---------- Forwarded message ----------
From: Hari Wahyu MH <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/11/10
Subject: Fwd: FW: Ndeso
To: Mia Amalia <[EMAIL PROTECTED]>, wida herdiana <
[EMAIL PROTECTED]>, wilda wildana <[EMAIL PROTECTED]>, windy
Agustine <[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED],
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], Fhia
Nurafiah <[EMAIL PROTECTED]>, fristawati gunawan <[EMAIL PROTECTED]>,
Linda Arini <[EMAIL PROTECTED]>, titi pretty <[EMAIL PROTECTED]>,
[EMAIL PROTECTED], Dian Tri Wulandari <
[EMAIL PROTECTED]>, [EMAIL PROTECTED], Yudi geyong <
[EMAIL PROTECTED]>, Mas Kempong <[EMAIL PROTECTED]>, Dian M Prabowo
<[EMAIL PROTECTED]>, Danar Wirawan <[EMAIL PROTECTED]>, Kusmas
Hermawan <[EMAIL PROTECTED]>
---------- Forwarded message ----------
From: Takdir Johan - [SVC] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 2008/11/10
Subject: FW: Ndeso
To:
Cc: [EMAIL PROTECTED]
*NDESO*
*( Ika S. Creech )** *
Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan, udik,
shock culture, countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau merasakan
sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa takjub dan sangat
senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak ingin lepas, kalau perlu
yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap hanya dia atau hanya segelintir
orang yang baru merasakan dan mengalaminya. Maka ia mulai atraktif,
memamerkan dan sekaligus mengajak orang lain untuk turut merasakan dan
menikmatinya, dengan harapan orang yang diajak juga sama terkagum-kagum sama
seperti dia.
Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap
langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa, seperti
saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus berupaya untuk
terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta belajar bagaimana
caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.
Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau bahkan
Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si Pemilik
perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana. Ketika beberapa
pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah Indonesia mereka
menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik kendaraan umum,
sementara yang akan dijemput, pejabat Indonesia naik mobil dinas Kedutaan
yaitu mercy.
Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara seremoni dari
jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri, saya
tertarik
mengamati pada mobil yang mereka pakai merk Holden baru yang paling murah
untuk ukuran Australia. Yang menarik, para pengawalnya tidak terlihat karena
tidak berbeda penampilannya dengan tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati
kita tidak tahu mana pengawalnya.
Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand . Dia
seorang warga negara Malaysia keturunan Cina, sudah selesai S3, sekarang
lagi mengikuti program Post Doc. Dia anak serorang pengusaha yang kaya raya.
Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi pelayan. Dia juga
sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.
Satu bulan saya di Jepang tidak melihat orang pakai HP Communicator, mungkin
kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca koran ternyata konsumen
terbesar HP communicator adalah Indonesia . Sempat berkenalan juga dengan
seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata dia anak seorang
pejabat tinggi negara, juga naik kereta. Yang tak kalah serunya saya juga
jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di pakai masyarakat Jepang ternyata
tak bermerek, wah ini yang deso siapa yaa?
Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di Jepang atau di Australia ,
baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau rumahnya. Kita baru
bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu pekerjaan dan jabatannya di
perusahaan. Jangan-jangan kalau orang Jepang diajak ke Pondok Indah bisa
pingsan melihat rumah segitu gede dan mewahnya. Rata-rata rumah di sana
memiliki tinggi plafon yang bisa dijambak dengan tangan hanya dengan
melompat. Sehingga duduknyapun banyak yang lesehan.
Sampai akhir hayatnya Nabi Muhammad SAW tidak membuat istana Negara dan
Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang ahzab
saja), padahal sudah sangat mengenal kemewahan istana raja-raja negara
sekelilingnya, karena beliau punya pengalaman berdagang. Ternyata beliau
tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah ingin seperti orang-orang. Lalu
dimana aktivitas kenegaraan dilakukan? Mengingat beliau sebagai kepala
negara. Jawabannya ya di masjid...
Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di Mekkah
nikah dengan janda kaya, di Madinah jadi kepala negara, punya hak prerogatif
dalam mengatur harta rampasan perang dan ada jatah dari Allah untuk
dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari raja-raja. Tetapi mengapa
beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan batu, puasa sunnah niatnya
siang hari, shalat sambil duduk menahan perih perut dan seterusnya?
Ketika Indonesia sedang terpuruk, hutang lagi numpuk, rakyat banyak yang
mulai ngamuk, negara sedang kere, banyak yang antri beras raskin , minyak
tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat dengan
medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak seremonial yang
gonta-ganti baju seragam, baju dinas, merek mobil, proyek mercusuar, dll,
dsb, dst.
Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan tidak
ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagi WTS (Wanita T una
Susila , di Malaysia "Wanita Tak Senonoh") , angka kriminal rendah, korupsi
berkurang, punya posisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso
(alias norak) tidak mampu mengatasi krisis karena tidak bisa menjadikan
krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah, karena yang
menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai adalah
negara normal atau bahkan mengikut negara maju.
Bayangkan ada daerah yang menganggarkan sepak bola 17 milyar sementara
anggaran kesra-nya 100 juta, wiiieh!
Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari atas
sampai bawah :
- Orang bisa antri raskin sambil pegang HP
- Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok
- Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untuk beli tv dan
kulkas
- Orang bule mabuk krn kelebihan uang, orang kampung mabuk beli
minuman patungan
- Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala
- Para pengungsi bisa berjoged dalam tendanya
- Orang beli gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah
- Ijazah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang
sempit di Cibubur
- Kelihatannya orang sibuk ternyata masih sering keluar masuk
McDonald
- Kelihatannya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia
persepakbolaan.
- Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin HP
- 62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja
- Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di
acara tembang kenangan.
- Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol
ngebor
- Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan
wakuncar
- Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan
- Agar kelihatan inklusif maka hrs bisa menggandeng siapa saja,
kalo perlu jin Tomang juga digandeng
Yang lebih mengerikan lagi adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka
harus
bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu dirinya kere.
*P*enulis adalah Putri Indonesia Asli, kini bertempat tinggal di Paris,
Perancis dan bekerja sebagai Pembawa Acara di salah satu stasiun di Perancis
*.
****************************************************
This email and any materials attached are itended only for the use of the
individual or entity to which it is addressed and any contain information
that is privileged, confidential. If this reader of this email is not
intended recipient, you are hereby notified that any dissemination,
distribution or copying of this email is strictly prohibited. If you have
this email in error, please notify the sender immediately by return email
and delete it from your system, or you can inform by sent mail to
[EMAIL PROTECTED]
****************************************************
--
Sincerely,
Dian M Prabowo
02132782787
081513786200
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Anda menerima pesan ini karena berlangganan ke Grup "Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi YKPN Yogyakarta" Google Groups.
Untuk memposting ke grup ini, kirimkan email ke [email protected]
Untuk keluar dari grup ini, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Untuk pilihan lain, kunjungi grup ini di
http://groups.google.com/group/stieykpn?hl=id
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---