http://www.telkomedia.com/index.php/features/item/79-alternatif-strategi-industri-ti-indonesia


***Alternatif Strategi Industri TI Indonesia***
Written by  Onno W. Purbo Wednesday, 05 December 2012 01:36



Saran bagi para pembaca, sebaiknya anda jangan menganggap terlalu serius 
tulisan ini, karena Onno W. Purbo hanya rakyat Indonesia biasa-biasa saja, 
bukan pejabat negara.


Alternatif strategi yang di usulkan di sini sebetulnya dapat di jalankan tanpa 
dukungan dana sama sekali dari pemerintah, alias membebani Rp. 0,- APBN. Semua 
dapat dilakukan secara swadaya masyarakat di Indonesia, tanpa utangan Bank 
Dunia, ataupun IMF. Konsekuensi dari alternative strategi yang saya bahas 
disini akan memungkinkan 45+ juta siswa (anak muda Indonesia) berada di 
Internet dan bukan mustahil mengimbas 80-100 juta orang dewasa lainnya untuk 
ber-Internet ria. Bukan mustahil Indonesia akan menjadi negara yang tangguh di 
kawasan asia tenggara mengalahkan Malaysia, Singapore & Australia.


Sialnya semua ini harus tertahan karena kepicikan para birokrat di pemerintahan 
(yang mungkin di pengaruhi konsultan yang salah) maupun aparatnya yang sering 
kali main kayu di lapangan, melakukan sweeping dll. Akhirnya semua ini meredam 
kemungkinan bangsa Indonesia menjadi banga yang besar. Sayang memang .. tapi 
itulah kenyataan hidup di negara Indonesia.


Baiklah, mari kita hitung secara sederhana melihat kenyataan yang ada. Pada 
saat ini ada 200.000+ sekolah diseluruh Indonesia, termasuk pesantren, 
madrasah, sekolah dasar, SMP, SMU, SMK. Sekolah ini mempunyai massa sekitar 45+ 
juta siswa (mendekati 50 juta siswa sebetulnya). Kondisi hari ini, hanya 3000+ 
sekolah ini yang tersambung ke Internet dengan massa siswa mendekati 1 juta 
orang yang tersambung ke Internet. Terutama karena usaha yang gigih dari Dr. 
Gatot HP yang waktu itu menjabat sebagai direktur menengah kejuruan di DIKNAS 
yang berusaha keras mengkaitkan sekolah-sekolah terutama SMK ke Internet.


Jika kita mau secara politik mengkaitkan semua 200.000+ sekolah ini ke 
Internet, maka secara swadaya masyarakat sebetulnya secara automatis kita akan 
melihat 45+ juta bangsa ini berada di Internet. Proses penyambungan sekolah ke 
Internet sebetulnya mudah, karena:
Siswa dapat mendanai sendiri proses penyambungan sekolah ke Internet, yang 
biayanya Rp. 1000-5000 / siswa / bulan.



Dengan Rp. 1000-5000 / siswa / bulan, minimal sebuah sekolah dapat dengan mudah 
mengumpulkan Rp. 1-5 juta / bulan / sekolah dari siswanya dan cukup untuk 
mengcover biaya sambungan Internet (bisa dial-up) dan investasi komputernya 
sendiri. Arti angka ini bagi dunia industri IT & ISP sebetulnya, kita melihat 
dana sebesar Rp. 2-10 milyard / bulan berputar di dunia pendidikan untuk 
keperluan IT.


Guru teknik / orang teknik akan menjadi masalah paling besar dalam 
pengoperasian system internet sekolah tsb. Hal ini akan dapat dengan mudah di 
penuhi melalui berbagai side roadshow, distribusi CD, majalah, talkshow, 
workshop, seminar ke berbagai pelosok Indonesia berdampingan dengan acara yang 
sifatnya komersial supaya terjadi subsidi silang.


