Saya yakin sebenarnya rekan-rekan sudah pada ngerti persoalan dan efek langsungnya ke kita-kita. Cuma itulah hebatnya "para bajingan" oknum pemerintah kita membungkam suara-suara kritis dari masyarakat. Kalau dulu rezim Orba menggunakan "tangan besi" untuk membuat masyarakat tidak berani kritis, maka rezim yang sekarang menggunakan "telinga besi" untuk membuat masyarakat tidak bersikap kritis.
Modusnya adalah dengan tidak mendengarkan segala kritik dan masukan-masukan yang sebenarnya sudah banyak dilontarkan baik oleh masyarakat maupun para cerdik pandai anak bangsa sehingga pada akhirnya mereka lelah sendiri dan menjadi malas untuk bersikap kritis karena menyadari toh segala kritik dan masukannya tidak akan didengar apalagi dilaksanakan. Maka seharusnya kita tidak boleh kalah dengan strategi "telinga besi". Bersuaralah terus (terutama terkait dengan isu-isu domestik) demi perbaikan bangsa dan negara Indonesia. Biarlah suara yang kecil terus menggelinding menjadi bola salju dan menjadi people power, karena pada saat itulah kita akan menang... bersuaralah ... atau kalah .... ________________________________ Dari: Morry Infra <[email protected]> Kepada: [email protected] Dikirim: Sabtu, 24 November 2012 9:59 Judul: Re: [sma1bks] Fwd: detikFinance | Nyaris Rp 2.000 Triliun, Utang RI Kalahkan Nilai APBN Subhanallah, Menarik uraiannya Pak Ruslan.... Kereeen....!!! Banyak banget efek langsungnya buat kita sebagai warga negara yang Pemerintahnya banyak utang... Yang paling deket.... apa2 aja dipajak... apa2 aja bayar... mungkin di Indonesia kalau bisa ada ide merumuskan hitung2an jumlah udara yang masuk ke dalam paru2 kita berdasarkan jenis kelamin, umur, status pernikahan... bukan gak mungkin juga bisa jadi bernafas juga dipajakin... Padahal isu utama karena bocornya pemasukan negara yang seharusnya bisa dipakai untuk hal2 yang lebih baik... akhirnya ngutang lagi... dan pajak digenjot lagi.... capek dech.... Di Negara kita sedikit banget pantai yang bebas untuk umum.... alasannya kalau dibebasin... nanti kayak cendol diaduk dan bakalan kotor... hee..eehe..e.e. padahal sih yang utamanya, ongkos bersih2 dan bayar petugas bersih2 itu gak ada budget-nya.... karena Pemerintah gak menganggarkannya untuk itu... Di Negara kita juga sedikit banget tempat parkir yang gratis.... kalau perlu dinaikin terus secara berkala.... padahal yang punya gedung sudah pengen bebasin parkir... tapi PEMDA setempat bilang.. "Jatah saya mana?" Di Negara kita di tempat2 umum, jarang banget ada toilet yang gratis plus tissue gratis... udah tahu dong kenapa? ya karena gak ada budget-nya.... kecuali di Hotel dan perkantoran kali ya... karena sudah termasuk dalam sewa gedung... Ada 'nggak tempat terbuka hijau di negara kita? Ada... tapi sedikit.... itupun kalau mau masuk seringnya harus bayar... pastinya kita juga tahu kan kenapa? Ada 'nggak transportasi gratis di negara kita? Ada.. tapi pastinya hampir mendekati gak ada... tahu juga dong kenapa alasannya...?? Itu dari segi financial buat warga negaranya... Dan efeknya memang sangat luar biasa di tengah jumlah penduduk yang luar biasa besarnya ini... Akibat langsungnya lagi... persaingan makin tinggi.... persaingan di kantor bisa bawa2 dukun... iya bener... dukun... Emosi cepet banget naiknya, jalanan macet... apa2 aja rebutan... dsb...dsb.... Otonomi daerah saat ini seringnya cuma memunculkan raja2 baru... tapi kurang memikirkan rakyatnya.... Tetep ada orang2 baik... kayak Jokowi, Ahok, Pak Saragih dan lain2... tapi masing kurang banyak.... Nah di mana posisi kita? Indonesia ini ancur bukan karena banyaknya bedebah.... tapi karena banyaknya orang baik yang diem dan NATO.... Ayo jadi lebih baik... dari diri sendiri, dari yang kecil dan dari sekarang!!! Ayo jadi lebih baik, agar Indonesia jadi lebih baik... amien... Salam, Morry Infra 2012/11/24 ruslan wiryadi <[email protected]> > >Sebenarnya ini topik yang menarik dan terkait langsung dengan kehidupan kita >dan anak cucu nanti, sekalian menyambung posting bang Kim ttg