http://tech.groups.yahoo.com/group/KOMPUTER-TEKNOLOGI/message/44687
Memonitor Isi Perut Gedung dari Jauh Teknologi baru untuk mengelola gedung dari jarak jauh Hasbi Maulana, Ulin Ni'am Yusron Beberapa gedung yang letaknya berjauhan dapat dikelola secara serentak dari jarak jauh. Berkat teknologi ini, sebuah perusahaan pengelola gedung berani pasang target mengelola 200 gedung per tahun. AC yang ngadat secara tiba-tiba memang selalu bikin orang kesal. Apalagi kalau itu terjadi di gedung perkantoran yang dipadati ribuan pekerja. Jika kerusakan tak segera diatasi, suhu udara yang memanas dan makin pegap pasti akan segera menyulap kekesalan menjadi kemarahan. Lalu, kemarahan bisa berlanjut menjadi sumpah serapah apabila kerusakan tidak segera diperbaiki karena pengelola gedung tidak tahu sedang ada kerusakan seperti itu. Di kota-kota besar urusan pengelolaan gedung tidak lagi menjadi tanggung jawab pemilik atau penghuni, tapi diserahkan kepada pihak ketiga. Itu sebabnya, kini banyak sekali perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan gedung. Mereka melayani berbagai keperluan seputar pemeliharaan gedung. Mulai dari merawat taman, membersihkan kamar mandi dan kakus, sampai mengendalikan berbagai peralatan penunjang seperti listrik, temperatur sampai kelembapan udara. Mengelola gedung yang memiliki banyak ruangan tentu tidak bisa dilakukan dengan cara tradisional. Bayangkan, betapa repotnya petugas kalau tiap hari harus menyalakan dan mematikan lampu di seluruh ruangan di gedung berlantai banyak. Makanya, kebanyakan pengelola gedung menggunakan peralatan modern untuk menjalankan tugas ini. Salah satu peralatan canggih yang banyak dipakai dikenal dengan sebutan building authomation system (BAS) atawa sistem otomatisasi gedung. Sesuai namanya, peralatan bikinan luar negeri ini memungkinkan pengelola memantau gedungnya secara otomatis. Jika ada AC mati atau lampu tidak beres, misalnya, alat tersebut akan segera memberi tahu operatornya. Tapi, BAS memiliki beberapa kelemahan. Yang paling utama, sistem ini hanya bisa dipakai untuk memantau satu gedung. Jadi kalau ada orang yang memiliki banyak gedung, berarti pengelolanya harus memasang BAS pada masing-masing gedung. Ini menjadi masalah karena barang impor ini harganya sekitar Rp 4 miliar – Rp 6 miliar per paket. Kenyataan itu memicu perusahaan pengelolaan gedung berusaha mencari alternatif lain. Salah satu perusahaan yang beruntung adalah PT Sandhy Putra Makmur. Belum lama ini perusahaan yang berdiri tiga belas tahun lalu itu berhasil mengembangkan sebuah sistem baru pengelolaan gedung. Temuan tersebut mereka juluki smart power management system (SPMS). Berbeda dengan BAS, menurut Zaenal Abdi, Direktur Utama PT Sandhy Putra Makmur, SPMS mampu menangani gedung yang letaknya berjauhan secara serentak. Tentu saja kelebihan BAS yang mampu melakukan pemantauan secara otomatis juga mereka miliki. Salah satu pelanggan mereka yang sudah ditanami alat ini adalah PT Telkom Divre II Jakarta. Saat ini PT Sandhy mengelola gedung STO Telkom di Slipi, Gambir, dan Semanggi. Pemantauan atas ketiga gedung itu dilakukan Sandhy dari lantai 15 Gedung Telkom di Jalan Gatot Subroto. Pegawai yang tidur saja bisa ketahuan Zaenal merasa penggunaan SPMS di STO Telkom menjadi contoh yang paling tepat mengenai keunggulan sistem yang mereka kembangkan. "Taruh kata setiap jam produksi pulsa setara dengan Rp 1 miliar, coba berapa kerugian Telkom jika terjadi gangguan selama satu jam?" ujar Zaenal. Belum lagi STO tertentu menangani sambungan telepon di kantor-kantor pemerintahan yang superpenting. "STO Semanggi menjangkau sampai kompleks Istana. Kalau drop satu jam