Nah sekarang saya kirimkan profil pebisnis besar (bosnya Mas Adhi / Medco)
yang saya ambil dari sebuah mailing list. Tulisan ini agak panjang maka
dibagi dalam dua episode.
Semoga dapat menginspirasi kita untuk menjadi besar.
Arifin Panigoro
PENGUSAHA minyak ini di awal reformasi lebih dikenal sebagai
politisi. Di masa akhir pemerintahan Soeharto, ketika demonstrasi
mahasiswa marak, salah satu rumahnya, di kawasan Kebayoran Baru,
dijadikan dapur umum. Istrinya, bersama kelompok-kelompok
sukarelawan, aktif menyediakan konsumsi buat para mahasiswa. Sampai-
sampai dia dituding sebagai provokator yang membiayai demonstrasi
mahasiswa.
"Itu tuduhan sinting. Saya cuma menyediakan nasi bungkus dan air
putih untuk anak-anak yang menginginkan masa depan yang lebih baik,"
kata pengusaha yang pernah menjadi Wakil Ketua Dewan Pengembangan
Usaha Nasional itu.
Tapi itu bukan gerakan pertama Arifin yang bersinggungan dengan
politik. Menjelang Sidang Umum MPR Maret 1998, yang santer
mencalonkan Soeharto dan Habibie, ia ikut terkena tuduhan merancang
makar (bersama Amien Rais dan Afan Gaffar) untuk menggagalkan sidang
umum. Gara-garanya, ia hadir dalam diskusi Pusat Pengkajian Strategi
dan Kebijakan (PPSK) di Hotel Radisson, Yogya. Dalam diskusi itu
antara lain diperdebatkan kemungkinan munculnya people power di
Indonesia. Kebetulan, yang mempertanyakan hal itu Arifin. Ia pun
sempat dipanggil ke Markas Besar Polisi, diinterogasi.
Akhirnya memang tidak ada apa-apa. Kata Arifin: "Forum PPSK itu
isinya profesor-doktor semua, ngapain bicara massa dan makar? Dan
kalau niatnya makar, masak pertemuannya terbuka." Penyelenggara
pertemuan, Amien Rais, malah kemudian menjadi ketua MPR. Arifin
menjadi anggota DPR mewakili PDIP, dan terpilih menjadi ketua fraksi
partai tersebut sampai 2001.
Sebelum terjun ke dunia politik salah satu perusahaannya, Medco
Energi Corporation, pada tahun 1995, membeli raksasa minyak PT
Stanvac Indonesia. Sarjana elektro ini lebih suka membaui minyak
daripada mengurus setrum, mungkin karena dari minyak lebih banyak
fulusnya. Di antara para politisi Arifin memang terkaya. Menurut
Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara, di tahun 2001 harta
Arifin bernilai lebih dari Rp 270 milyar.
Di era Gus Dur, Arifin menghadapi kasus kredit macet kepada PT
Bahana Pembinaan Usaha Indonesia. Kasus ini beraroma politik karena
dikaitkan dengan posisi Arifin sebagai salah satu ketua PDIP dan
Ketua Fraksi PDIP di DPR. Maklum saja, kala itu perseteruan antara
DPR dan pemerintah (Gus Dur) sedang panas-panasnya. Dan, Arifin
gencar menyerang Gus Dur. Lewat kasus ini, lawan-lawan politik
Arifin mencoba menjatuhkannya. Kali ini pun Arifin lolos dari
jeratan.
Untuk membuat langkah-langkah politiknya mulus, Arifin meninggalkan
operasional perusahaan kepada staf profesional. "Politik dan bisnis
tidak bagus dicampuradukkan," katanya.
Nama :
Arifin Panigoro
Lahir :
Bandung, 14 Maret 1945
Agama :
Islam
Pendidikan :
- SD
- SMP
- SMA
- S1, Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung
Karir :
- Preskom Medco Energi Corporation (1987-sekarang)
- Preskom PT Shclumberger Geophysics Nusantara (1989-sekarang)
- Komisaris PT Satria Balitama (1989-sekarang)
- Preskom PT Mufhfabrindo Gemilang (1992-sekarang)
- Preskom PT Ekasatria Petrasanga (1992-sekarang)
- Komisaris PT Eksita Patranagari
- Ketua Fraksi PDIP DPR-RI (2000-2001)
- Ketua PDIP (Juli 2000-sekarang