dari milis sebelah.
 
Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!  
http://nugon19.multiply.com/journal

-=-=-=-

http://tech.groups.yahoo.com/group/KOMPUTER-TEKNOLOGI/message/44693 


Mencari Jalan Moderat Sektor-sektor Strategis
Senin, 30 Juli 2012 | 15:36 WIB


Oleh: Dr. Dimitri Mahayana*

KOMPAS.com — Betapa tersudutnya kita oleh produk dan jasa asing, termasuk di 
bidang teknologi informasi, adalah kenyataan pahit yang terus dihadapi 
sehari-hari. 

Setelah meminum Teh Sariwangi (100 persen milik Unilever, Inggris) saat pagi 
hari, kita biasa mengecek smartphone kita. Jika bukan BlackBerry (100 persen 
Kanada), atau iPhone (100 persen Amerika Serikat), maka seri Android Samsung 
(100 persen Korea Selatan) adalah merek yang lazim dipilih masyarakat 
Indonesia. 

Setelah itu, kita sarapan nasi goreng berbasis beras impor Thailand.

Makin pahit kegetiran ini dirasakan sebab kita kemudian berangkat ke kantor 
seraya menghisap rokok Sampoerna (saham 97 persen Philip Morris, Amerika 
Serikat) sambil beranjak masuk kendaraan bermotor yang mayoritas buatan Jepang.

Begitu masuk kantor, perangkat keras pertama yang dinyalakan adalah komputer 
buatan Amerika (Hewlett Packard/Dell), atau Korea Selatan (LG), dan lainnya. 
Itu pun seraya melihat pesan di ponsel yang jaringannya dimiliki investor 
asing, terutama dari Timur Tengah.

Era pengaruh kuat Word Trade Organization (WTO) telah mengantarkan kekuatan 
finansial global nyaris tak bersekat di negeri ini. Globalisasi adalah mantera 
tak terelakkan dari rezimisme apa pun yang hendak berkuasa di Indonesia 
tercinta ini.

Di mata penulis, bahasan mengenai globalisasi, termasuk di sektor ekonomi 
teknologi, akan mengkristal dua polar: 
1) Sesuatu yang tidak bisa dikendalikan sehingga sebuah bangsa akan "berakhir". 
2) Sebuah paham yang harus diberantas sekaligus dinasionalisasikan.

Jaringan ekonomi global yang demikian kuat membuat siapa pun—sekalipun itu 
sebuah kedaulatan bangsa yang dulu diperoleh dengan perjuangan berat—sulit 
menolak, apalagi mengimbangi kekuatan yang dibawa investor asing. 

Kutub pemikiran lain menempatkan globalisasi ekonomi sebagai musuh bersama yang 
harus diberantas guna digantikan semua milik pribumi. Seperti gencar 
diperlihatkan Presiden Venezuela Hugo Chavez, nasionalisasi adalah jawaban 
mutlak. 

Agak sulit menentukan mahzab mana yang lebih baik. Namun jika melihat tingkat 
urgenitas, ada yang lebih mendesak dari sekadar perbincangan di pengantar 
tulisan ini, yaitu kita melihat tiga sektor nasional sangat strategis sudah ada 
di ranah pekat globalisasi.

Sebelum dijelaskan detail, ketiganya memiliki benang merah sebagai sektor 
pembentuk jalur ekonomi rakyat Indonesia sekaligus sokoguru bidang ekonomi itu 
sendiri. Ketiganya adalah industri telekomunikasi seluler, perbankan, dan 
logistik.

Telekomunikasi seluler mengoneksikan lokasi geografis Indonesia yang 
berpencar-pencar, perbankan adalah penyambung urat nadi aktivitas ekonomi yang 
terpisah-pisah, dan sektor logistik mendorong mobilisasi masyarakat Indonesia.

Maka dari itu, jika ketiga sektor ini berpadu, maka jelaslah bahwa kekuatan 
bangsa yang didorong aktivitas ekonomi yang sehat, akan tercipta sendirinya. Di 
mata penulis, perpaduan seluler-perbankan-logistik adalah awal pergerakan 
ekonomi rakyat.

Lantas apa yang terjadi ketika cengkraman ekonomi global sudah "merasuki" 
ketiga sektor tadi? Apakah kondisi menjadi lebih baik, atau sebaliknya? 
Bagaimana dampak positif sekaligus ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia?