Materi pembelajaran di sekolah tentang IT tidak perlu terlalu canggih, minimal 
sekali dapat menulis menggunakan editor, dan berkirim e-mail / berdiskusi 
melalui mailinglist yang akan sangat bermanfaat bagi proses belajar-mengajar.


Bagian terberat dari seluruh proses adalah meyakinkan / memaksa kepala sekolah 
& yayasan agar menyelenggarakan IT & Internet bagi sekolahnya. Hal ini hanya 
mungkin dilakukan jika ada surat / SK resmi dari tingkat menteri. Hal ini 
adalah bagian yang paling berat dari seluruh proses, hal ini merupakan bagian 
yang sifatnya sangat politis dan berat di tembus.


Dengan tersambungnya sekolah ke Internet, secara tidak langsung akan 
mempengaruhi orang tua siswa dan masyarakat sekitarnya. Siswa akan bercerita ke 
orang tua maupun masyarakat sekeliling mereka tentang Internet maupun teknologi 
informasi.


Harus di akui bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya yang berada 
di daerah masih lebih suka media pandang-dengar daripada baca-tulis karena 
tingkat pendidikan mereka.


Oleh karena itu, untuk mengeffektifkan proses distribusi pengetahuan, ada 
baiknya kita juga menggunakan media suara sebagai media distribusi pengetahuan. 
Media suara yang paling murah yang dapat di deploy untuk keperluan tersebut di 
tingkat daerah / rural. Media suara tersebut adalah pemancar FM atau AM 
kekuatan rendah 5-10 Watt yang dapat dibuat sendiri, dan di pasang di komunitas 
/ sekolah sebagai media sharing pengetahuan antar komunitas. Biaya / investasi 
sebuah pemancar AM / pemancar FM kekuatan rendah ini relatif rendah & tidak 
sampai Rp. 1 juta dan dapat di cover oleh komunitas itu sendiri.


Keberadaan pemancar FM / pemancar AM ini akan sangat terbantu jika di bangun 
jaringan antar pemancar tersebut. Supaya rekaman-rekaman acara & sharing 
pengetahuan yang terjadi bisa di share antar operator pemancar, antar komunitas.


Usaha untuk membangun pemancar broadcast komunitas ini mulai berkembang di 
Indonesia, walaupun dalam orde ribuan saja. Kita masih perlu lebih banyak lagi 
pemancar komunitas agar masing-masing komunitas menjadi lebih hidup.


Keberadaan radio komunitas & Internet bagi dunia pendidikan tidak akan dapat 
berjalan dengan lancar jika kita tidak memberdayakan RT/RW-net dan membebaskan 
Internet broadband wireless menggunakan frekuensi 2.4GHz & 5.8GHz.


Sayang regulator di Indonesia tidak berfikir panjang, terus terang, di World 
Summit on Information Society (WSIS) Geneve Geneve 9-12 Desember 2003, banyak 
rekan-rekan negara lain terkagum, terinspirasi pengalaman Indonesia yang real 
di lapangan, bertumpu swadana & swadaya masyarakat, praktis hampir tidak di 
danai oleh pemerintah sama sekali. Alhamdullillah, tidak menambah utangan 
negara ke World Bank dan IMF. Bahkan masyarakat melakukan investasi sendiri 
infrastruktur informasinya, yang mereka juluki "RebelNet" the Indonesian 
community based infrastructure.


Teknologi Wireless Internet di 2.4GHz & 5GHz menjadi tulang pungggung 
utama-nya. Teknologi ini demikian mudah dan murah untuk di operasikan 
menyebabkan kemungkinan penetrasi Internet menjadi sangat mudah. Semua 
investasi dari rakyat, tanpa campur tangan investor asing; tanpa menaikan tarif 
Telkom.