kemiskinan di >Bekasi. > > >Sekedar share pendapat: > > >Ini seperti dalam sebuah rumah tangga. Jika ortu kita gemar berutang dan uang >dari berutang tsb tidak dikelola dengan baik maka kesejahteraan akan semakin >jauh dalam keluarga itu karena sebagian besar dari gajinya akan disisihkan >untuk membayar utang berikut bunganya. >Ini berarti penghasilan keluarga tsb. (yang seharusnya bisa untuk membiayai >semua pengeluaran keluarga tsb. spt pendidikan untuk anak-anaknya dsb.) >sebagian akan dipergunakan untuk membayar utang, maka kemampuan ortu untuk >memberi "bekal" yang terbaik untuk anaknya jadi berkurang. Demikian kira-kira. > > >Jadi tentang kegemaran pemerintah kita berutang, seharusnya kita lebih concern >dan bersuara, tidak bisa tidak peduli karena berpikir toh bukan saya yang >berutang dan negara yang akan membayarnya. Konsekuensi dari semakin >bertambahnya utang negara sesungguhnya terkait langsung dengan kita, karena: > > >1. Kemampuan negara untuk mensejahterakan rakyatnya semakin berkurang karena >uang pendapatan negara sebagian besar habis dipakai untuk membayar utang >alih-alih untuk membangun infrastruktur, membiayai pendidikan ataupun memberi >jaminan kesehatan dsb. >2. Demi meningkatkan pendapatan karena beban utang tsb. pemerintah akan >mengeksploitasi sumber daya alam habis-habisan, tanpa memikirkan untuk >mewarisi bagi generasi mendatang. >3. Selain mengeksploitasi alam, pemerintah akan menggenjot pendapatan dari >sektor pajak: pajak penghasilan, retribusi parkir, pajak kendaraan dsb. yang >dampaknya langsung kepada kita saat ini juga. >4. Dan beberapa langkah "instant" lainnya. > > >Maka dari itu sepatutnya kita "membuka mata dan mewaspadai" akan kegemaran >pemerintah kita yang selalu menambah utangnya setiap ada kesempatan. > > >Jadi, boro-boro mikirin mengentaskan kemiskinan di Bekasi, lha penghasilan >yang didapat pemerentah kan buat belanja-belanja pegawai dan bayar utang ... > > > > > > > > > > > > >________________________________ > Dari: Komarudin ibnu mikam <[email protected]> >Kepada: [email protected] >Dikirim: Sabtu, 17 November 2012 20:39 >Judul: Re: [sma1bks] Fwd: detikFinance | Nyaris Rp 2.000 Triliun, Utang RI >Kalahkan Nilai APBN > > > > >Buat rakyt\at ada pengaruhnya gak ya????? > > >kan itu negara yang nanggung..ada yang mau kasih pencerahann...??? > > >Pak Morry thanks for the posting... > > >2012/11/17 Morry Infra <[email protected]> > > >> >>---------- Forwarded message ---------- >> >>From: Zafar <[email protected]> >>Date: 2012/11/16 >>Subject: detikFinance | Nyaris Rp 2.000 Triliun, Utang RI Kalahkan Nilai APBN >> >>http://m.detik.com/finance/read/2012/11/16/131038/2092751/4/nyaris-rp-2000-triliun-utang-ri-kalahkan-nilai-apbn >> >>Jakarta - Kementerian Keuangan mencatat total utang pemerintah pusat hingga >>akhir Oktober 2012 mencapai Rp 1.992 triliun atau nyaris Rp 2.000 triliun >>hingga akhir tahun. >> >>Berdasarkan data Debt Management Office (DMO) Direktorat Jenderal Pengelolaan >>Utang (DJPU) Kementerian Keuangan yang dikutip detikFinance, Jumat >>(16/11/2012), jumlah tersebut terdiri dari pinjaman sebesar Rp 633 triliun >>atau 32% dan dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 1.359 >>triliun atau 68%. >> >>Realisasi total utang tersebut meningkat hampir Rp 200 triliun dari posisi di >>akhir tahun 2011 yang sebesar Rp 1.809 triliun. Hal ini sesuai dengan rencana >>pembiayaan dalam APBN-P 2012 di mana utang dalam negeri direncanakan sebesar >>Rp 194,5 triliun dan luar negeri hanya Rp 4,4 triliun. >> >>Dengan realisasi utang ini, selisih antara utang dengan pendapatan negara >>pada tahun ini saja semakin besar. Dalam APBN-P 2012, pendapatan negara >>ditargetkan sebesar Rp 1.358 triliun dengan pendapatan dari perpajakan >>sebesar Rp 1.016 triliun dan pendapatan bukan pajak sebesar Rp 341 triliun, >>serta hibah Rp 800 miliar. > > > >-- >komarudin ibnu mikam >0818721014 >komaribnumikam.com >http://jualbambu.wordpress.com/ >http://jualbelitanahbekasi.wordpress.com/ > > > >
