http://news.detik.com/read/2012/09/26/093506/2036673/10/krl-mania-buka-posko-penolakan-kenaikan-tarif-di-stasiun-sudirman?9911012
Rabu, 26/09/2012 09:35 WIB KRL Mania Buka Posko Penolakan Kenaikan Tarif di Stasiun Sudirman Nala Edwin - detikNews Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Jakarta Pengguna KRL terus melakukan penolakan terhadap rencana kenaikan tarif KRL Commuter Line yang akan berlaku pada Oktober mendatang. KRL Mania akan mengumpulkan tanda tangan untuk petisi penolakan dan membagikan selebaran di Stasiun Sudirman nanti sore. "Kita akan bagikan mulai pukul 17.00 WIB, tujuan kita para pekerja yang biasa naik di stasiun itu," kata moderator milis KRL Mania, Nurcahyo, kepada detikcom, Senin (24/9/2012). Nurcahyo mengatakan, pembagian selebaran ini untuk memberikan informasi bagi pengguna KRL Commuter Line yang belum mengetahui adanya rencana kenaikan tarif Rp 2.000 per 1 Oktober. "Kita berharap banyak yang memberikan partisipasi," katanya. Sebelumnya, KRL Mania sudah menggalang penolakan kenaikan KRL Commuter Line tersebut secara online melalui situs http://www.change.org/id/petisi/batalkan-kenaikan-tiket-krl. Hingga saat ini pukul 09.30 WIB sudah ada lebih dari 1.000 orang yang berpartisipasi di situs tersebut. Kenaikan tarif Rp 2.000 terus mendapatkan penolakan dari penumpang karena pelayanan KRL dinilai masih jauh dari standar. Sedangkan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) selaku operator KRL Commuter Line, menilai kenaikan ini akan membuat pelayanan KRL menjadi lebih baik. "Tahun-tahun ini seakan kehabisan nafas. Kami sudah kepepet, dengan sangat terpaksa kita naikkan tarif dengan harapan KA tetap ada walaupun pas-pasan," kata Direktur Keuangan PT KJC Tri Handoyo, Senin (24/9). (nal/nrl) http://news.detik.com/read/2012/09/24/094156/2031688/10/krl-mania-gelar-petisi-penolakan-kenaikan-tarif-krl-commuter-line?9911012 Senin, 24/09/2012 09:41 WIB KRL Mania Gelar Petisi Penolakan Kenaikan Tarif KRL Commuter Line Nala Edwin - detikNews Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda Jakarta KRL Mania menggelar petisi untuk menolak kenaikan tarif KRL Commuter Line Rp 2.000 yang akan berlaku mulai 1 Oktober mendatang. Petisi yang dilakukan secara online ini rencananya juga akan dilakukan di stasiun-stasiun. "Kita galang petisi secara online dulu dan rencananya kita juga akan melakukannya di stasiun-stasiun," kata moderator milis KRL Mania, Nurcahyo, kepada detikcom, Senin (24/9/2012). Petisi secara online dapat diakses di http://www.change.org/id/petisi/batalkan-kenaikan-tiket-krl. Saat ini pada pukul 09.20 WIB sudah ada 200 orang yang ikut dalam petisi ini. "Kita pilih online dulu karena kesibukan masing-masing anggota dan waktunya yang semakin mepet," katanya. Nurcahyo mengatakan petisi ini rencanya akan disampaikan pada PT KCJ, PT KAI, Kemenhub dan Kementerian BUMN. "Tujuan kita membuat petisi ini agar kenaikan tarif dibatalkan," katanya. Nurcahyo mengatakan, penolakan kenaikan tarif ini disebabkan belum adanya perbaikan yang dilakukan PT KAI. Hingga saat ini juga belum jelas kompensasi yang didapat penumpang jika kereta terlambat saat tarif naik nanti. "Kompensasi untuk penumpang apa kalau nanti kereta terlambat padahal tarif sudah naik," katanya. Rencananya tarif KRL Commuter Line akan naik Rp 2.000 untuk setiap perjalanan. Berikut tarif KRL Commuter Line yang akan diberlakukan mulai 1 Oktober 2012: - Rp 9.000,- untuk relasi Bogor-Jakarta/Jatinegara - RP 8.000,- untuk relasi Depok-Bogor - Rp 8.000,- untuk relasi Depok-Jakarta/Jatinegara - Rp 8.500,- untuk relasi Bekasi-Jakarta/Stasiun Transit - Rp 8.000,- untuk relasi Parung Panjang/Serpong-Tanah Abang/Stasiun Transit - Rp 7.500,- untuk relasi Tangerang-Duri/Stasiun Transit (nal/nrl) http://www.change.org/id/petisi/batalkan-kenaikan-tiket-krl Batalkan kenaikan tiket KRL, penuhilah SPM (Standar Pelayanan Minimum) Berikut ini alasan-alasan kami menolak kenaikan harga tiket: 1. Apa jaminan pelayanan yang akan diberikan? Apakah penumpang akan mendapatkompensasi ketika ada gangguan? Kami sering menyampaikan kepada KAI/KCJ poin-poin yang mudah tanpa perlu biaya besar: Informasi gangguan perjalanan, Informasi stasiun yang akan disinggahi, Nama dan Nomor Urut Kereta, Pelayanan loket, Lampu penerangan, Toilet, Fasilitas kesehatan, Fasilitas kemudahan bagi penyandang cacat, wanita hamil, balita, orang sakit; dan orang lanjut usia di kereta. Padahal ini adalah poin-poin dari Permen No. 9 Th. 2011 tentang SPM (Standar Pelayanan Minimum) yang telah disahkan 1.5 th yang lalu, namun operator selalu menghindar untuk menerapkannya. Semuanya lebih bersifat pelayanan yg manusiawi. KAI/KCJ selalu hanya melihat sisi aset: "kami akan menambah 160 KRL", "memperpanjang peron", “pemasangan LCD”, dsb. Padahal ada ungkapan "Assets make possibility. People make it happen". Jadi dibalik aset itu ada manusianya yang penting, bagaimana petugas dan manajemen KAI itu lebih berorientasi melayani. 