----- Original Message -----
| From: Haminullah <[EMAIL PROTECTED]>
| Subject: Re: [stttelkom] Nasib AMPS
| Akan lebih baik jika ada komentar dari teman yang pernah tinggal di sana.


Sebenarnya masalah fase off AMPS di Australia sudah direncanakan jauh
sebelumnya dan dengan perhitungan yang matang. Jadi saya tidak setuju dengan
pendapat rekan Haminullah kalau fase off teknologi ini ditentang di sana. Di
Australia mereka hanya mengijinkan teknologi AMPS, GSM dan DECT. Operator
untuk ketiga teknologi ini juga sama (Telstra, Optus dan Vodafode). Jadi
saat AMPS dimatikan pelanggan tidak terlalu dirugikan dan tidak ada operator
yang dilikuidasi atau dibekuoperasikan.Selain itu pelanggan dimigrasikan
dengan cara yang halus sekali. Mereka ditawari pindah ke sistem GSM dari
operator yang  sama dengan menggantikan Handset mereka dengan biaya yang
murah sekali. Untuk informasi saja, di Australia jarang sekali handset
dijual seperti di Indonesia dengan harga pasar. DI sana setiap kita
langganan selular selalu dengan paket, misalnya jika calon pelanggan berani
membayar dan memakai  pulsa minimal  75 dolar perbulan selama 1,5 tahun,
mereka cukup membayar handset sebesar AU $ 10 dolar (malah ada service
provider yang menawarkan cukup satu dolar saja). Jadi handset di sana hampir
tidak ada harganya. Yang penting bagi operator di sana komitmen pelanggannya
untuk tetap menggunakan jasa operatot ybs. Itulah jika kompetisi sudah
benar-benar terjadi. Sedangkan kerugian yang ada paling dari sisi  operator.
Investasi yang telah mereka tanamkan tidak bisa memberikan revenue ke mereka
lagi.

Alasan lain dimatikannya sistem AMPS ini adalah untuk men-switch alokasi
frekuensi yang tadinya diduduki AMPS bisa dipindahkan ke sistem GSM sehingga
akan menambah kapasitas pelanggannya. Nah hal terakhir ini yang menjadi
salah satu alasan kuat Australian Telecommunication Authority ketika
memutuskan untuk mematikan sistem AMPS di Australia.

Hal ini berbeda sekali dengan Indonesia yang menerapkan banyak sekali
teknologi selular dengan banyak operator. Banyaknya teknologi dan operator
selular ini membuat masalah untuk alokasi frekuensi yang  sangat terbatas.
Pemerintah dalam memberikan ijin/lisensi berdasarkan teknologi yang dipilih
bukan ijin bidang usaha. Jadi Telkomsel diijinkan untuk menggunakan
teknologi GSM dan tidak otomatis bisa AMPS dan CDMA. Apa karena hal ini
terjadi karena masih kentalnya nuansa KKN saat pemberian ijin dahulu.
Semakin banyak teknologi berarti semakin banyak operator dan semakin banyak
lisensinya. Jadi semakin banyak pula kantong penguasa (?) Untuk kasus di
Indonesia tentu saja akan sangat merepotkan jika hal ini terjadi karena sama
saja dengan melikuidasi operator tsb dan tentu saja merugikan pelanggannya.


DEDI SUHERMAN
PRANPERTEK - DITPRANTEK
PT TELEKOMUNIKASI INDONESIA, TBK.
PHONE : +62-22-4526314
FAX       : +62-22-7106561
EMAIL   : [EMAIL PROTECTED]


Kirim email ke