mereka duluan di atas 
>segala-galanya. Saya tidak paham dan tidak bisa setuju. Saya hanya bisa 
>berharap bahwa mungkin lewat tulisan saya atau lewat kisah nyata yang saya 
>sebarkan, ummat Islam yang merasa beriman kepada Allah SWT dan merasa 
>mencintai Nabi Muhammad SAW bisa merenung dan melihat anak yatim di depan mata 
>mereka, dan berfikir di dalam hatinya, “Kalau seandainya anak yatim ini di 
>depan saya adalah Rasulullah SAW pada saat dia masih seorang anak yatim, apa 
>yang akan saya berikan dan lakukan UNTUK DIA?”
>
>Lalu setelah berfikir seperti itu, baru mereka bertindak dengan penuh kasih 
>sayang dan sikap yang lembut dan mulia, seolah-olah sedang bicara dengan 
>seorang anak yatim bernama Muhammad bin Abdullah, yang akan menjadi Nabi 
>kesayangan Allah di masa depan. Lihat anak yatim di depan mata, terutama yang 
>anggota keluarga, dan jangan berfikir tentang isi tabungan mereka, dan jangan 
>berasumsi bahwa mereka dalam keadaan “oke-oke saja”. Yang tahu keadaan mereka 
>sebenarnya hanya mereka yang Allah, sedangkan kita hanya berasumsi saja. Bisa 
>jadi asumsi kita salah 100% tetapi kita sudah buang muka duluan dengan sikap 
>tidak peduli karena berasumsi mereka tidak perlu dibantu lagi. Kalau mereka 
>memang benar orang kaya, biarkan mereka sendiri yang MENOLAK pemberian kita, 
>dan insya Allah mereka akan melakukannya kalau merasa tidak berhak menerimanya 
>dan masih bisa hidup secara makmur. Sungguh sombong dan sempit pemikiran kita 
>kalau kita mau ambil keputusan itu atas
 nama mereka, padahal kita tidak tahu apa-apa tentang mereka selain persepsi 
dan asumsi kita saja!
>
>Janganlah begitu, tetapi mari kita membuka hati kita dan lakukan yang terbaik 
>bagi mereka, tanpa rasa takut uang itu akan hilang karena Allah yang menjamin 
>akan bayar kembali uang itu kepada kita. Dan kalau hatinya anak yatim itu 
>sudah mantap, dan mereka sudah kuat dan independen, dan kita sudah tidak 
>meragukan itu (apalagi mereka sendiri yang menyatakannya) maka silahkan cari 
>anak yatim yang lebih jauh, dan bantu mereka juga. Tetapi jangan sampai anak 
>yatim yang paling dekat dengan kita diabaikan begitu saja karena kita 
>berasumsi bahwa mereka tidak perlu dapat bantuan dari kita. 
>
>Allah SWT tidak pernah menciptakan istilah “anak yatim yang kaya” tetapi 
>mungkin saja itu berasal dari Setan, dan manusia yang beriman kepada Allah SWT 
>sedang menyebarkannya dengan sikap yang sombong dan pemikiran yang sempit, 
>berdasarkan asumsi dan persepsi saja!
>
>Berikut ini adalah kisah nyata yang dikirim kepada saya oleh seorang Ibu. 
>Saya, Gene Netto, yang menjamin bahwa insya Allah ini adalah kisah nyata, dan 
>nama Ibu yang bersangkutan dirahasiakan. Silahkan membaca, dan silahkan 
>berfikir sendiri, apa ada orang dekat kita yang belum kita bantu? 
>
>********
>Gene, Assalammu'alaikum....
>Saya terharu membaca cerita Gene membahagiakan seorang anak yatim & 
>keluarganya. Bermacam macam komentar saya baca. Ada yang mendukung, tapi ada 
>pula yang menyindir. Tidak masalah apa yang dikatakan orang lain. 
>
>Saya pernah di posisi seperti anak yang Gene santuni. Saat SMP ditinggal ayah 
>satu2nya pencari nafkah dalam keluarga. Sementara ibu adalah sosok ibu rumah 
>tangga murni yang tidak mengerti dan tidak punya keberanian untuk mencari 
>uang. Tidak punya modal juga. Saya dan kakak saya harus putar otak supaya 
>dapat uang untuk makan dan sekolah. Dua adik saya masih kecil2. Kami berdua 
>[saya dan kakak] bahu membahu mencari nafkah sambil sekolah. Kakak mengamen, 
>mencuci mobil orang, menjadi tukang parkir. Saya sekali2 ikut mengamen, 
>menawarkan diri bekerja mencuci piring di warteg2, menjadi buruh tukang jahit 
>dsb. Sering saya dan kakak saya selesai mengamen, tidur di jalan berselimut 
>langit, beralas meja warung tenda atau lantai trotoar. Semua kami lakukan 
>supaya kami berdua, ibu dan 2 adik saya bisa makan dan sekolah. 
>
>Tidak ada TV dirumah apalagi kulkas. Sering saat tidak punya uang sama sekali, 
>saya berjalan kaki ke sekolah yang jaraknya kira2 sama dengan jarak Blok M ke 
>Bunderan HI. Untuk makan saya terpaksa pergi ke pasar untuk memunguti sayuran 
>yang dianggap tidak layak jual dan biasanya digunakan untuk pakan ikan lele. 
>Atau memaksakan diri memohon belas kasihan penjual beras. Biasanya saya diberi 
>segenggam atau dua genggam beras. Setiap kali mendapat makanan, saya selalu 
>berbisik dalam hati mengucapkan terimakasih kpd Tuhan.