Telekomunikasi seluler nasional

Sektor inilah yang paling berisiko dibandingkan dua lainnya karena kepemilikan 
industri global operator seluler nasional sangat dominan. Bahkan, 
operator market leader pun turut dimiliki pihak asing meski porsinya kecil.

Pimpinan pasar nomor dua, tiga, empat, dan lima bahkan sudah sepenuhnya milik 
asing. Rata-rata milik investor Timur Tengah yang juga pemain global industri 
seluler, terutama di banyak belahan negara berkembang dan negara ketiga.

Padahal, kandungan informasi dan data sebuah negara (termasuk yang 
super-rahasia) banyak diletakkan di sektor ini. Selain sisi data, unsur vital 
sektor seluler juga mencakup sisi ekonomi yang luar biasa besar.

Berdasarkan kalkulasi kami di Sharing Vision, pendapatan total tahunan operator 
seluler Indonesia beberapa tahun terakhir kisaran Rp 150 triliun. Namun, angka 
yang hampir setara omzet perbankan nasional ini memiliki nilai lebih tinggi.

Alasannya, industri perbankan Indonesia berusia lebih dari satu abad untuk 
meraih omzet tersebut. Industri seluler hanya belasan tahun. Pencapaian 
kualitatif ini juga dibarengi performa kuantitas. 

Sebab, jumlah pengguna layanan seluler Indonesia sejak akhir tahun lalu sudah 
melampaui jumlah penduduk, sementara nasabah perbankan belum mencapai 100 juta 
orang meski berusia 100 tahun lebih. 

Alasan selanjutnya, nilai profit yang dimiliki industri seluler jauh lebih 
tinggi karena padat teknologi dibandingkan industri perbankan yang padat karya 
sekaligus padat remunerasi. Karena itu, seluler disebut-sebut industri paling 
menguntungkan.

Namun sekali lagi, jika melihat kondisi mutakhir, maka situasi sangat rawan 
karena dominasi asing di sektor super-strategis ini sangat tinggi (hampir 
mendekati 60 persen). Ini jauh melebihi kondisi di sektor logistik dan 
perbankan. 

Dengan kata lain, sekalipun nilai bisnis yang dimiliki lebih besar, hal ini 
sebetulnya tidak mengakar. Pendapatan yang didapat dari anak bangsa tidak 
seluruhnya masuk di dalam negeri. Umumnya malah kembali ke negara asal 
investor. Duh!

Sektor perbankan nasional

Sektor perbankan adalah bentuk nyata dari pergerakan ekonomi riil. Eksekusi 
aktivitas sektor bisnis dan ekonomi sangat bertumpu industri ini.

Karena itu, perbankan memiliki dua muatan penting bagi kedaulatan bangsa, yakni 
meletakkan kemandirian bangsa, juga menyimpan data jejak alur keuangan nasional 
yang sekalinya bocor akan sangat berbahaya.

Merujuk pengalaman penulis menjadi konsultan teknologi informasi, baik di bank 
sentral, BUMN, maupun swasta nasional/daerah, dominasi bank asing secara 
perlahan tetapi pasti mulai menggerogoti kepemilikan pasar bank nasional.

Dibandingkan dua sektor sebelumnya, pemain global bidang perbankan dan keuangan 
tak pernah habis energi untuk ikut menikmati "kue" di dalam negeri. Masih 
hangat soal upaya tak kenal lelah DBS, Singapura sebelum akhirnya menangguhkan 
akuisisi Bank Danamon.

Dalam daftar sepuluh besar bank di Indonesia, bank asing yang dulunya tak masuk 
daftar tiba-tiba memiliki pangsa signifikan. Bukan karena performanya 
meningkat, melainkan terjadi akibat mereka berhasil menguasai bank nasional 
yang eksis lebih lama.

Beruntunglah masih ada nama-nama besar seperti Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, dan 
BCA yang selain terus kokoh di daftar big ten, mereka juga tak henti berinovasi 
sehingga masih masuk prioritas utama masyarakat di bidang keuangan.

Namun sekali lagi, dengan mengacu pengalaman di bidang seluler dan logistik, 
percayalah bahwa industri global perbankan selalu siap menyodok. Ketika lengah 
dalam memberikan layanan, seketika masyarakat akan beralih ke bank asing.

