Kalau takut, mari kita dengarkan para tokoh berbicara : (dikutip dari
Mailing List Isnet dgn nama pengirim : Muhammad Budhi Purwanto
<[EMAIL PROTECTED]>
'dp'
MEREKA BICARA TENTANG
MEGA==========================
Dr. Arief Budiman (Aktivis Demokrasi):--------------------------------------
"Kita tidak bisa memahami kenapa saat mahasiswa membutuhkan
kehadiran Mega di Semanggi, kok kita hanya mendapat pesan
dari Satpamnya bahwa Mega tidak bisa diganggu karena sedangtidur".
-Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999
Nursyahbani K. (Ketua LBH APIK):
--------------------------------
1. "Terus-terang saya sampai gemes sekali dengan sikap
diamnya. Waktu mahasiswa ke DPR, Mega tidak menyatakanapapun".
2. "Untuk jadi presiden, kapasitas Mega masih kurang. Ini
terutama (berkaitan) dengan kondisi Indonesia seperti
sekarang ini. Kita sekarang memerlukan pemimpin yang
kreatif dan penuh inovasi. Dan Mega belum mempunyai
kedua-duanya. Mega itu feodal".-Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999
Rachmat Witoelar (Barnas):--------------------------
"Kita memang kecewa dengan sikap politik Mega yang terlalu
banyak diam. Padahal banyak kejadian politik yang mestinya
memerlukan tanggapan dia sebagai ketua partai"-Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999
Dr.J.Kristiadi (Direktur Eksekutif CSIS):
-----------------------------------------
"Megawati jangan hanya diam saja. Pola silent is golden
bisa menjadi bumerang. Kalau begitu terus pamor Megawati
bisa runtuh. Apa yang selama ini dilakukan Megawati? Apa
sikap politiknya? Semuanya kan belum ada. Contohnya, saya
belum pernah dengar Megawati merespon secara gigih ancaman
praktek money politics"-Republika, Edisi 24 Februari 1999
Kwik Kian Gie (Ketua Litbang PDI Perjuangan):
---------------------------------------------
"Mbak Mega memang diragukan kemampuannya. Tapi yang terpen-
ting kan apakah pemimpin bangsa itu bisa dipercaya rakyat,
permintannya dituruti rakyat atau tidak"-Panji, Edisi 15 Juli 1999
Vedi R. Hadiz (Peneliti LIPI):------------------------------
"Mega telah terlambat start untuk menarik simpati rakyat.
Saat rakyat hendak terperangkap ke jurang krisis, Mega
hanya diam. Giliran dia ngomong, justru melarang masyarakat
menghujat Soeharto. Itu kan jauh dari substansi".-Panji, Edisi 15 Juli 1999
Syamsudin Haris (Peneliti LIPI):--------------------------------
"Megawati sebetulnya tidak punya banyak pilihan politik.
Gagasannya mengenai masa depan bangsa dan pemulihan krisis
ekonomi juga belum begitu jelas. Saya khawatir pilihan-
pilihan politiknya kelak akan mengecewakan calon pendukung-
nya. Contoh yang paling jelas, sejauh yang saya baca, PDI
Perjuangan tidak punya sikap yang jelas dalam dua soal:
dwifungsi ABRI dan pengusutan harta Soeharto"-Detak, Edisi 13-19 Oktober
1999
Dr. Jeffrey Winters (Pengamat Politik dari AS):
-----------------------------------------------
"Saya kira Megawati punya beberapa kesalahan. Pertama,
komunikasi politik dia memang kurang. Kedua, dia masih
terlalu jauh dari rakyatnya".-Adil, Edisi 20-26 Januari 1999
Permadi (paranormal):---------------------
"Saya harus jujur, bahwa dia (red. Megawati) masih hanya
menjadi pemimpinnya PDI, bukan Indonesia".-Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999
Ratna Sarumpaet (Ketua Badan Pekerja Koalisi Nasional):
-------------------------------------------------------
1. "Akhir-akhir ini banyak sekali kejadian penting. Tapi
kita mendengar tidak suara beliau. Mega selalu mengata-
kan ini saatnya merenung. Kalau kondisinya seperti ini,
rakyat diajak merenung, ya repot dong. Peristiwa Ambon,
kalau hanya diajak merenung, repot".
2. "Ada banyak sekali ukuran untuk menjadi calon pemimpin.
Salah satunya, ya berbicara. Jadi jangan salahkan saya
kalau saya butuh pembuktian bahwa calon Presiden itu
(red. Megawati) memang layak"
3. "Ketika misalnya kita mempertanyakan ABRI di DPR, tim
(yang di sekeliling Megawati) itu juga diam saja. Jadi,
tim yang solid itu ternyata juga tidak pernah mengelu-
arkan pernyataan berbobot yang mewakili PDI Perjuangan".
4. "Jangan nanti kita seperti membeli kucing dalam karung.
Hanya dibilang, oh ini yang ada dalam karung anaknya
pendiri republik. Masa hanya seperti itu"-Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999
Arbi Sanit (Pengamat Politik):------------------------------
1. "Dia (red. Megawati) bereaksi lamban terhadap persoalan
krusial apa pun. Ia terlalu hati-hati, karena memang
secara pribadi tidak menguasai masalah. Ini kelemahan
utama sebagai calon presiden. Respon politiknya lamban.
Padahal ini persyaratan minimal. Jadi Mega memang masihdibawah standar"
2. "Tidak cukup (dengan didampingi tim yang solid), ada
persyaratan minimal (untuk menjadi presiden). Kalau
persyaratan minimal itu saja Mega dibawah standar,bangsa ini mau dibawa
kemana".
-Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999
Eep Saefulloh Fatah (Pengajar & Peneliti di FISIP UI):
------------------------------------------------------
"Pekan lalu, Mbak Mega sudah memberikan penjelasan tentang
sikap diamnya, bahwa ia tidak ingin membuat masyarakat
lebih bingung lantaran terlalu banyaknya irang bicara. Saya
terus-terang tidak bisa menerima logika penjelasan itu.
Menurut saya, di tengah lalulintas isu yang sangat padat,
ketika banyak sekali suara terdengar, justru dibutuhkan
pandangan-pandangan yang jernih dan menyejukkan dari para
(calon) pemimpin. Setiap orang sebetulnya berhak melarikan
diri menjauh dari lalulintas isu yang bising ini. Tetapi,
hak itu sebaiknya tidak diberlakukan leluasa bagi para
(calon) pemimpin. Mereka seyogyanya ada di tengah laulintas
yang bising itu dan melakukan langkah-langkah proaktif
didalamnya untuk menghindari kemacetan total".-Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999
Manai Sophian (Mantan Tokoh PNI; Ayahanda Sophan Sophian):
----------------------------------------------------------
1. "Saya pikir Mega memang lebih baik banyak diam. Daripada
banyak omong, tapi membuat bingung orang. Kalau banyakomong, dia bisa
salah".
2. "Tim (yang disekeliling Mega) ini bisa membantu Mega
dalam menjalankan negara nati. Berbeda dengan Bung
Karno, ia kuat karena kekuatan itu hampir semuanyadatang dari pribadinya"
-Tekad, Edisi 15-21 Maret 1999
MARI SIMAK MEGA BICARA======================
1. "Saya tidak percaya kalau Pak Harto terus dihujat.
Karena ini tidak selaras dengan nilai-nilai Pancasila.
Hati saya merasa tertusuk dengan adanya hujatan kepada
Pak Harto dan ini harus dihentikan"- (1 Juni 1998 di Jakarta)
2. "Tolong itu mahasiswa segera mengembalikan tenda yang
dipakai untuk kemah di rumah saya. Karena itu sangat
mengganggu kinerja PDI Perjuangan"
- (November 1998 saat jumpa pers dengan wartawan seusai
pertemuan Deklarasi Ciganjur)
3. "Saya keberatan Timtim dilepas dengan alasan terlalu
membebani bangsa Indonesia. Apa pun Timtim adalah bagian
dari Indonesia. Timtim harus dipertahankan sebagai
bagian dari wilayah negara kesatuan"
4. "Masalah ini adalah persoalan Pak Theo pribadi. Sama
sekali bukan urusan PDI Perjuangan. Untuk itu biar Pak
Theo sendiri yang menyelesaikannya".- (10 Januari 1999 di Jakarta)
5. "Kita menolak adanya usulan negara federasi. Karena
nanti akan merepotkan. Nanti untuk berjalan ke provinsi
lain, kita harus mempunyai paspor".- (27 Februari 1999 di Jakarta)
6. "Terlalu banyak yang bicara. Saya ingin menunjukkan
sikap konkret demi kecintaan saya kepada negeri ini
dengan mengambil sikap diam. Tetapi, orang malah balik
bertanya, kok aneh. Padahal, diam itu merupakan sikappolitik juga".
- (2 Maret 1999 di Medan)7. "Saya dicemooh karena hanya bisa senyum-senyum.
Dan
methenteng (red. terpaku) diam, tidak ada suaranya. Saya
dianggap planga-plongo (red. bodoh), dan sebagainya.
Nah, kalau kalian mendengarkan cemoohan seperti itu,
kalian jangan lantas panas hatinya. Saya anjurkan kalian
menjawabnya cukup hanya dengan tersenyum saja".- (7 Maret 1999 di Surabaya)
-----Original Message-----
From: Eva Kurnia D <[EMAIL PROTECTED]>
To: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tuesday, April 06, 1999 1:45 AM
Subject: RE: [stttelkom] Re: [Kuli Tinta] Pengakuan Wanita Banteng
>Aku pengin komentar, tapi takut-e.
>Nanti dibilang SARA lagi. Soale kan ini menyangkut keyakinan seseorang,
>dalam hal ini terhadap suatu parpol.
>
>Eva Kurnia Damayanti
>Sisfo Kandatel Bandung
>Telp : 022-4540170
>Fax : 022-437595