Ada beberapa kritik untuk Kereta Api

1. Sebelumnya untuk KA jarak jauh ke jawa tengah dan jawa timur, bisa naik dari 
stasiun bekasi dan jatinegara.
Namun saat ini terpusat di Gambir dan St. Senen.

- dari bekasi harus jauh2 ke stasiun senin, macet jkt membuat jarak tempuh 
makin lama. Wasting time.

- dulu ada kereta KRL lsg ke senen dari bekasi, sekarang harus transit dulu di 
jatinegara

- pengalaman waktu nganter mudik asisten kemaren ke stasiun senin, walah, 
semrawutnya bukan main, jam 06:00 sudah ngga bisa masuk stasiun, akhirnya 
parkir diluar. Kemudian mau masuk ke stasiun crowded abis, saya ngga ngelihat 
bukti nyata yg dibilang stasiun senen rapi, malah tambah semrawut. Dengan di 
tiadakannya stasiun bekasi dan jatinegara dari stasiun keberangkatan, seluruh 
penumpang yg biasa naik dari bekasi dan jatinegara tumplek blek di stasiun senen

2. Untuk kereta KRL lebih parah, sudah berapa stasiun yg kena lemparan batu 
oleh penumpang yg naik diatas. Justru itu yg bahaya.

Yang pasti ada sisi positif dari kepemimpinan beliau, namun saya tidak melihat 
sesuai tulisan terutama pada stasiun senen (pengalaman pribad)


AriefK

Sent from my NerdBerry® freakz smartphone

-----Original Message-----
From: Morry Infra <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 31 Aug 2012 16:03:56 
To: Ahlan Riyadh<[email protected]>; Serba_KL 
Serba_KL<[email protected]>; <[email protected]>; 
ex-cii<[email protected]>; ARII Drlg Milist<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [sma1bks] FW: Jonan, Mengubah Indonesia Lewat Kereta Api

Kereeen.....


http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/08/31/15443791/Jonan.Mengubah.Indonesia.Lewat.Kereta.Api

 *Jonan, Mengubah Indonesia Lewat Kereta Api*
  Jumat, 31 Agustus 2012 | 15:44 WIB

OLEH *HARYO DAMARDONO & ANDREAS MARYOTO*
  Kalau gaji pekerja bagus, kinerjanya juga bagus
-- Ignasius Jonan

Tiga tahun lalu kereta api dan stasiun identik dengan kekumuhan dan
kesemrawutan. Kini, datanglah ke stasiun, Anda akan melihat perubahan.
Kebersihan, kerja keras, dan disiplin bisa terlihat di tempat itu. Jutaan
penumpang kereta api menjadi saksi.

Di tangan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ignasius Jonan,
perubahan itu dimulai. Ketika diamanahi memimpin BUMN transportasi ini, ia
sempat berujar kepada Sofjan Djalil, mantan Menteri BUMN, apakah dengan
latar belakangnya di bidang akuntansi ia tepat mengabdi di dunia
transportasi?

Namun, begitu dilantik pada 25 Februari 2009, tiga bulan pertama dilalui
Jonan dengan mempelajari PT KAI dan perkeretaapian. Ia memperkenalkan
sistem meritokrasi.

”Tak ada lagi urut kacang atau persaingan antarkelompok untuk meraih
posisi,” ujar Jonan. Bekerja profesional menjadi keseharian pegawai PT KAI.

Kemudian, kompensasi pegawai dinaikkan secara bertahap. Dalam tiga tahun
terakhir, ada beberapa jabatan yang penghasilannya dinaikkan berlipat.
”Begitu saya tahu gajinya tak wajar, ya, harus disesuaikan, entah bagaimana
caranya. Tidak mungkin pekerja yang melayani publik mendapat gaji kecil,”
ujarnya.

Bagaimana perusahaan yang merugi Rp 83,4 miliar pada 2008 itu punya dana
untuk menaikkan gaji? ”Saya sampaikan kepada pegawai, ayo kita cari dana
bersama-sama,” ujarnya. Walau komponen gaji pegawai naik, PT KAI tetap
mencetak laba bersih Rp 153,8 miliar pada 2009. Dua tahun terakhir, laba
bersih KAI pun lebih dari Rp 200 miliar.

Bagaimana itu mungkin? ”Kalau gaji pekerja bagus, kinerjanya juga bagus,”
ujarnya.

Ia menganalogikan dengan seekor sapi yang melintas di depan orang lapar.
”Mungkin hanya butuh 1 kilogram daging, tetapi karena tak mungkin memotong
secuil daging, ya, dibunuh sapinya. Sebuah perusahaan juga bisa seperti
sapi itu,” kata Jonan.

*Tentang pegawai*

Begitu memimpin KAI, ia tak langsung memangkas pegawai. ”Jumlah pegawai itu
tak pernah berlebih, mungkin yang kurang pekerjaannya,” ujarnya. Keadilan
coba ditegakkan, semisal gaji komandan di lapangan harus lebih tinggi
daripada komandan di kantor.

