Halo temen-temen semua,
Saya dhita..
Berikut ini ada email forward an dari temen sesama anggota kpii australia..
Mudah2 an artikel di bawah ini bermanfaat bagi yang sudah menikah, yang mau
menikah dan yang belum menikah..
Amin...
O iya, menginjak bulan ramadhan yang sebentar lagi akan tiba..
Dhita mau ngucapin "Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, buat rekan-rekan semua
yang menunaikan nya dan Mohon Maaf Lahir Batin"
Cheers,
Dhita
Bersahabat dengan Mertua? Yyuuuuk!
16 mar '8
Sebelum menikah, saya sering mendengar banyak orang bercerita tentang mertua
mereka. Setelah menikah, makin banyak lagi cerita-cerita seperti itu saya
dengar. Ya, apalagi kalau bukan soal interaksi antara menantu dan mertua!
Seorang ibu yang masih kerabat jauh pernah bercerita pada saya tentang
menantunya. “Dulu waktu belum dapat anak saya, dia baiiiiiik sekali. Ramah,
suka senyum, suka cerita. Kalau datang selalu ada saja yang dibawa. Bukannya
saya mengharap, tapi dia betul-betul perhatian. Dia juga rajin telepon,
memperhatikan saudara-saudara…,” cerita si Ibu.
Saya mendengarkan seksama.
“Eh pas udah dapat anak saya, dia berubah! Kalau ngomong ketus, nyelekit. Terus
kalau anak saya beliin saya apa-apa, dia juga ngotot minta dibelikan. Anak saya
harus ngumpet-ngumpet kalau mau kasih uang sama saya. Dia juga tidak mau kalau
saya tinggal bersama mereka….”
Cerita Tiwik, teman saya, lain lagi. “Mertua saya itu orangnya dominan. Maunya
menguasai. Jadi meski kami sudah menikah sekian lama, semuanya Ibu mertua saya
yang mengatur. Kami mau tinggal dimana, ngontrak atau beli rumah juga dia yang
menentukan. Saya jadi kesal. Suami seolah tak berdaya kalau di hadapan ibunya.
Pokoknya ibunya bilang apa, dia nurut. Ibunya juga turut campur dalam mendidik
anak kami. Apa yang saya larang, ia perbolehkan. Apa yang saya perbolehkan
untuk anak-anak, ia larang. Kan kasihan anak-anak saya jadi bingung. Udah itu
saya merasa ia benar-benar nggak percaya sama saya…. Pokoknya yang paling bagus
dan mengerti apa saja di dunia ini ya cuma dia!”
“Kalau saya lain lagi,” tutur Ira, teman saya yang juga sahabat Tiwik. “Ibu
mertua saya sangat perfeksionis tapi pelitnya luar biasa. Udah gitu, dia selalu
bilang saya pelit. Di depan anaknya ia ngomong gini, tuh kan nak, coba kalau
kamu belum menikah, kamu bisa lebih memperhatikan dan membiayai ibu dan
adik-adikmu…, sedih kan?” Mata Ira memerah.
“Kalau yang saya alami lebih gila,” kata Indah dengan suara serak. “Kalau di
depan anaknya, mertua sangat baik pada saya. Tapi begitu di belakang suami,
waduh ampun deh.
Kata-katanya nyelekit dan suka sekali menyindir. Ia suka mengadu domba saya dan
suami. Ia juga sering mengobral cerita apa saja yang memalukan tentang saya.
Padahal saya kan menantunya sendiri. Kok tega ya?”
Saya jadi teringat masa-masa awal saya bertemu Mas Tomi. Saya tahu ia pasti
sangat mencintai ibunya. Dan bagi saya, mencintai Mas Tomi berarti mencintai
Ibu, adik-adik, keluarga besarnya....
“Ceritakan pada saya tentang Ibu…,” pinta saya.
Sambil terenyum ia menceritakan banyak hal tentang Sang Ibu. Seorang perempuan
tradisional yang lembut, sangat perasa dan betul-betul menikmati peran sebagai
ibu rumah tangga. Beliau jago memasak, pintar menjahit, ahli dalam mengurus
taman dan kebun di belakang rumah mereka. “Ibu punya koleksi anggrek yang
cantik, juga beternak gurame kecil-kecilan di rumah,” kata Mas.
Hmmm menarik, pikir saya. Perempuan hebat.
“Ibu sangat njawani,” tambah Mas.
Dalam hati, saya menambahkan: Itu berarti saya harus memperhatikan perbedaan
kultur di antara kami. Saya yang Sumatera, Ibu yang sangat Jawa (Ibu dari
Yogyakarta, Bapak Mas dari Solo, namun sudah meninggal ketika Mas kuliah
tingkat III). Saya bertekad, dalam pertemuan pertama dan selanjutnya, saya akan
menampilkan diri saya sebagaimana adanya, dengan tetap menghormati kultur
beliau. Apalagi nih, Mas Tomi itu anak pertama, tulang punggung keluarga. Pasti
banyak harapan ibu bertumpu padanya.
Begitulah. Sebelum bertemu untuk pertamakalinya dengan Ibu Mas Tomi, saya sudah
mulai menitipkan salam. Saya kirimkan bahan yang saya pilih sendiri untuk
beliau. Kadang oleh-oleh lainnya.
Ketika akhirnya bertemu, kami berdua tahu bahwa kami adalah dua pribadi yang
sangat bertolak belakang. Tetapi apakah itu membuat kami tak bisa cocok?