Logistik nasional

Kita bersyukur bahwa sektor logistik masih menjadi milik Indonesia. Sektor 
asing yang masuk belum terlalu banyak, itu pun mereka relatif tidak bisa 
menguasai pasar dalam pangsa pasar signifikan.

Artinya, selain mobilitas rakyat terhantarkan dengan baik, penguasaan logistik 
juga bermakna terjaminnya security bridge Indonesia. Banyak kasus menunjukkan 
instabilitas negara terjadi ketika jalur logistik disalahgunakan pihak tak 
bertanggung jawab.

Maka dari itu, kita senang jika hari ini dan beberapa saat ke depan, entitas 
merek semacam Garuda Indonesia, Lion Air, PT Kereta Api, Pelni, Pelindo, TIKI, 
Bluebird, hingga Cipaganti Travel kiranya masih terus jadi pilihan masyarakat 
Indonesia.

Pemain global sudah berusaha lama masuk sektor ini, termasuk pemimpin pasar 
dunia lintas sektor logistik. Akan tetapi, pasar kemudian menjawab bahwa 
penguasaan medan dari operator lokal yang sangat mengakar tampaknya sulit 
ditandingi.

Sektor transportasi, pengiriman, pabean, dan sejenisnya masih memiliki 
penguasaan pasar hingga 95 persen. Akan tetapi, seperti sering kita lihat 
keluhannya di sisi lain, performanya tergolong belum optimal dalam memudahkan 
masyarakat.

Komplain semacam layanan terlambat, kiriman tak sampai, pelayanan sekadarnya, 
hingga layanan membahayakan pengguna terbukti masih banyaknya kecelakaan semua 
moda kini terus kita saksikan dan mungkin sering kita alami. 

Padahal, layanan seluler dan perbankan selancar apa pun kiranya akan menjadi 
sia-sia jika layanan logistik kurang/tidak baik. Di belahan dunia mana pun, 
transaksi ekonomi dan bisnis tetap membutuhkan pertemuan fisik hasil kelancaran 
logistik.

Dalam posisi ketidakseimbangan antara kuantitas dan kualitas ini, ancaman 
penguasaan industri global otomatis selalu mengintai. Begitu kualitas 
terus-menerus berkurang, layanan logistik asing segera menggeser sesuatu yang 
kita miliki.

Ancaman lain sektor logistik juga datang dari berbagai upaya pihak parlemen 
untuk deregulasi sektor ini. Setelah lama muncul wacana operator kereta dari 
industri global, beberapa waktu belakangan juga muncul usulan operator 
pelabuhan asing.

Jadi, sekali lagi, jika kualitas layanan tak kunjung membaik ditambah upaya 
deregulasi yang terus terjadi, maka bukan tidak mungkin jika dominasi industri 
global di sektor seluler akan segera terjadi di logistik.

Solusi jalan moderat

Dengan melihat roadmap kilas tiga industri di atas, solusi ekstrem bukanlah 
jalan terbaik. Sebut misalnya respons akan pemikiran pertama yang menegaskan 
globalisasi sebagai sesuatu yang tak bisa dikendalikan sehingga kita pasrah 
menerimanya.

Bukan pula sebuah solusi tepat jika pemahaman pemikiran kedua, yaitu 
globalisasi adalah isme yang harus diberantas, dan digantikan gerakan 
nasionalisasi seperti yang saat ini dengan berani dilakukan Hugo Chavez dan 
banyak presiden di Amerika Selatan.

Penulis mengusulkan solusi tengah, sebut saja jalan ketiga, yang berusaha 
mencari titik tengah kedua aspirasi. Saat ini, setidaknya ada tiga jalan 
moderat yang bisa ditempuh tiga sektor strategis terkait momentum hari 
kebangkitan nasional ini.

Pertama, memperkuat pemahaman sekaligus tindakan bahwa globalisasi tidak boleh 
dilawan, tetapi harus dikendalikan sebaik-baiknya. Globalisasi membawa berkah 
luar biasa apabila tercipta harmonisasi kepentingan perusahaan asing dengan 
masyarakat.

Jalan ini tidak menganggap ide globalisasi tentang era lenyapnya batas negara 
untuk 4 "I" (investment, industry, information, individual workers) otomatis 
menjadi mantera sakti kemajuan yang harus sepenuhnya dianut negara. 

