http://groups.yahoo.com/group/insistnet/message/25025
10 TANDA KEHANCURAN SEBUAH BANGSA by Thomas Lickona.
Posted By: * harrysan05
*
*
* Mon Oct 8, 2012 4:51 pm | * Options
*
*
*
10 TANDA KEHANCURAN SEBUAH BANGSA
by Thomas Lickona.
Suatu ketika di bulan Juli tahun 90-an, di negara bagian Massachusetts, Amerika
Serikat tengah berlangsung sebuah konfrensi besar pendidikan, dihadiri oleh
sebagian besar kalangan pendidikan, mulai dari pengamat, praktisi, pakar hingga
penentu kebijakan di bidang pendidikan.
Tema yang diambil. kali itu adalah mengenai “Evaluasi Sistem Pendidikan dalam
Menghasilkan Generasi Unggul”
Tema ini sengaja diangkat, karena ternyata berdasarkan penelitian, selama 60
terakhir sistem pendidikan lebih banyak menghasilkan generasi yang gagal dan
bahkan cenderung bermasalah ketimbang yang unggul
Banyak sekali tokoh-tokoh yang diminta bicara menyampaikan pikiran, pandangan
juga hasil penelitian mereka.
Dari semua pembicara, ada salah seorang yang pemaparannya begitu dahsyat, tajam
dan mengena, hingga mendapatkan simpati dan dukungan yang luar biasa dari
hampir semua peserta konferensi tersebut.
Tepuk tangan yang riuh serta dukungan antusiasme terus mengalir hingga sang
pembicara ini turun. Apa saja yang di paparkan oleh si pembicara ini…? marilah
kita simak cuplikan utama dari pemaparannya;
“Saudara-saudaraku tercinta sebangsa dan setanah air, saya sungguh prihatin
melihat perkembangan generasi kita dari tahun ke tahun, sehingga saya begitu
tertantang untuk membuat suatu pengamatan untuk mengetahui akar pemasalahannya.”
“Lebih dari 30 tahun saya melakukan pengamatan terhadap para pelajar dan para
lulusan sekolah di tiap jenjang mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan
tinggi. dan ternyata dari tahun-ke tahun menunjukkan suatu peningkatan grafik
jumlah anak-anak yang bermasalah ketimbang anak-anak yang berhasil.”
Salah satu yang membuat saya menangis adalah ketika saya mengunjungi beberapa
Lembaga Pemasyarakatan yang ada di beberapa negara bagian; yang dulu pada tahun
60an mayoritas di huni oleh orang-orang yang berusia antara 40-60an, namun apa
yang terjadi pada tahun 90, penjara-penjara kita penuh di isi oleh anak remaja
antara usia 14 s/d 25 tahun. Jumlah peningkatan yang drastis juga terjadi pada
penjara anak dan remaja.
Fenomena apakah gerangan yang sedang terjadi di negara kita……? Akan jadi apakah
kelak negara ini jika kita semua tidak mengambil peduli dan merasa bertanggung
jawab…?
Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air….., Dari pengamatan panjang yang
saya lakukan akhirnya saya mengetahui bahwa sumber dari semua masalah ini ada
pada Harmonisasi hubungan Keluarga dan Sistem Pendidikan kita.
Sebagian besar anak-anak yang bermasalah ternyata juga memiliki orang tua yang
bermasalah atau keluarga yang berantakan dan yang memperparah ini semua adalah
bahwa Lembaga yang kita agung-agungkan selama ini, yang kita sebut sekolah
ternyata sama sekali tidak mampu menjadi jalan keluar bagi anak-anak yang
mengalami permasalahan di rumah.
Sekolah yang mestinya bertanggung jawab pada pendidikan anak (karena mengklaim
sebagai lembaga pendidikan) ternyata sama sekali tidak melakukan proses
pendidikan, melainkan hanya menjadi lembaga yang memaksa anak untuk mengikuti
kurikulum yang kaku dan sudah ketinggalan zaman.
Guru-guru yang diharapkan menjadi pengganti orang tua yang bermasalah tapi
ternyata tidaklah lebih baik dari pada orang tua si anak yang bermasalah tadi.
Guru lebih suka memberikan pelajaran dari pada mendidik dan melakukan
pendekatan psikologis untuk bisa membantu memecahkan masalah anak-anak
muridnya. Guru-guru juga lebih suka saling melempar tanggungjawab ketimbang
merasa ikut bertanggung jawab sebagai seorang pendidik.
Dan yang sungguh menyakitkan adalah ternyata Pemerintah kita khususnya yang
bertanggung jawab pada bidang pendidikan hanya mementingkan masalah nilai,
angka-angka dan Ujian-Ujian Tulis. Pemerintah seolah menutup mata terhadap
menurunya prilaku moral, rusaknya anak-anak sekolah dan meningkatnya prilaku
kekerasan di kalangan remaja.
Ukuran keberhasilan pendidikan lebih diletakkan pada menjawab soal-soal ujian
dan target-target perolehan nilai, bukan pada Indikator Moral dan Pengembangan
Karakter Anak. Sehingga pada akhirnya kita mendapati banyaknya anak-anak yang
mendapat nilai tinggi namun moralnya justru begitu rendah.
Inilah saya pikir yang menjadi biangkeladi dari permasalahan meningkatnya
jumlah anak-anak yang menjadi penghuni penjara di hampir seluruh negara bagian
di negara kita.