“Ibu baik, tapi bukan tipe orang yang mudah mengekspresikan perasaannya. Bahkan
bila ia menyayangi seseorang,” kata Mas pada saya.
Karena Ibu Mas Tomi memang cenderung pendiam, maka saya mencoba lebih aktif
mendekati beliau. Pada pertemuan pertama misalnya, saya merangkulnya sambil
berkata, “Ibu, nanti kalau aku nikah sama Mas, aku tidak akan menganggap ibu
sebagai mertuaku….”
Ibu mengerutkan keningnya. “Kenapa?” Tanya beliau tak mengerti.
“Saya rangkul beliau lebih erat, “Ya, sebab aku akan menganggap Ibu sebagai
ibuku sendiri! Pokoknya, Ibu bertambah anak, aku bertambah Ibu!”
Kami berdua tersenyum.
Setelah saya dan Mas menikah, saya berusaha memberi atensi sebisa saya pada
Ibu. Mulai dari hal-hal kecil membawakannya sesuatu setiap kami mengunjunginya
(bukan soal harga, tapi perhatian), hingga mengingat momen-momen penting dalam
hidup Ibu. Saya pun berinisiatif membenahi semua album keluarga mereka—terutama
saat bersama almarhum Bapak---agar tersusun lebih rapi dan terhindar dari jamur.
Ibu sering sekali memberi masukan, terutama soal kepiawaian sebagai istri dan
bagaimana mendidik anak. Tahu sendiri, saya sama sekali tak pintar masak
seperti ibu. Barangkali saya juga tak setelaten beliau dalam mengurus anak dan
semacamnya. Setidaknya begitulah saya dalam pandangan Ibu.
Seringkali saya merasa sudah melakukan sesuatu secara maksimal, namun seolah
masih saja “salah” di mata ibu.. Awalnya hal itu membuat saya sedikit
“geregetan”, agak tersinggung dan sedih…, sering saya berusaha menyampaikan apa
yang sudah saya lakukan yang saya rasakan baik padanya. Saya bahkan memberikan
argumen terbaik yang saya miliki hingga Ibu hanya menjawab, “O…begitu….”
Namun lama kelamaan, saya pikir kenapa sih saya? Apa sih gunanya “melawan” ibu,
menganggap saya sudah melakukan semua dengan baik. Memang apa salahnya kalau
Ibu menasehati panjang lebar, lalu saya tinggal tersenyum, berterimakasih dan
bilang, “Ya, Ibu. Saya akan coba, atau saya akan melakukan saran Ibu.
Terimakasih ya, Bu….” Bukankah kalau ibu menasehati berarti ibu sedang
memperhatikan saya. Bukankah memperhatikan berarti bentuk dari sebuah cinta?
Akhirnya itu yang saya lakukan, dan ternyata asyik!
“Terimakasih, Bu. Saya senang sekali dapat pengetahuan baru.”
“Alhamdulillah Ibu memberi tahu, jadi lain kali aku bisa lebih baik….”
“Terus, kalau kasusnya begini, baiknya aku bagaimana ya, Bu?”
“Wah Bu, saran dari Ibu aku pakai. Alhamdulillah Bu, berhasil!”
Saya juga yang selalu mengingatkan Mas bila ia sibuk dan kami lama tak
mengunjungi Ibu di Sukabumi. “Mas, minggu depan ke Sukabumi yuk. Kan kita dah
kangen sama Ibu….”
Selain itu kami sepakat, kalau mau ngasih sesuatu untuk ibu Mas, sayalah yang
melakukan, dan kalau mau ngasih sesuatu ke mama saya, Mas yang akan
memberikannya. ..
Lambat laun saya merasa ibu makin sayang pada saya. Ibu bahkan mulai mengurangi
memberi tahu saya apapun dengan gaya para mertua pada umumnya. Ibu mulai
menjadikan saya sahabat tempat curhat beliau mengenai apa saja! Kami sering
menangis dan tertawa bersama. Alhamdulillah. Saya bahagia sekali.
Saya jadi ingat beberapa kali saya mendapat hadiah usai mengisi ceramah di
berbagai tempat. Selain uang, kadang saya diberi peralatan rumah tangga, bahan,
atau souvenir lain yang menarik. Biasanya kalau ada dua macam, pasti saya minta
Ibu mertua saya untuk memilihnya lebih dulu, baru kemudian Mama. Mengapa?
“Mama kan masih ada Papa. Papa bisa belikan Mama yang lebih bagus…. Ibu kan
sudah nggak ada Bapak? Nggak apa ya, Ma?” kata saya pada Mama.
Di luar dugaan, Mama memeluk saya dan mengatakan bangga sekali punya anak
seperti saya. Mama bahkan bilang tak akan pernah iri pada apa yang saya lakukan
terhadap Ibu.
Begitulah. Saya merasa saya memang tak memiliki dan tak memerlukan seorang Ibu
mertua. Ibu dari suami saya adalah Ibu, adalah sahabat saya. Dan oh, sungguh
kangen, bila sebulan saja tak bertemu beliau setelah 14 tahun perkenalan kami.
I love you much, Bu!
________________________________
Win a MacBook Air or iPod touch with Yahoo!7- Find out more.__._,_.___
Messages in this topic (1) Reply (via web post) | Start a new topic
Messages | Files | Photos | Polls | Calendar
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch format to
Traditional
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Visit Your Group
Need traffic?
Drive customers
With search ads
on Yahoo!
Y! Messenger
PC-to-PC calls
Call your friends
worldwide - free!
All-Bran
Day 10 Club
on Yahoo! Groups
Feel better with fiber.
.
__,_._,___
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---