Pada World Summit on Information Society (WSIS), Indonesia telah berhasil 
menunjukan dirinya sebagai salah satu pemimpin dunia pembangunan ICT berbasis 
masyarakat, yang mampu membangun masyarakat informasi-nya menjadi jutaan orang 
di tahun 2003 dari nihil di tahun 1993. Indonesia adalah satu-satunya negara, 
tidak ada negara lain di dunia, yang mampu membangun system dalam sekala besar 
secara swadana & swadaya masyarakat. Tidak heran jika banyak peserta WSIS 
mengatakan "Indonesia is inspirational!!"


Sayang POSTEL tak terlalu pandai untuk dapat melihat bahwa justru pembebasan 
pita ISM 2.4GHz dan 5GHz dari berbagai ijin, lisensi maupun kewajiban 
pembayaran BHP akan menyebabkan (1) lonjakan pengguna Internet ISM band dari 
satu (1) juta menjadi 17.8 juta pengguna, (2) kenaikan BHP Jasa Internet dari 
Rp. 1 Milyard/tahun menjadi Rp. 21 Milyard/Tahun, (3) kenaikan PPh Jasa dari 
Rp. 7 Milyard/tahun menjadi Rp. 128 Milyard/tahun, (4) masukan PPN dari 
Investasi peralatan dari Rp. 18 Milyard menjadi Rp. 600 Milyard, (5) lonjakan 
tambahan kebutuhan komputer dari 50.000 unit menjadi mendekati 2 juta unit, (6) 
lonjakan tambahan kebutuhan peralatan ISM band dari 5.500 unit menjadi 
mendekati 130.000 unit dan (7) justifikasi migrasi industri antenna & tower 
menjadi manufaktur peralatan ISM band senilai US$4.5 juta dengan nilai komponen 
US$650.000 saja. Belum terhitung berbagai efek spin-off di perekonomian 
Indonesia.


Pengorbanan pemerintah hanya memigrasi existing 2900 microwave link senilai Rp. 
626 Milyard yang tercover masukan PPN investasi peralatan yang mendekati Rp. 
600 Milyard dan PPh Jasa & BHP Jasa Telekomunikasi. Semua detail perhitungan 
ada di file impact-ism-unii.xls di bagian file mailing list mastel-anggota, 
telematika, genetika, indowli di yahoogroups.com. Atau silahkan meminta copy 
file kepada saya di [email protected].


Saya pribadi (dan saya yakin banyak rekan komunitas) tetap berpendapat bahwa 
(1) band ISM & UNII (2.4 GHz, 5.2GHz dan 5.8GHz) harus dibebaskan, (2) pengguna 
ISM & UNII band tidak perlu lisensi maupun registrasi, (3) mengacu pada Mutual 
Recognition Agreement (MRA) semua peralatan yang digunakan tidak perlu di 
approve oleh POSTEL / Pemerintah, jika sudah di approve oleh FCC & ESTI 
regulator di negara maju, (4) pengguna di batasi daya pancar pada EIRP 30-36 
dBm untuk minimalisasi interferensi dengan ancaman pasal 38 Undang Undang 36 
Tahun 1999 dan (5) koordinasi penggunaan frekuensi bersama (frequency sharing & 
reuse) maupun disain Wireless Metropolitan Area Network (MAN) dilakukan secara 
lokal oleh komunitas.


Sayang semua hal yang membanggakan di WSIS harus dilakukan dibawah tindakan 
represif pemerintah, kejaran aparat, sweeping, penyitaan peralatan, berbagai 
tuduhan pencurian pulsa oleh Telkom. Barangkali memang nasib kita mempunyai 
regulator telekomunikasi yang tidak cerdas??


Teman-teman seperjuangan mari lanjutkan terus berjihad & berjuang tegakan 
keadilan, hancurkan kemaksiatan & kebathilan. Mari kita bangun wireless 
Internet di semua pelosok, di setiap sekolah, di setiap RT/RW, di setiap rumah. 
Bukan mustahil bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar di tingkat regional 
Asia Tenggara.(Telkomedia/api)

Kirim email ke