Namun, jalan ini secara sederhana mentransmisikan berbagai nilai kebaikan 
globalisasi untuk kepentingan nasional. Sebut soal budaya perusahaan yang 
transparan, bersih, dan akuntabel yang menjadi standar kerja banyak perusahaan 
asing.

Kita harus jujur akui jika mereka lebih dulu dan disiplin menjalankannya, 
sementara kita masih berkubang dalam di sistem kebalikannya. Menjadi pantas dan 
wajar jika kita mengambil best practise budaya bisnis luar demi perbaikan 
budaya nasional. 

Sebut misalnya penerapan standar Sarbanes Oakley Act yang memang tidak bisa 
menjamin fraudhilang 100 persen. Namun, banyak contoh perusahaan Indonesia 
memiliki struktur keuangan lebih baik dengan pengendalian kebocoran di 
dalamnya, setelah diterapkan.

Kedua, diperlukan arahan yang jelas dan detail dari pemerintah dalam menjaga 
keharmonisan ini. Kesadaran perusahaan global akan harmoni merupakan hal 
relatif dengan penafsiran bisa beragam sehingga pemerintah yang paham karakter 
lokal mutlak memberi arahan rinci.

Di sisi lain, syahwat industri global juga cenderung menguasai. David C Korten 
dalam When Corporation Rules The World (Kumarian Press: 1995) menyebutkan, 
perusahaan global memiliki kekuatan tidak terbantahkan dalam mengendalikan 
sumber daya.

Oleh karenanya, tanpa spirit keberpihakan ke masyarakat, perusahaan asing bisa 
kehilangan kendali. Ambil contoh kebijakan terbaru sejumlah operator seluler 
dengan saham asing yang melakukan rasionalisasi dengan opsi kurang masuk akal.

Karyawan boleh keluar dengan tunjangan besar selama nantinya tidak kerja di 
kompetitor, misalnya. Ada pula operator yang secara perlahan memindahkan semua 
karyawannya ke pihak ketiga yang notabene vendor perangkat keras.

Situasi ini sangatlah mengkhawatirkan. Bisa kita bayangkan betapa besar jumlah 
lapangan kerja dalam negeri yang menguap begitu saja. Betapa banyak lapangan 
kerja bidang teknologi yang berkurang drastis akibat tidak dimanfaatkannya 
kemampuan SDM lokal. 

Dengan demikian, arahan regulator yang lembek dan kurang substantif tak boleh 
lagi terjadi ke depan. Kita bisa lihat beberapa kebijakan pemerintah di bidang 
komunikasi dan informatika relatif lemah dan kurang menunjukkan pemahaman 
masalah. 

Ketiga, sekalipun industri global sudah menjadi pemilik bisnis lokal dan 
berbisnis di negeri ini, regulator tetap harus mengontrol ketat di sejumlah 
area operasi, terutama yang terkait dengan keamanan dan ketahanan nasional. 

Jalan terakhir ini memang akan melahirkan perdebatan soal diskriminasi ke pihak 
asing danprevilege ke bangsa sendiri. Namun di mata penulis, pandangan ini 
hanya muncul jika sosialisasi dan pengemasan regulasi tidak diterapkan dengan 
baik.

Kita harus banyak belajar dari riuh rendahnya opini masyarakat setelah Indosat 
dijual saham mayoritasnya ke STT, Singapura, dan akhirnya sulit dibeli kembali. 
Daripada menyesal di kemudian hari, kontrol adalah pilihan terbaik dari yang 
terburuk.

Dari tiga sektor industri di atas tadi, kiranya kita bisa belajar banyak dari 
apa yang dilakukan Bank Indonesia. Mereka tetap mengontrol ketat wilayah 
operasional yang vital seraya tetap menjaga iklim negara yang ramah investor. 

Jika inisiatif akan permasalahan globalisasi industri seluler, perbankan, dan 
logistik ini baik, maka keuntungan Indonesia bukan sekadar terbukanya lapangan 
kerja dan best practise. Kedaulatan juga terjaga, dan kita tak terus 
dibombardir layanan teknologi informasi asing! (**)

*Dr. Dimitri Mahayana adalah Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, 
Bandung; dan Dosen Sekolah Teknik Elektro Informatika ITB
 
Editor :
Reza Wahyudi

Kirim email ke