Saya melihat bahwa sesunguhnya jauh lebih penting mengajarakan anak kita Nilai
Kejujuran dari pada Nilai matematika, Fisika dan sejinisnya, yang pada umumnya
telah membuat anak kita stress dan mulai membeci sekolahnya. Sungguh jauh lebih
penting mengajarkan pada mereka tentang kerjasama dan saling tolong menolong
ketimbang persaingan merebut posisi juara di kelas. Sekolah kita hanya mampu
membuat 3 anak sebagai juara ketimbang membuat mereka semua menjadi juara.
Sekolah kita memang tanpa sadar telah dirancang untuk mencetak anak yang gagal
jauh lebih banyak dari yang berhasil. Sekolah kita juga telah dirancang untuk
lebih banyak memberi label anak yang bermasalah ketimbang memberi label anak
yang berpotensi unggul di bidangnya.
Lihatlah fakta di lapangan, betapa banyaknya anak-anak yang dinyatakan oleh
sekolah sebagai anak lambat belajar, tidak bisa berkonsentrasi, Diseleksia,
Hiperaktif dsb. Hingga ada seorang pengamat pendidikan yang pernah menyindir
“sesungguhnya anaknya yang hiperaktif atau sekolahnya yang “Hiper Pasif”.
Bayangkan anak-anak kita telah di paksa untuk duduk di kursi yang keras selama
berjam-jam dari pagi hingga petang, tanpa adanya pergerakan sedikitpun. Yang
sesungguhnya tidak hanya membahayakan mental mereka bahkan juga fisik mereka.
Berapa banyak anak-anak kita yang katanya termasuk golongan anak-anak pandai
harus menderita “bungkuk” di usia mereka yang masih relatif muda karena proses
belajar yang hiper pasif ini.
Saya pikir sudah saatnya kita sadar akan hal ini semua. Saudara-saudaraku
tercinta, sungguh berdasarkan penelitian yang saya lakukan telah menunjukkan
bahwa jauh lebih penting mengajari anak kita tentang moral, attitude, dan
Character Building dari pada hanya mementingkan nilai-nilai yang tinggi.
Karena kehidupan lebih mengharapkan orang-orang yang bermoral dan berkarakter
untuk membangun tatanan kehidupan yang jauh lebih baik. Orang-orang yang
mencintai sesama, menolong sesama dan menjaga kelestarian lingkungan tempat
mereka hidup.
Berdasarkan penelitian saya terhadap sejarah bangsa-bangsa yang mengalami
kemunduran atau kehancuran, saya telah menemukan ciri-ciri yang sangat jelas
untuk bisa kita jadi kan Indikator dan petunjuk bagi kita apakah negara kita
juga sedang menuju ke titik kemajuan atau justru ke hancuran.
Paling tidak saya telah menemukan ada 10 tanda-tanda dari suatu bangsa yang
akan mengalami kemunduran dan bahkan kehancuran; dan jika ternyata ke sepuluh
tanda ini muncul di negara kita maka sudah saatnyalah kita untuk melakukan
perubahan besar-besaran terhadap sistem pendidikan bagi anak-anak kita.
Mari kita teliti bersama kesepuluh tanda-tanda tersebut, apakah telah muncul
dinegara kita;
1. Peningkatnya prilaku kekerasan dan merusak dikalangan remaja, Pelajar
2. Penggunaan kata atau bahasa yang cenderung memburuk (seperti ejekan, Makian,
celaan, bhs slank dll)
3. Pengaruh Teman Jauh lebih kuat dari pada orang tua dan guru.
4. Meningkatnya prilaku penyalahgunaan sex, merokok dan obat-obat telarang
dikalangan pelajar dan remaja.
5. Merosotnya prilaku moral dan meningkatnya egoisme pribadi/mementingkan
dirisendiri.
6. Menurunya rasa bangga, cinta bangsa dan tanah air (Patriotisme).
7. Rendahnya rasa hormat pada orang lain, orang tua dan guru.
8. Meningkatnya prilaku merusak kepentingan Publik.
9. Ketidak Jujuran terjadi dimana-mana
10. Berkembangnya rasa saling curiga, membenci dan memusuhi diantara sesama
warga negara (kekerasan SARA)
Bagaimana kesimpulan kita….? Apakah kita melihat ke 10 tanda tersebut telah
muncul di negeri tercinta kita ini…? atau mungkin malah sudah muncul pada
anak-anak kita tercinta dirumah…?
Saudaraku…., dengan melihat fakta dan kenyataan yang ada, wahai para pendidik
dan pengambil kebijakan di bidang pendidikan serta segenap kita semua; Apakah
kita masih akan mementingkankan angka-angka sebagai Indikator kesuksesan
Pendidikan di sekolah-sekolah..?
Semoga logika dan nurani kita masih mampu bicara untuk mendobrak sistem
pendidikan yang selama ini terbukti telah menghasilkan lebih banyak kegagalan
bagi anak-anak tercinta.
Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air…., Jika kita tidak juga mau
bertindak…., maka saya tidak tahu berapa banyak lagi penjara-penjara yang harus
kita bangun bagi anak-anak kita tercinta, yang semestinya ini semua bisa kita
cegah dari sekarang..!
Melalui Harmonisasi Hubungan Keluarga dan Sekolah-sekolah yang lebih
berorientasi membangun moral dan bukan hanya angka-angka semata.
Thomas Lickona.
Dr. Thomas Lickona is a developmental psychologist and professor of education
at the State University of New York at Cortland. Past president of the
Association for Moral Education, Board member for the Character Education
Partnership, and author of eight books on character development, he speaks
around the world on fostering moral values and character development.
https://www.facebook.com/groups/millennial/permalink/370148153066786/