CoPas dari :

http://www.jddc-online.com/?p=460

"Keberadaan sepeda motor (motor) di Indonesia jelas berbeda dengan
keberadaannya di negri lain. Di Indonesia motor hadir sebagai  media
transportasi paling murah dan paling terjangkau yang bisa di dapat
masyarakat kebanyakan. Belum lagi fenomena mudik yang baru saja
terjadi dimana perjalanan ratusan kilometer secara fakta mengalahkan
para pemilik hobi turing di luar turing. Dengan kapasitas mesin jauh
lebih kecil pengendara Indonesia mampu menaklukan sebuah pulau. Di
negri seberang butuh kapasitas mesin jauh lebih besar untuk menikmati
kenikmatan serupa.

Photobucket

Kultur yang berkembang tidak lagi menggambarkan motor sebagai media
transportasi berbahaya. Yang ada justru tidak perlu dianggap
berbahaya. Angka kecelakaan fantastis yang selalu terjadi tiap hari
tidak mampu menggoyahkan semangat memiliki sepeda motor. Akhirnya di
negri ini motor berkembang menuju banyak aspek. Motor digunakan
sebagai bagian dari gaya hidup, jembatan transportasi, alat angkut
barang hingga media adu kebut bagi penyuka kecepatan -meski dilakukan
di luar sirkuit-. Kita pantas bangga atau pantas miris dengan fenomena
motor, sedangkan produsen motor terus menggelembungkan produksinya
karena permintaan nya yang terus tinggi.

Lalu kembali pada judul di atas, haruskah anda mengendarai sepeda
motor ? Sementara motor sendiri jika tidak dikendalikan dengan
pengetahuan yang baik bisa menjadi alat pembuat celaka diri anda
sendiri. Pengendara Indonesia melahirkan kemampuan berkendara atas
nama otodidak atau senioritas. Si A menyebut beginilah cara melakukan
‘braking’ maka si B akan terus menyimpannya di memori kepalanya. Tak
perlu lagi mencari ilmu tambahan untuk mengasah kemampuannya
berkendara. Satu poin hilang. Kemalasan pengendara mencari banyak
informasi mengenai literatur berkendara mengakibatkan lemahnya mental
dan disiplin saat berkendara di jalan raya. Berkendara tidak hanya
soal ’skill’ atau kemampuan tapi juga mental dan sikap serta perilaku.
Semua saling bergandengan untuk membentuk pengendara yang aman, baik
bagi diri sendiri maupun orang lain.

Jika anda menjawab harus, karena kebutuhan operasional harian yang
menjadikan motor sebagai media yang efisien maka anda harus mau
mencari ilmu lain soal berkendara. Lepas mendapatkan SIM situasi
terkini memberi fakta bahwa pengendara sudah diberi ijin untuk
‘bermain’ di jalan raya.

Photobucket

Pertanyaan menarik yang muncul di salah satu artikel milik
www.motorcycle.com yang mengupas perlu kah kita berkendara, “Are you
willing to invest some time in learning to ride the right way before
hopping on a bike?”

Tampaknya pertanyaan seperti itu tidak pas jika ditanyakan ke
mayoritas pengendara di Indonesia. Bukan begitu ?"

semoga bisa jadi bahan renungan

-- 
[email protected]
www.spinner-community.net

http://maps.google.com/maps?f=q&source=s_q&hl=en&geocode=&q=serpong&sll=-6.19039,106.845474&sspn=0.330398,0.441513&g=jakarta&ie=UTF8&ll=-6.246278,106.678276&spn=0.020136,0.055189&z=14


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/spinner-community/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/spinner-community/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke