He..he..., koq jadi sewot Ke ...

Yoke nggak nangkep maksud saya. Masalah kualitas, yg saya soroti bukan
masalah content milis nya. Krn apa ... kualitas itu relatif kan. Buat
seniman, milis bermutu itu kalau yg dibahas masalah seni. Buat anggota
Persendi, yg bermutu itu yg dagelan, dsb. Buat kita ... auk ah gelap ....

Maksud saya berkualitas itu adalah 'rules' milis nya. Bukankah terbukti
kalau sampai sekarang masih ada dari kita yg masih saja belum ngerti
'netiket' sebagaimana yg disebutin Pak Admin dan mantan Admin kita. Jadi
"kualitas memahami" netiket itulah yg belum banyak kita pahami sekarang, dan
saya justeru men justifikasi agar kita nggak usah tarik urat leher kalau
memang ada temen kita yg belum ngerti, cukup kita delete dan Pak Admin
ngingetin
temen kita. Beres kan .... dan semoga itu menjadi ajang latihan (baca :
pengalaman) bagi ybs agar bila mengikuti milis di luar STT Telkom yg netiket
nya ketat.

Malu-maluin ... ya terserah lah kalau ybs bermuka tembok nan tebal terus
melanggar netiket di milis yg ketat rules nya, dan siap-siap saja ditendang
keluar .... Dan apakah malu kalau kita menyebut diri kita masih belajar ?
masih hijau dlm masalah netiket ?

Komentar thd komentar Yoke masih berlanjut ke bawah :-)

-----Original Message-----
From: Layanan 117&SLG <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, March 16, 1999 5:33 AM
Subject: Re: [stttelkom] Milis tanpa aturan (was Re: [stttelkom] selamat ...
ADMIN)

>?????

Semoga terjawab ...

>
>>(spt berita ttg arogan nya 'aparat' STT Telkom
>>yg mengambil alih pemeliharaan server/network stttelkom.ac.id, kan yg
>ginian
>>aib kita semua).
>
>nah yang kayak gini ini.........

Lho, komentar nya mana Ke .... maksudnya yg kayak gini itu apaan ? Apa salah
kalau saya ingin agar aib keluarga cukup anggota keluarga saja yg tahu ?

>terus terang saya sempet tersenyum sendiri...
>ternyata kita, mahasiswa STT TELKOM itu, dari dulu sampe sekarang nggak
>berubah
>sejak jaman kuliah dulu yang kita urusi sebenarnya cuma masalah hidup kita
>kasarnya perut kita
>
>saya rasa temen-temen masih inget
>satu hal yang bisa membuat kita berteriak pada jaman kuliah dulu
>adalah MASALAH UANG SAKU,
>atau MASALAH IKATAN DINAS,
>setelah itu apa lagi ? nyaris nggak ada

eit ... kalau saya mah ngaku itu cuman Angk IV dan Angk VII doang ..
Angkatan di bawah kita kisahnya heroik lho Ke ... 8)

>dan kalo isi milis kita hanya ini (masalah nasib kita aja) yg disebut
>bermutu,
>ternyata kita nggak berubah sejak jaman dulu.........

Perasaan nggak ada yg nyebut milis ini bermutu .... malah kesannya
sebaliknya he..he..

>
>trus untuk masalah lain apa pernah kita coba untuk sedikit peduli,
>jangan diskusi yang sulit-sulit masalah otak dibalik kerusuhan ambon
>untuk memikirkan masalah adik-adik kita atau masalah kondisi kampus kita
>saat ini pun
>akhirnya cuma timbul pernyataan seperti dari rekan kita di atas...
>dianggap milis seperti itu tidak bermutu
>yg bermutu mungkin cuma yang menyangkut itu tadi...kerjaan kita, perut
>kita.....

Saya tidak sependapat kalau kita membicarakan nasib sendiri dikatakan tidak
bermutu. Apa salahnya. Toh tidak merugikan orang lain. Lagian, milis ini
juga nggak ngelarang kita bicara masalah IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS atau IPTEK.
Pokoknya topik bebas lah ... Yang nggak bermutu itu yg Asbun. Walau dia
membicarakan ttg masalah negara, kalau Asbun, apa bermutu. Sekarang
parameter 'bermutu' menurut Yoke itu apa ?

>
>padahal semua yg terjadi pada adik-adik kita saat ini
>sebagaian tanggung jawab kita
>karena apa,
>karena sebagai bibit pertama ternyata kita tidak mampu menciptakan pondasi
>yg kokoh
>untuk pijakan masa depan kampus kita, bagi generasi dibawah kita
>apa yg bisa kita tinggalkan pada kondisi kampus kita ????

Hmmm ... saya akui itu benar, tapi apa itu 'an sich' salah Alumni, yg juga
korban dari kesalahan Sistem. Bukan melempar tanggung jawab, tapi nggak fair
dong kalau semua kesalahan ditimpakan ke alumni. Wong saya saja bisa
internet setelah kerja koq 8(. Masih mending adik-adik sekarang udah bisa
segala macem ...
Nah, Yoke kan udah nuduh kita (baca : Alumni) nggak care sama adik kita. Apa
iya semua.... padahal saya tahu persis, Bbrp rekans Alumni secara pribadi
(yg mungkin
nggak banyak omong di milis ini) banyak yg mengusahakan agar adik-adiknya
bisa mendapat keahlian dan kesempatan bekerja di lingkungan kerjanya.
Masalahnya ... belum ter lembaga dan terkoordinir, jadi memang belum
optimal. Jangan sumir menuduh alumni nggak care sama adik nya Ke (walaupun
mungkin ada juga yg gitu) .... tapi memang baru segitu 'mungkin' kemampuan
mereka. Yang udah naek ke SPE atau MAN 13-10 saja baru bbrp gelintir, mau
ngomong apa mereka sama manajemen Telkom (c.q YPT) utk ambil bagian dlm
keputusan.

>
>organsasi SENAT yg ideal, yg mewakili suara orang banyak ?
>nggak...bahkan kita tinggalkan dlm keadaan sekarat.
>unit kegiatan yang menunjang akademis generasi berikutnya ?
>nggak..nggak ada.

Ehm ... ini udah topik yg lain ya ...

>
>mungkin...mungkin semua terjawab sekarang,
>karena pribadi kita seperti tergambar dari tulisan yang paling atas itu :)
>

Saya nggak se skeptis itu ... saya sangat yakin, bahwa segala sesuatunya
harus melalui proses. Memang nggak fair kalau dibandingin sama ITB, UGM,
dll, krn dari banyak segi kita banyak tertinggal dari mereka. Tapi
setidaknya mereka menjadi salah satu referensi kita utk maju. Jadi ..
kritikan, sindiran dsb, mari kita terima dgn sportif ... dan ngga' usah malu
utk disebut masih belajar.

>sorry kalo tulisan saya ini masuk ke katagori "malu-maluin"

Eufimisme ala ORBA ???

>Wassalam
Wa'alaykum Salaam Warahmatullaahi Wabarakaatuh. (semoga kalimat ini bukan
termasuk kata-kata yg sia-sia spt perkataan Pak Johansyah BP)

dp

Kirim email ke