saja, bisa dibayangkan betapa kacaunya, kan," tambahnya serius. Secara teknis, SPMS terdiri dari rangkaian jaringan peralatan elektronik dan komputer. Di ujung rangkaian terdapat sebuah alat sensor. Fungsi instrumen ini untuk berhubungan langsung dengan peralatan gedung yang hendak dipantau. Dari sini, data mengenai kinerja alat yang bersangkutan diubah dalam bentuk digital dan kemudian diteruskan ke sebuah terminal komputer. Setelah itu data digital tadi diteruskan lagi ke komputer pemantau di tempat lain. Dengan mekanisme seperti itu, kondisi peralatan gedung yang terpantau bisa termonitor terus-menerus selama 24 jam. Apabila sensor mendeteksi gangguan, sistem ini akan segera mengirimkan pesan peringatan kepada komputer pemantau. Dengan begitu, pengelola gedung bisa langsung mengidentifikasi permasalahan sehingga ketidakberesan segera bisa teratasi. Zaenal juga berujar bahwa alatnya tidak sekadar mampu memantau tapi juga melakukan kontrol. "Kalau ditambahi monitor alat ini mampu mendeteksi apakah di ruangan tertentu orangnya tidur atau melek," tukasnya. Saat ini sebuah keunggulan lain juga tengah mereka kembangkan pada sistem ini. Pengelola gedung bakal bisa mengukur penggunaan listrik pada setiap ruangan. Jadi, mereka bisa mengetahui ruangan mana yang memakan listrik paling boros. Sejauh ini komunikasi jarak jauh antarinstrumen SPMS menggunakan jaringan public switched telephone network (PSTN). Ini adalah jaringan telepon umum yang bisa disetel pengggunaannya. PSTN menggunakan kabel sebagai media. Kelemahannya, tidak semua lokasi bisa terjangkau karena kabel kudu ditanam. Selain telepon, pengendalian gedung jarak jauh ini juga bisa dilakukan melalui internet. Tapi, menurut Zaenal, untuk keperluan ini penggunaan internet terlalu riskan. Selain ada ancaman terserang virus komputer, juga rawan dari para penyusup internet. Teknologi yang dianggap paling pas sebenarnya radio. Hanya, pemakaian teknologi radio ini bisa membengkakkan ongkos sampai tiga kali lipat. Adapun untuk software-nya sendiri, PT Sandhy tidak perlu bersusah payah menciptakan yang baru. Mereka mengaku memanfaatkan program yang sudah akrab dipakai orang, yakni microsoft office. Yang menarik, selain digunakan sendiri, PT Sandy juga menjual SPMS kepada pengelola gedung lain. Harga yang mereka tawarkan jauh lebih murah ketimbang peralatan sejenis buatan luar negeri. "SPMS yang paling lengkap hanya Rp 250 juta," kata Zaenal dengan nada promosi. Maksudnya, sebanyak-banyaknya peralatan gedung yang harus dipantau oleh alat ini, harganya tetap Rp 250 juta. Kalau parameter yang harus dikontrol lebih sedikit, cukup Rp 100 juta. Jika ada pelanggan ingin menggunakan sekaligus jasa pengelolaan yang mereka tawarkan, harganya naik menjadi Rp 500 juta. Sayangnya, untuk bisa mengoperasikan sistem ini, menurut Zaenal, paling tidak perlu transfer pengetahuan selama satu tahun. PT Sandhy memasang target penjualan sistem SPMS pada 200 gedung per tahun. "Jika satu gedung Rp 100 juta saja, omzet kita bisa mencapai Rp 2 miliar," ujarnya. Cuma, karena keterbatasan modal, saat ini mereka hanya bisa menyiapkan 20 unit dalam dua bulan. Selain Telkom, belum lama ini PT Sandhy juga mendapatkan tender pengelolaan gedung Bank Indonesia setinggi 25 lantai. "Peserta lain ada yang menawarkan harga sampai Rp 20 miliar, tapi kami cuma memasang harga Rp 8,9 miliar," ungkap Zaenal. Uniknya, Zaenal belum ingin terburu-buru mematenkan teknologi yang dia kembangkan. Alasan dia, sistem ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut. "Teknologi seperti ini paling bertahan selama tiga tahun. Setelah itu perlu pengembangan lebih lanjut," kata Zaenal. sumber : kontan