”Tak boleh ada toleransi dan harus konsisten saat kita memutuskan kebijakan
di perusahaan layanan umum,” ujar Jonan.

Tak sekadar bicara, dia pun memberi contoh. Saat mendapati penumpang tak
mampu yang hendak naik kereta tanpa membeli tiket, dia merogoh kantong.
”Saya bayari sendiri,” ceritanya.

Rasa kasihan adalah urusan personal, sementara KAI adalah perusahaan negara
yang harus dikelola profesional. ”Kalau ada pegawai lain merasa kasihan,
ya, bayari saja dari kantong mereka sendiri. Ini bukan perusahaan milik
mereka, tetapi milik negara. Sistem harus ditegakkan.”

Cenderung bicara keras dan apa adanya, itulah Jonan. Masyarakat bisa
merasakan saat ia menerapkan sistem boarding dan kebijakan satu nama-satu
tiket. Ia tak goyah ketika ada pihak yang mengkritik.

Penumpang kereta jarak jauh dan sedang juga harus duduk. Sementara untuk
meminimalkan calo, nama di tiket harus sesuai dengan kartu identitas.
Kebijakan ini bikin heboh. Penumpang terkaget-kaget.

Banyak penumpang, bahkan pegawai KAI, dan orang penting yang angkat suara.
Meski justru terkesan menyepelekan penumpang dengan mengatakan, mungkinkah
penumpang kereta diatur seperti itu? Bagaimanapun, hasilnya penumpang
nyaman.

Siapa pun yang keberatan dengan sistem itu boleh melongok Stasiun Pasar
Senen yang kini nyaman. Sistem *boarding *tak sekadar membuat stasiun lebih
bersih, juga mengamankan pendapatan KAI. Namun, yang terpenting, mampu
mengedukasi masyarakat.

Awalnya pegawai KAI mengeluhkan sulitnya mengajari penumpang antre. Namun,
lambat laun, penumpang sendiri yang mengakui antre membuat mereka lebih
nyaman.

Apabila dulu pegawai PT KAI harus mengancam menurunkan penumpang yang
merokok, pasca-diterapkannya larangan merokok pada Maret 2012, sesama
penumpang mengingatkan penumpang lain yang merokok di atas kereta.

Komisi Nasional Pengendalian Tembakau pun menghargai komitmen KAI dalam
melarang aktivitas merokok di atas kereta dan lingkungan stasiun.

Inovasi juga diluncurkan PT KAI awal Agustus silam. Pembelian tiket bisa
melalui situs http://www.kereta-api.co.id. Lewat sistem ini calon penumpang
lebih mudah membeli tiket.

Alhasil, dalam penutupan Pos Koordinasi Tingkat Nasional Angkutan Lebaran
Terpadu tahun 2012, Selasa (28/8/2012), hanya moda kereta api yang mendapat
pujian. Menteri Perhubungan pun melontarkan niatnya menerapkan sistem *boarding
*di terminal bus dan pelabuhan.

*Tak ragu*

Perubahan-perubahan itulah yang dirasakan penumpang kereta api. Mereka tak
lagi berdesak-desakan di stasiun. Kebersihan di stasiun dan kereta api
terjaga. Jadwal keberangkatan dan kedatangan juga semakin sesuai dengan
yang dijanjikan.

Perubahan itu dilakukan Jonan dengan tegas tanpa pandang bulu. Mengapa
berani? ”Ini dari ketiadaan *vested interest *pada diri saya. Kalau tidak
punya kepentingan tertentu, kita takkan ragu memutuskan atau berbuat apa
pun,” ujar Jonan.

Empat puluh sembilan tahun lalu, Jonan lahir di Singapura. Ia tumbuh dalam
keluarga yang mapan, kemudian berkarier gemilang pada perusahaan finansial
multinasional. Maka, boleh dikatakan, hari-harinya di PT KAI dijalani
sebagai sebuah pengabdian.

Setelah 3,5 tahun memimpin PT KAI, apakah kini gairahnya tertuju pada
perkeretaapian? ”Bagi saya, yang penting pekerjaan ini bermanfaat buat
banyak orang,” ujar Jonan.

Dia yakin kereta api merupakan bagian dari solusi masalah di Indonesia.
Sebagai contoh, mengenai banyaknya korban dalam arus mudik, Jonan
menawarkan solusi untuk Lebaran 2013.

”Apabila pemerintah mau menyubsidi pengangkutan sepeda motor dengan kereta,
KAI akan mengangkut 300.000 motor pulang-pergi. Mengapa kami butuh subsidi?
Karena pemudik butuh tarif yang terjangkau. Tanpa itu, mereka tetap akan
menantang bahaya untuk mudik,” katanya.

Dari kereta api kita bisa becermin, sesungguhnya Indonesia mampu berubah.
Disiplin, kerja keras, dan kejujuran bisa dibangkitkan kembali melalui
contoh langsung.

Kirim email ke