>
>Sering saya sengaja puasa karena jatah makan saya, tidak saya makan tapi saya 
>simpan untuk adik2 dan ibu. Karena belum tentu besok punya makanan. 
>
>Tidak ada sanak family yang membantu. Adik2 ayah saya yang kebanyakan orang 
>sukses (dokter, direktur perkebunan, anggota dewan, dosen, ahli apoteker, 
>peneliti) justru meributkan rumah yang kami tempati. Mereka menuntut rumah 
>kami dijual dan uangnya di bagi2. Tapi untungnya ibu tetap bertahan. Kalau 
>tidak, mungkin kami sekeluarga tinggal di kolong jembatan.
>
>Gene, 
>Tuhan memang maha pengasih. Di tengah2 penderitaan hidup, Tuhan memberi 
>kelebihan lain untuk saya. Saat sekolah dulu, saya tidak pernah tidak jadi 
>juara kelas. Padahal boleh dibilang saya tidak pernah punya buku paket. Karena 
>memang tidak punya uang untuk beli buku. Beruntung, buku paket sesuatu yang 
>tidak begitu diwajibkan harus dibeli pada waktu itu. Tidak seperti sekarang. 
>Buku paket jadi bisnis sekolah. Saya hanya rajin mencatat dan membuat 
>ringkasan pelajaran saat jam istirahat di sekolah. Teman2 pada jajan, saya 
>mencatat. Percuma juga kalau jajan. Tidak punya uang.
>Sampai sekarang, kalau lagi reunian dengan teman2 SMA, saya yang pendiam tapi 
>pemikir, dikenal sebagai orang yang berotak encer. 
>
>Gene, 
>Dengan modal otak yang kata orang encer, setamat SMA saya berhasil lulus test 
>masuk kerja di sebuah Bank Pemerintah. Begitu pula kakak saya. Saat test 
>tertulis, pengetahuan umum dan matematika (karena saya dari SMA IPA) nilai 
>saya sempurna. 
>Meski di Bank saya cuma jadi typist, tapi gaji saya cukup membuat kehidupan 
>keluarga saya membaik. Typist adalah pekerjaan yg tingkatannya paling rendah 
>bagi seorang yg berpangkat Clerk. Karena dianggap pekerjaan yg mudah. Tapi 
>meski demikian, saya berusaha menjadi typist yg baik. Boss2 di kantor menjadi 
>suka jika surat2 atau notulen rapat saya yang mengetik. 
>Dari sini saya belajar bahwa hal yang dianggap sepele, yang sering tidak 
>dilirik orang, jika dilakukan dengan baik, benar dan sungguh2 serta ikhlas 
>maka akan bagus hasilnya.
>Prinsip ini saya gunakan dalam menghadapi pekerjaan2 di kantor selanjutnya. 
>Meski saya hanya tamatan SMA, dipandang tidak berpendidikan, tapi Tuhan 
>memberi saya berkah lain. Selama hidup saya bekerja di 5 company yang berbeda. 
>Kecuali yang pertama ( di Bank Pemerintah) 4 perusahaan lain menerima saya 
>bekerja tanpa test yang rumit. Paling2 hanya sekali wawancara. Saya sendiri 
>tidak mengerti Gene...., padahal ada test macam2 termasuk psiko test. Tapi 
>tidak pernah diberlakukan untuk saya.
>
>Gene, kini saya memilih pensiun. Suami juga menghendaki saya istirahat di 
>rumah. Ibu saya sehat walaafiat dan memilih tinggal berpindah2 sambil 
>mengunjungi sanak family. Yang penting ibu happy. Kakak dan adik2 saya juga 
>memiliki kehidupan yang baik meski sederhana. Semuanya berkah dari Tuhan. Jika 
>sedang berkumpul, masa lalu yang penuh derita dan perjuangan menjadi cerita 
>yang indah bagi kami. InsyaAllah kami seperti Gene, membantu anak yatim yang 
>terdekat dulu. Meski hanya satu dua orang. Tapi jika suatu saat dia menjadi 
>orang yang sukses dan tahu bersyukur, saya yakin ketika dewasa dia juga akan 
>seperti Gene. Membantu anak yatim lain pula. Kebaikan Gene berlanjut. 
>Berkesinambungan. Seperti rantai yang selalu terhubung, meski Tuhan sudah 
>memanggil Gene kembali pulang.
>
>Tetaplah seperti ini yha .... Gene....!! Apapun yang dikatakan orang lain, 
>positif atau negatif tidak usah diambil pusing. Karena kegembiraan seorang 
>anak yatim ketika bisa memiliki barang yang diidam-idamkan sejak lama...... 
>rasanya sungguh luar biasa. Saya pernah merasakan. Dan ini akan selalu diingat 
>sepanjang hidup. 
>
>Wassalam, Gene....
>Semoga Allah melimpahkan kasih sayang dan rahmatNya untukmu yha....Gene !!
>********
>Sekian saja. Semoga bermanfaat bagi para pembaca. Semoga bisa berfikir kembali 
>tentang anak yatim yang di dekat kita, dan membantu mereka dan memperkuat hati 
>mereka sebelum yang lain. 
>Wabillahi taufik walhidayah, 
>Wassalamu’alaikum wr.wb.,
>Gene Netto  
> 
>View Post on Facebook · Edit Email Settings · Reply to this email to add a 
>comment.
>  
>
>

Kirim email ke