2. KCJ menyatakan bahwa tarif KRL tidak pernah naik selama tiga tahun terakhir. Faktanya, pada tahun 2011, ketika Commuter Line mulai dioperasikan sudah ada kenaikan tarif. 3. Sebelum tarif naik pun, KRL kelas ekonomi (bersubsidi) semakin dikurangi jadwalnya. Bila tarif KRL non-Ekonomi dinaikkan lagi Oktober nanti, dikhawatirkanKRL ekonomi menjadi semakin penuh sesak (overload). 4. Kebocoran pemasukan dari karcis masih terjadi, akibat oknum-oknum tertentu yang tidak diperiksa karcisnya. Seharusnya ini diselesaikan dulu daripada mencari solusi instan yang mengorbankan penumpang. 5. Adanya pemborosan anggaran yang sudah terjadi pada pengadaan sistem Commet. Mesin-mesin e-Ticketing terbengkalai, belum berfungsi, malah ada yang sudah rusak. Apakah inefisiensi dan pemborosan ini harus ditanggung oleh penumpang KRL? Kemudian kepada Pemerintah, perlu kami ingatkan bahwa dikhawatirkan akan ada penumpang KRL yang kembali mengendarai motor/mobil pribadi bila tarif KRL dinaikkan lagi. Seharusnya, pemerintah memberikan insentif kepada para pengguna KRL karena telah mengurangi beban jalan raya (kemacetan), polusi, konsumsi BBM dan lain-lain; dalam bentuk tarif KRL yang murah dan terjangkau. Rujukan: - Press release KRL Mania http://krlmania.com/sinyal/read.php?id=2142 - Presentasi KRL Mania http://bit.ly/presentasiKRLmania Surat PetisiSalam sejahtera, Saya baru saja menandatangani petisi berikut ini tertuju kepada: - Bpk. Apriyono W. Kresnanto (Dirut/Dirops KCJ), - Bpk. Ignasius Jonan (Dirut KAI), - Bpk. Tunjung Inderawan (Dirjen KA Kemenhub), - Bpk. Dahlan Iskan (Menteri BUMN) ---------------- Batalkan kenaikan tiket KRL, penuhilah SPM (Standar Pelayanan Minimum) Berikut ini alasan-alasan kami menolak kenaikan harga tiket: 1. Apa jaminan pelayanan yang akan diberikan? Apakah penumpang akan mendapat kompensasi ketika ada gangguan? Kami sering menyampaikan kepada KAI/KCJ poin-poin yang mudah tanpa perlu biaya besar: - Informasi gangguan perjalanan, - Informasi stasiun yang akan disinggahi, - Nama dan Nomor Urut Kereta, - Pelayanan loket, - Lampu penerangan, - Toilet, - Fasilitas kesehatan, - Fasilitas kemudahan bagi penyandang cacat, wanita hamil, balita, orang sakit dan orang lanjut usia di kereta. Padahal ini adalah poin-poin dari Permen No. 9 Th. 2011 tentang SPM (Standar Pelayanan Minimum) yang telah disahkan 1.5 th yang lalu, namun operator selalu menghindar untuk menerapkannya. Semuanya lebih bersifat pelayanan yg manusiawi. KAI/KCJ selalu hanya melihat sisi aset: "kami akan menambah 160 KRL", "memperpanjang peron", “pemasangan LCD”, dsb. Padahal ada ungkapan "Assets make possibility. People make it happen". Jadi dibalik aset itu ada manusianya yang penting, bagaimana petugas dan manajemen KAI itu lebih berorientasi melayani. 2. KCJ menyatakan bahwa tarif KRL tidak pernah naik selama tiga tahun terakhir. Faktanya, pada tahun 2011, ketika Commuter Line mulai dioperasikan sudah ada kenaikan tarif. 3. Sebelum tarif naik pun, KRL kelas ekonomi (bersubsidi) semakin dikurangi jadwalnya. Bila tarif KRL non-Ekonomi dinaikkan lagi Oktober nanti, dikhawatirkan KRL ekonomi menjadi semakin penuh sesak (overload). 4. Kebocoran pemasukan dari karcis masih terjadi, akibat oknum-oknum tertentu yang tidak diperiksa karcisnya. Seharusnya ini diselesaikan dulu daripada mencari solusi instan yang mengorbankan penumpang. 5. Adanya pemborosan anggaran yang sudah terjadi pada pengadaan sistem Commet. Mesin-mesin e-Ticketing terbengkalai, belum berfungsi, malah ada yang sudah rusak. Apakah inefisiensi dan pemborosan ini harus ditanggung oleh penumpang KRL? Kemudian kepada Pemerintah, perlu kami ingatkan bahwa dikhawatirkan akan ada penumpang KRL yang kembali mengendarai motor/mobil pribadi bila tarif KRL dinaikkan lagi. Seharusnya, pemerintah memberikan insentif kepada para pengguna KRL karena telah mengurangi beban jalan raya (kemacetan), polusi, konsumsi BBM dan lain-lain; dalam bentuk tarif KRL yang murah dan terjangkau. Rujukan: - Press release KRL Mania http://krlmania.com/sinyal/read.php?id=2142 - Presentasi KRL Mania http://bit.ly/presentasiKRLmania ---------------- Salam, [Nama Anda]
