Thank's atas komentarnya.
Mungkin perlu diperjelas bahwa bahasan saya tsb khusus Wartel.
Karena u/ TUC dan TUK kita tetap gunakan 16 KHz.
Sedangkan u/ wartel dengan latar belakang sbb :
Kondisi 1) Bahwa kondisi daerah2 tertentu di daerah pelosok / pedesan
kondisi jaringan kita belum ada jaringan kabel / pembangunan. Sehingga
disiasati dengan WLL atau Ultraphone. Khususnya daerah luar SBY
Kondisi 2) Modul 16 KHz sangat terbatas sekali.
Kondisi 3) Demand daerah tersebut tinggi dan potensi untuk Wartel ( Banyak
TKI =??) dan sekaligus penyedia jasa layanan telp u/ masyarakat sekitar.
Masalah :> Perlunya  Perangkat Wartel yang bisa menghandle problem diatas.
Solusi, sudah ada perangkat tsb dan ada sertifikasi dari Dirjen Postel.
Dari uji coba yang saya lakukan, perangkat tsb memang menggunakan teknik
deteksi 'Reverse Polarity"
Untuk mengantisipasi kelemahan deteksi reverse polarity tsb, perangkat tsb
baru menjalankan charging setelah tiga kali ringing, diberi toleransi untuk
menyamakan dengan B number.
Kalau Telkom mau gentle, kita seharusnya berterima kasih dengan adanya
perangkat tsb. Terus terang perangkat tsb ada karena kekurangsiapan
Telkom-kan ? Karena tidak bisa menyiapkan jaringan di pelosok-pelosok desa,
(untuk kurangnya modul 16 KHz, sementara tidak masalah, no problem), dan
juga menjawab kebutuhan masyarakat pengelola wartel.
Hanya masalahnya bagaimana mengatasi kelemahan teknik deteksi 'reverse
polarity', seperti yang diatas. Atau anda (RISTI) punya
solusi/perangkat/teknik yang lebih bagus ? Kita di DATEL tentu sangat
berterima kasih.

Ok see you.

Barnet

-----Original Message-----
From: Hazim Ahmadi <[EMAIL PROTECTED]>
To: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, March 15, 1999 12:02 PM
Subject: RE: [stttelkom] STRATEGI MARKETING- telum tanpa 16 kHz


>
>
>On Saturday, March 13, 1999 11:10 PM, Barnet
>[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] wrote:


Kirim email ke